Direktur Sino-Nusantara Institute Temui Mao Ning di Beijing, Perkuat Diplomasi Indonesia–Tiongkok

Bersama 20 delegasi alumni Indonesia, Ahmad Syaifudin Zuhri mengikuti kunjungan budaya dan akademik di Beijing dan Chongqing untuk memperluas jejaring serta memperkuat diplomasi antarmasyarakat Indonesia–Tiongkok.

- Penulis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sebanyak 20 delegasi alumni Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok menggelar cultural and academic visit ke Beijing dan Chongqing pada 10–16 Oktober 2026.(Dok. Istimewa)

Sebanyak 20 delegasi alumni Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok menggelar cultural and academic visit ke Beijing dan Chongqing pada 10–16 Oktober 2026.(Dok. Istimewa)

SUARAMUDA.NET, BEIJING — Diplomasi Indonesia–Tiongkok tak hanya berlangsung di meja perundingan pemerintah. Kalangan akademisi, profesional, dan jejaring alumni juga ikut mengambil peran dalam memperkuat hubungan kedua negara.

Salah satunya dilakukan Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri, yang mengikuti agenda cultural and academic visit bersama 20 delegasi alumni Indonesia di Beijing dan Chongqing, Tiongkok, pada 10–16 Oktober 2026.

Salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah pertemuan dengan Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, di Beijing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Indonesia–Tiongkok melalui diplomasi budaya, pertukaran akademik, serta pengembangan jejaring profesional lintas negara.

Bagi Sino-Nusantara Institute, keterlibatan dalam agenda tersebut juga membuka ruang untuk memperluas komunikasi dan pertukaran gagasan mengenai hubungan bilateral Indonesia–Tiongkok.

Temui Mao Ning, Serahkan Dua Buku Hubungan Indonesia–Tiongkok

Dalam pertemuan dengan Mao Ning, delegasi menyerahkan dua buku yang mengulas perjalanan hubungan Indonesia–Tiongkok, yakni ‘Hubungan Bilateral 75 Tahun Indonesia–Tiongkok‘ yang terbit pada 2025 dan ‘Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan‘ yang terbit pada 2026.

Kedua buku tersebut ditulis Budy Sugandi bersama sejumlah penulis lainnya. Isinya merekam perjalanan persahabatan kedua negara sekaligus mengulas peluang pengembangan kerja sama pada masa mendatang.

Budy Sugandi mengatakan, kedua buku tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga referensi untuk memperluas pemahaman mengenai hubungan Indonesia–Tiongkok.

Baca Juga :  Dorong Semarang Jadi Titik Temu Peradaban Dunia, Direktur Sino-Nusantara Institute: Gass!
Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri, saat menghadiri cultural and academic visit ke Beijing dan Chongqing pada 10–16 Oktober 2026.(Dok. Istimewa)

“Lebih dari sekadar dokumentasi sejarah, kedua buku itu diharapkan dapat menjadi referensi untuk memahami perjalanan persahabatan kedua negara, termasuk peluang memperluas kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, riset, dan pembangunan sumber daya manusia,” ujar Budy.

Penyerahan buku tersebut menunjukkan bahwa kontribusi intelektual juga dapat menjadi bagian dari diplomasi. Melalui publikasi dan pertukaran gagasan, hubungan kedua negara dapat diperkuat dengan pemahaman yang lebih luas mengenai sejarah, dinamika, dan peluang kemitraan.

Direktur Sino-Nusantara Institute Gabung Delegasi Lintas Sektor

Ahmad Syaifudin Zuhri mengikuti kunjungan tersebut bersama para profesional Indonesia yang kini berkiprah di berbagai sektor, mulai dari pendidikan tinggi, organisasi keagamaan, hingga riset dan inovasi.

Sejumlah delegasi yang turut serta antara lain KH Imron Hamid, Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang sekaligus Ketua PBNU; Budy Sugandi, Kepala Buperta Pramuka; Muhammad Aziz, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah; serta Arafat Febriandirza, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Keberagaman latar belakang tersebut menjadi modal untuk membangun kerja sama lintas bidang. Pengalaman menempuh pendidikan di Tiongkok juga dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan institusi, memperluas jejaring profesional, dan mendorong kolaborasi yang relevan bagi Indonesia.

