SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Sebanyak 100 pemuda penyandang disabilitas di Kabupaten Sukoharjo berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berkontribusi bagi lingkungan dan ekonomi.
Mengubah limbah kertas yang tak berharga menjadi mahakarya topeng wayang bernilai jual, karya mereka resmi dipamerkan ke hadapan publik dalam acara “Gelar Karya Seni Budaya Ekologis & Pembentukan Unit Usaha Kelompok” di Pendopo Balai Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, pada Selasa (23/6/2026) malam.
Kegiatan pameran yang megah ini merupakan puncak dari rangkaian program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program inovatif ini menyasar pemuda disabilitas yang bernaung di bawah Sanggar Inklusi Permata Hati, dan terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Selain pameran seni kriya, malam perayaan tersebut juga dimeriahkan dengan pementasan kebudayaan kolaboratif dari Sanggar Tari Jatisobo dan iringan karawitan Laras Madya Ngesti Swara.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak berlapis.
“Malam Gelar Karya ini menjadi bukti otentik bahwa kelompok penyandang disabilitas mampu bertransformasi menjadi wirausahawan sosial yang tangguh. Dengan mengganti medium ukir kayu menjadi bubur kertas (pulp), kita tidak hanya membuat proses produksi menjadi ramah disabilitas, tetapi juga melakukan aksi nyata mereduksi limbah padat. Langkah ini adalah kontribusi langsung kita di tingkat akar rumput untuk mendukung target iklim nasional FOLU Net Sink 2030,” jelas Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Selain ajang pameran yang sukses mencatatkan transaksi penjualan dari masyarakat dan kolektor, malam tersebut juga menjadi momen bersejarah dengan dideklarasikannya “Unit Usaha Kelompok Sanggar Permata Hati”.
Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih, yang selama ini mendampingi proses belajar para peserta, mengungkapkan rasa haru melihat perubahan pesat pada anak-anak didiknya.
“Sebelum adanya program ini, anak-anak kami sering merasa tidak percaya diri dan ruang geraknya sangat terbatas. Namun, berkat pendampingan dari YAKABI dari hulu ke hilir mulai dari memilah sampah hingga memasarkan produk di media sosial mereka kini menyadari potensinya. Unit usaha yang diresmikan malam ini akan menjadi rumah pemberdayaan bagi mereka untuk terus berkarya, menghasilkan pendapatan sendiri, dan mengangkat martabat keluarga,” ungkap Listri Sedyaningsih.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh jajaran pemerintahan desa yang melihat dampak positif program ini secara langsung bagi kebersihan dan pelestarian budaya lokal. Kepala Desa Jatisobo, Darmanto, menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.
“Kami selaku pemerintah desa sangat bangga melihat semangat anak-anak Sanggar Inklusi Permata Hati. Inovasi ini sangat brilian karena membantu desa mengatasi masalah limbah kertas yang biasanya hanya dibakar dan memicu polusi, sekaligus melestarikan budaya kriya topeng Jatisobo. Kami berkomitmen akan terus mendukung, memfasilitasi, dan mempromosikan Unit Usaha Kelompok ini agar ekosistem kemandirian mereka terus berputar di masa depan,” tegas Darmanto.
Kesuksesan Gelar Karya di Desa Jatisobo ini diharapkan mampu menjadi cetak biru percontohan pemberdayaan inklusif tingkat nasional, membuktikan bahwa penyelamatan lingkungan hidup dan pelestarian budaya dapat digerakkan secara harmonis oleh tangan-tangan istimewa kelompok disabilitas. (Red)













Komentar