SUARAMUDA.NET, JOMBANG — Orientasi mahasiswa baru tak melulu soal perkenalan, permainan, atau membangun keakraban. Hello Communication (Hellcom) Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari justru menghadirkan ruang belajar untuk mengasah kemampuan berbicara di depan publik.
Melalui seminar komunikasi di Aula Pascasarjana Gedung A Universitas Hasyim Asy’ari pada 24 September 2026, mahasiswa baru diajak memahami pentingnya retorika dalam membangun kredibilitas sebagai calon komunikator.
Mengusung tema “Membangun Kredibilitas Mahasiswa KPI Melalui Retorika yang Berdampak”, seminar ini menghadirkan dosen KPI Universitas Hasyim Asy’ari, Robi’ah Machtumah Malayati, sebagai pemateri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Robi’ah, retorika bukan sekadar seni berbicara agar terdengar lancar dan meyakinkan. Lebih dari itu, retorika membantu seseorang menyusun pesan yang membuat audiens percaya, memahami gagasan, hingga tergerak melakukan sesuatu.
“Karena membahas retorika yang berdampak, maka kita tidak akan membahas retorika yang berhenti di situ saja,” jelas Robi’ah.
Lima Langkah agar Pesan Tak Sekadar Lewat
Lantas, bagaimana membuat pesan benar-benar berdampak? Robi’ah menjelaskan lima langkah penting dalam menyusun pesan.
Pertama, menguraikan masalah yang sedang terjadi. Kedua, menjelaskan alasan mengapa masalah tersebut perlu dibahas. Ketiga, menghadirkan bukti pendukung berupa fakta dan data yang valid.
Keempat, menyampaikan inti gagasan beserta solusi yang ditawarkan. Kelima, mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan sesuai tujuan komunikasi.
Artinya, berbicara dengan baik bukan hanya soal memilih kata-kata yang keren. Pesan juga harus punya arah, dasar yang kuat, dan tujuan yang jelas.
Ethos, Logos, Pathos: Kunci Membangun Kepercayaan
Selain menyusun pesan secara sistematis, komunikator juga perlu memahami tiga elemen penting dalam retorika, yakni ethos, logos, dan pathos.
Ethos berkaitan dengan kredibilitas pembicara. Logos menekankan penggunaan logika, fakta, dan data untuk memperkuat argumen.
Sementara itu, pathos berkaitan dengan kemampuan menyentuh emosi serta menghubungkan pesan dengan kebutuhan audiens.
Ketiganya saling melengkapi. Kredibilitas membuat pembicara layak dipercaya, data memperkuat argumen, dan kedekatan dengan audiens membantu pesan terasa relevan.
Namun, pesan yang kuat juga membutuhkan elemen pendukung. Robi’ah menyoroti pentingnya data untuk memperkokoh argumen, cerita agar pesan mudah diingat, serta analogi untuk menjelaskan hal rumit dengan cara yang lebih sederhana.
Ada pula kontras untuk memperjelas perbedaan, jeda untuk memberi ruang bagi audiens mencerna informasi, dan bahasa tubuh untuk memperkuat makna yang disampaikan.
Dengan kombinasi tersebut, komunikasi tak sekadar menjadi aktivitas menyampaikan informasi, tetapi juga sarana membangun pemahaman dan mendorong perubahan.
Mahasiswa Baru Jangan Cuma Jadi Penonton
Dalam sesi wawancara, Robi’ah berpesan agar mahasiswa baru memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin.
Waktu di kampus bisa menjadi kesempatan untuk belajar, berkarya, membangun portofolio, dan mengembangkan bakat sesuai bidang masing-masing.
Ia juga mendorong mahasiswa menerapkan rumus ATM: amati, tiru, dan modifikasi. Bukan sekadar mengikuti orang lain, melainkan belajar dari pengalaman yang sudah ada, lalu mengembangkannya menjadi karya sendiri.
“Manfaatkan waktu kuliah dengan baik, ambil semua peluang yang ada untuk mengasah bakat kita di bidang masing-masing,” pungkasnya.
Melalui Hellcom, mahasiswa baru KPI Universitas Hasyim Asy’ari diharapkan tak hanya mengenal lingkungan kampus, tetapi juga mulai membangun bekal sebagai komunikator yang kritis, kredibel, dan mampu menyampaikan gagasan dengan dampak nyata. (Red)














Komentar