Dalam bidang pendidikan tinggi, jejaring alumni berpotensi membuka peluang kemitraan antarkampus, pertukaran akademisi, dan pengembangan program pendidikan bersama. Sementara di sektor riset dan inovasi, hubungan lintas negara dapat memperluas pertukaran pengetahuan serta pengalaman.

Baca Juga :  GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta

Bagi lembaga yang bergerak dalam kajian hubungan Indonesia–Tiongkok seperti Sino-Nusantara Institute, jejaring lintas sektor tersebut juga relevan untuk memperkaya perspektif dan mendorong dialog mengenai perkembangan hubungan bilateral.

Diplomasi Bukan Cuma Urusan Pemerintah

Kunjungan ke Beijing dan Chongqing turut menyoroti pentingnya people-to-people diplomacy atau diplomasi antarmasyarakat dalam hubungan Indonesia–Tiongkok.

Diplomasi tidak selalu berlangsung melalui pertemuan resmi antarpemerintah. Pertukaran akademik, kolaborasi penelitian, kegiatan kebudayaan, dan hubungan profesional juga menjadi jalur untuk membangun pemahaman serta kepercayaan masyarakat kedua negara.

Dalam konteks ini, alumni pendidikan Tiongkok memiliki posisi strategis. Mereka tidak hanya membawa pengalaman akademik, tetapi juga pemahaman tentang lingkungan sosial dan budaya yang dapat membantu mempertemukan perspektif Indonesia dan Tiongkok.

Jejaring yang terbentuk selama masa studi dapat dikembangkan menjadi kolaborasi nyata setelah para alumni kembali berkiprah di Indonesia. Bentuknya mencakup kerja sama pendidikan, penelitian bersama, pertukaran kebudayaan, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Selama tujuh hari, delegasi mengunjungi Beijing sebagai pusat pemerintahan Tiongkok dan Chongqing yang dikenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi serta industri negara tersebut.

Melalui rangkaian cultural and academic visit ini, para delegasi diharapkan dapat memperluas jejaring kerja sama dan memperkuat hubungan masyarakat Indonesia–Tiongkok.

Pengalaman pendidikan internasional pun diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian individu, tetapi berkembang menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan penguatan kemitraan kedua negara. (Red)


Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemilu 2029 Masih Jauh, Tapi Kok Golkar, PAN dan PKB Udah Kasih Dukungan ke Prabowo?
Bali Jadi Tuan Rumah New Asia Forum, Indonesia Bidik Investor Kelas Kakap
Kebangetan! Rp863 Miliar Ludes di Kasus Motor Listrik MBG, Ribuan Unit Malah Tanpa Baterai!
HIMPASS PAI UIN Sunan Kalijaga Kenalkan Pengurus Baru, Bawa Semangat Satu Ukhuwah!
Rifan Jerawut dan Natriyana Nde’e Terpilih Pimpin IMKKAR Raya Periode 2026/2027
Kuliah Terbuka Aqobah Kupas Isu LGBT dari Perspektif Fikih dan Hukum Negara
Golkar: Pileg, Pilpres, dan Pilkada Baiknya Digelar Terpisah!
Riset Kampus Tak Boleh Cuma Berakhir di Jurnal, Kini Harus Pecahkan Masalah Nyata!
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Direktur Sino-Nusantara Institute Temui Mao Ning di Beijing, Perkuat Diplomasi Indonesia–Tiongkok

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Pemilu 2029 Masih Jauh, Tapi Kok Golkar, PAN dan PKB Udah Kasih Dukungan ke Prabowo?

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:02 WIB

Bali Jadi Tuan Rumah New Asia Forum, Indonesia Bidik Investor Kelas Kakap

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:50 WIB

Kebangetan! Rp863 Miliar Ludes di Kasus Motor Listrik MBG, Ribuan Unit Malah Tanpa Baterai!

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:23 WIB

HIMPASS PAI UIN Sunan Kalijaga Kenalkan Pengurus Baru, Bawa Semangat Satu Ukhuwah!

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (The Nation)

KILAS GLOBAL

Gokil! Trump Mau Ganti Nama Samudra Atlantik Jadi Samudra Trump

Senin, 12 Okt 2026 - 15:28 WIB