SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Masih ingat dengan Jateng Valley? Proyek wisata raksasa bernilai sekitar Rp2 triliun yang sempat digadang-gadang bakal menjadi destinasi kelas dunia di Jawa Tengah.
Lokasinya berada di kawasan Hutan Wisata Penggaron, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Namun, mimpi besar itu kini seolah berhenti di tengah jalan.
Dikutip dari Kompas.com, kondisi terbaru di lokasi cukup memprihatinkan. Akses utama menuju Jateng Valley ditutup, sementara jalan menuju sejumlah fasilitas seperti lapangan golf hingga skate park dipenuhi rumput liar dan semak belukar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak terlihat aktivitas pembangunan ataupun pekerja. Kawasan yang dulu dipromosikan memiliki skate park bertaraf internasional itu kini tampak sepi dan terbengkalai.
Padahal, Jateng Valley sejak awal dirancang sebagai kawasan wisata modern seluas sekitar 371 hektare dengan konsep Ecological Sanctuary, Sustainable Leisure, dan Futuristic Space.
Ambisinya tak main-main, yakni menjadi salah satu destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara. Dan nilai investasinya pun fantastis, mencapai sekitar Rp2 triliun.
Proyek ini resmi dimulai melalui groundbreaking pada 15 Agustus 2020, bertepatan dengan Hari Jadi ke-70 Provinsi Jawa Tengah. Saat itu, harapan masyarakat terhadap proyek tersebut begitu besar.
Begini Janji Pemprov Jateng
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan akan melakukan evaluasi sekaligus revitalisasi kawasan Jateng Valley.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pemerintah tidak ingin aset strategis itu terus dibiarkan mangkrak tanpa arah yang jelas.
Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan adalah asesmen untuk memetakan potensi kawasan sebelum menentukan konsep pengembangan yang paling tepat.
“Kita lakukan asistensi dan revitalisasi terkait potensi ini, jadi berkembangnya wilayah kita lihat, dan ini dari aset kita akan berjalan ke sana untuk melakukan revitalisasi,” kata Luthfi, Rabu (1/7/2026).
Luthfi menambahkan, konsep revitalisasi nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan sektor pariwisata.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah mengungkapkan pemerintah masih mengkaji penyebab terhentinya pembangunan proyek sejak 2020.
Salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah keterlambatan realisasi investasi dari pihak investor, sehingga proyek gagal berjalan sesuai target.
Kini, Pemprov berharap hasil asesmen dapat menjadi pijakan untuk menghidupkan kembali Jateng Valley.
Harapannya, aset yang telanjur dibangun tidak lagi terbengkalai dan bisa kembali menjadi motor penggerak pariwisata serta perekonomian Jawa Tengah. (Red)













Komentar