SUARAMUDA.NET, SAMPANG — Siapa sangka, usus ayam yang selama ini kerap dipandang sebelah mata ternyata bisa menjadi ladang cuan?
Peluang itulah yang coba dibidik Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur bersama siswa SMK Pondok Pesantren Nazhatut Thullab, Prajjan, Camplong, Sampang, Madura.
Lewat program bertajuk “Inkubasi Bisnis Produk Olahan Usus Ayam sebagai Upaya Penguatan Jiwa Wirausaha Siswa SMK di Lingkungan Pondok Nazhatut Thullab Sampang, Madura”, para siswa diajak naik kelas: bukan sekadar mengenal bahan pangan, tetapi juga belajar mengubah hasil samping peternakan menjadi produk yang punya nilai jual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Usus ayam yang biasanya dijual mentah dengan harga relatif rendah, kini diperkenalkan dalam berbagai bentuk olahan seperti nugget, sosis, dan keripik usus.
Tak berhenti di dapur produksi, siswa juga dibekali kemampuan pemasaran digital atau online marketing agar produk yang dibuat tidak berhenti sebagai tugas pelatihan.
Bahan Baku Melimpah, Jangan Sampai Cuma Dijual Mentah
Potensi bahan bakunya sebenarnya cukup besar. Pondok Pesantren Nazhatut Thullab memiliki aktivitas pemotongan ayam sekitar 80–100 ekor per hari.
Dari aktivitas tersebut, dihasilkan sekitar 8–12 kilogram usus ayam setiap hari, atau berkisar 240–360 kilogram per bulan.
Angka itu menunjukkan satu hal: bahan baku tersedia secara rutin. Persoalannya, sebagian besar usus masih dijual dalam kondisi mentah sehingga nilai ekonominya belum maksimal.
Di sinilah tim PkM UPN Veteran Jawa Timur melihat celah untuk mendorong diversifikasi produk.
Alih-alih menjual bahan mentah, usus ayam dapat diolah, dikemas, diberi merek, kemudian dipasarkan sebagai produk pangan siap jual.
“Program ini diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi mitra untuk membangun usaha olahan usus ayam yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Andre.
Menurutnya, ketersediaan bahan baku yang rutin semestinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nilai tambah sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi siswa SMK.
Belajar Produksi Sekaligus Belajar Jualan
Menariknya, pelatihan tidak hanya berkutat pada bagaimana mengolah usus ayam menjadi makanan.
Siswa juga dikenalkan dengan aspek yang sering menjadi titik lemah usaha pemula: kemasan dan pemasaran.
Tim memberikan pelatihan desain kemasan, penyusunan label, pemilihan jenis kemasan, hingga strategi memperluas pemasaran melalui media sosial.
Kemasan tidak diposisikan sekadar sebagai “pemanis”. Desain yang tepat diharapkan mampu meningkatkan daya tarik produk ketika dipajang sekaligus membantu memperpanjang umur simpan.
Sementara itu, media sosial dipandang sebagai pintu masuk untuk memperluas pasar. Dengan pemasaran digital, produk tidak harus berhenti beredar di lingkungan sekolah atau pesantren, tetapi berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Anggota tim yang memiliki kepakaran di bidang kewirausahaan dan pemasaran, Laily Nur Aini, M.E., juga mendorong siswa agar lebih jeli melihat potensi ekonomi di lingkungan sekitar.
“Jangan melihat usus ayam hanya sebagai hasil samping yang bernilai rendah. Dengan kreativitas, pengemasan yang menarik, dan strategi pemasaran yang tepat, bahan sederhana dapat menjadi produk yang memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasar,” katanya.
Dari Kelas ke Dunia Usaha
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha.
Siswa tidak hanya dituntut mampu membuat produk, tetapi juga diajak memahami bahwa sebuah bisnis membutuhkan rangkaian proses: mulai dari melihat peluang, mengolah bahan baku, menjaga kualitas, membuat kemasan, membangun merek hingga memasarkan produk.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini relevan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya pengembangan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Di sisi lain, program ini juga mendukung SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, termasuk melalui penciptaan peluang kerja bagi generasi muda.
Sinergi antara UPN Veteran Jawa Timur dan SMK Pondok Pesantren Nazhatut Thullab pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni pelatihan.
Target besarnya adalah lahirnya produk olahan usus ayam yang benar-benar bisa dijalankan sebagai usaha, sekaligus tumbuhnya keberanian siswa untuk menjadi pelaku wirausaha.
Sebab, dari bahan yang selama ini dianggap “sisa”, ternyata bisa lahir sebuah ide bisnis. Tinggal bagaimana kreativitas, kualitas produk, dan strategi pemasaran bekerja bersama untuk mengubahnya menjadi peluang ekonomi. (Red)














Komentar