SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Penelitian kampus kini dituntut naik level. Bukan sekadar menghasilkan jurnal ilmiah atau menumpuk laporan, riset perguruan tinggi harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perubahan arah kebijakan riset agar lebih berorientasi pada kebutuhan industri, pemerintah daerah, hingga investor.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan pendekatan baru ini menekankan pathway to impact, yakni kejelasan jalur agar hasil penelitian benar-benar bisa diterapkan dan memberi manfaat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebijakan tersebut juga mendorong kolaborasi lintas disiplin. Misalnya, riset pertanian tak hanya melibatkan ahli pertanian, tetapi juga peneliti teknologi drone dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas lahan.
Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah menyiapkan dua jalur pendanaan. Pertama, program riset prioritas melalui APBN dengan anggaran sekitar Rp50 juta hingga Rp500 juta per tahun.
Kedua, program riset strategis melalui LPDP, dengan pendanaan yang dapat mencapai lebih dari Rp2 miliar per tahun.
Lewat perubahan ini, kampus diharapkan tak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga motor inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Tantangannya kini jelas, yakni bagaimana hasil riset bisa keluar dari ruang akademik dan benar-benar menyelesaikan masalah di lapangan? (Red)













Komentar