SUARAMUDA.NET, EKATERINBURG — Di sela-sela kesibukan membuka Paviliun Indonesia pada ajang INNOPROM 2026, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, tidak menyia-nyiakan momentum untuk menggelar serangkaian pertemuan bilateral tingkat tinggi dengan sejumlah negara dan wilayah di kawasan Eurasia.
Di hari pertama pelaksanaan pameran industri yang berlangsung di Yekaterinburg Expo tersebut, Menperin secara berturut-turut bertemu dengan delegasi dari Republik Armenia, Republik Belarus, Republik Kazakhstan, Republik Kyrgyzstan, serta Rais (Kepala) Republik Tatarstan, yang merupakan bagian dari Federasi Rusia.
Rangkaian pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Indonesia di INNOPROM 2026 tidak sekadar seremonial, melainkan sarat dengan agenda diplomasi ekonomi yang konkret dan terukur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan bilateral pertama dilangsungkan dengan delegasi Armenia, di mana kedua pihak membahas potensi kerja sama di sektor pengolahan logam dan produk-produk berbasis teknologi tinggi.
Armenia, yang dikenal memiliki basis industri pertahanan dan teknologi informasi yang berkembang, menunjukkan ketertarikannya untuk menjajaki kemitraan dengan Indonesia dalam pengembangan komponen elektronik serta peralatan medis.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan Belarus, pembahasan difokuskan pada kerja sama di bidang industri mesin pertanian dan alat berat, mengingat Belarus memiliki keunggulan komparatif di sektor tersebut dan Indonesia sebagai negara agraris besar membutuhkan modernisasi peralatan pertanian untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Pertemuan dengan Kazakhstan menjadi salah satu yang paling menarik perhatian, mengingat Kazakhstan adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tengah dan memiliki sumber daya mineral yang melimpah.
Kedua belah pihak sepakat untuk memperluas kerja sama di industri pengolahan mineral dan petrokimia, termasuk potensi investasi silang di bidang hilirisasi tambang.
Indonesia menawarkan pengalamannya dalam pengolahan nikel, bauksit, dan timah, sementara Kazakhstan menawarkan akses ke teknologi pengolahan uranium dan logam tanah jarang yang semakin strategis bagi industri global.
Delegasi Kyrgyzstan, meskipun mewakili pasar yang lebih kecil, menyampaikan minatnya untuk menjalin kerja sama di bidang industri tekstil dan produk kulit, sektor yang selama ini menjadi andalan Indonesia di pasar ekspor.
Yang tak kalah penting adalah pertemuan dengan Rais Tatarstan, Rustam Minnikhanov, yang berlangsung hangat dan penuh substansi. Tatarstan dikenal sebagai salah satu kawasan industri paling maju di Rusia dengan kekuatan di bidang petrokimia, manufaktur pesawat, dan otomotif.
Dalam pertemuan tersebut, Menperin Agus Gumiwang menyampaikan bahwa Tatarstan merupakan pintu masuk yang strategis bagi Indonesia untuk memperluas akses ke pasar Rusia bagian Eropa, mengingat posisi geografisnya dan infrastruktur logistiknya yang memadai.
Kedua pihak sepakat untuk membentuk kelompok kerja bersama yang akan memetakan peluang kerja sama spesifik di bidang suku cadang otomotif, bahan kimia turunan, dan pengembangan kawasan industri terpadu.
Di setiap pertemuan, Menperin Agus Gumiwang secara konsisten menyampaikan bahwa Indonesia terbuka untuk kerja sama di semua tingkatan, mulai dari transfer teknologi, peningkatan sumber daya manusia, hingga pembentukan usaha patungan (joint venture) yang dapat mempercepat hilirisasi industri di tanah air.
Ia juga menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi dan standardisasi produk agar arus perdagangan dan investasi antar negara dapat berjalan lancar.
Respon positif datang dari seluruh mitra yang ditemui, yang pada umumnya menyatakan kekaguman terhadap pencapaian ekonomi Indonesia serta optimisme terhadap prospek kerja sama yang lebih erat di masa depan.
Seluruh rangkaian pertemuan ini berlangsung di area Paviliun Indonesia, yang dirancang sebagai pusat komunikasi dan negosiasi bisnis. Dengan demikian, paviliun tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pameran produk, tetapi juga sebagai ruang kerja diplomatik dan ekonomi yang dinamis.
Para pengunjung yang hadir pun dapat menyaksikan secara langsung bagaimana Indonesia memanfaatkan INNOPROM 2026 sebagai platform untuk memperkuat jaringan ekonomi di kawasan Eurasia, yang selama ini mungkin belum tergarap secara maksimal.
Ke depan, hasil dari pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan kunjungan balasan, penandatanganan nota kesepahaman, hingga realisasi proyek-proyek industri yang nyata.
Paviliun Indonesia akan tetap terbuka hingga 9 Juli 2026, dan pemerintah Indonesia mengajak semua pemangku kepentingan, baik dari sektor publik maupun swasta, untuk terus mengunjungi paviliun guna menggali lebih dalam peluang kerja sama dan investasi.
INNOPROM 2026 bagi Indonesia bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru kemitraan industri yang lebih erat dengan seluruh kawasan Eurasia, sebuah langkah strategis di tengah persaingan global yang semakin kompleks dan penuh tantangan. (Red)
Penulis : Amy Maulana
Editor : DT Atmaja














Komentar