Sulap Sampah Jadi Rupiah, Pemuda Disabilitas Sukoharjo Sukses Gelar Pameran Seni Ekologis dan Resmikan Unit Usaha

"Berawal dari limbah kertas, 100 pemuda disabilitas di Sukoharjo berhasil menciptakan topeng wayang bernilai ekonomi, menggelar pameran seni ekologis, sekaligus meresmikan unit usaha sebagai langkah menuju kemandirian dan pelestarian lingkungan"

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026 - 08:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Sebanyak 100 pemuda penyandang disabilitas di Kabupaten Sukoharjo berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berkontribusi bagi lingkungan dan ekonomi.

Mengubah limbah kertas yang tak berharga menjadi mahakarya topeng wayang bernilai jual, karya mereka resmi dipamerkan ke hadapan publik dalam acara “Gelar Karya Seni Budaya Ekologis & Pembentukan Unit Usaha Kelompok” di Pendopo Balai Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, pada Selasa (23/6/2026) malam.

Kegiatan pameran yang megah ini merupakan puncak dari rangkaian program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program inovatif ini menyasar pemuda disabilitas yang bernaung di bawah Sanggar Inklusi Permata Hati, dan terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Selain pameran seni kriya, malam perayaan tersebut juga dimeriahkan dengan pementasan kebudayaan kolaboratif dari Sanggar Tari Jatisobo dan iringan karawitan Laras Madya Ngesti Swara.

Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak berlapis.

Baca Juga :  Cek di Sini, Program 100 Hari Agustin-Iswar yang Baru-baru Ini Diluncurkan

“Malam Gelar Karya ini menjadi bukti otentik bahwa kelompok penyandang disabilitas mampu bertransformasi menjadi wirausahawan sosial yang tangguh. Dengan mengganti medium ukir kayu menjadi bubur kertas (pulp), kita tidak hanya membuat proses produksi menjadi ramah disabilitas, tetapi juga melakukan aksi nyata mereduksi limbah padat. Langkah ini adalah kontribusi langsung kita di tingkat akar rumput untuk mendukung target iklim nasional FOLU Net Sink 2030,” jelas Fadhel Moubharok Ibni Faisal.

Selain ajang pameran yang sukses mencatatkan transaksi penjualan dari masyarakat dan kolektor, malam tersebut juga menjadi momen bersejarah dengan dideklarasikannya “Unit Usaha Kelompok Sanggar Permata Hati”.

Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih, yang selama ini mendampingi proses belajar para peserta, mengungkapkan rasa haru melihat perubahan pesat pada anak-anak didiknya.

“Sebelum adanya program ini, anak-anak kami sering merasa tidak percaya diri dan ruang geraknya sangat terbatas. Namun, berkat pendampingan dari YAKABI dari hulu ke hilir mulai dari memilah sampah hingga memasarkan produk di media sosial mereka kini menyadari potensinya. Unit usaha yang diresmikan malam ini akan menjadi rumah pemberdayaan bagi mereka untuk terus berkarya, menghasilkan pendapatan sendiri, dan mengangkat martabat keluarga,” ungkap Listri Sedyaningsih.

Baca Juga :  Santri Hebat! IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Hari Santri Nasional Lewat Porseni Seru Bareng Pergunu

Dukungan penuh juga disampaikan oleh jajaran pemerintahan desa yang melihat dampak positif program ini secara langsung bagi kebersihan dan pelestarian budaya lokal. Kepala Desa Jatisobo, Darmanto, menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.

“Kami selaku pemerintah desa sangat bangga melihat semangat anak-anak Sanggar Inklusi Permata Hati. Inovasi ini sangat brilian karena membantu desa mengatasi masalah limbah kertas yang biasanya hanya dibakar dan memicu polusi, sekaligus melestarikan budaya kriya topeng Jatisobo. Kami berkomitmen akan terus mendukung, memfasilitasi, dan mempromosikan Unit Usaha Kelompok ini agar ekosistem kemandirian mereka terus berputar di masa depan,” tegas Darmanto.

Kesuksesan Gelar Karya di Desa Jatisobo ini diharapkan mampu menjadi cetak biru percontohan pemberdayaan inklusif tingkat nasional, membuktikan bahwa penyelamatan lingkungan hidup dan pelestarian budaya dapat digerakkan secara harmonis oleh tangan-tangan istimewa kelompok disabilitas. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
MUI Jateng Punya “Skuad” Baru: Banyak Profesor, Siap Jadi Cooling System di Tengah Dinamika Zaman
Demi Rp5,3 Triliun, Perut Gunung Ungaran Mau Dibongkar: Dapat Listrik atau Cuma Lubang?
Berita ini 28 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Kamis, 10 September 2026 - 15:15 WIB

FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!

Senin, 7 September 2026 - 20:18 WIB

Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB