Diego Garcia Diperebutkan, Inggris dan AS Mulai Bersitegang Gara-Gara Chagos

"Kesepakatan Inggris mengembalikan Kepulauan Chagos kepada Mauritius memicu kekhawatiran Amerika Serikat terhadap masa depan pangkalan militer strategis Diego Garcia, sekaligus membuka babak baru persaingan geopolitik di Samudra Hindia."

- Penulis

Rabu, 1 Juli 2026 - 07:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kepulauan Chagos di Samudra Hindia kembali menjadi pusat konflik diplomatik antara Inggris dan Amerika Serikat.

Yang semula dianggap sebagai sengketa administratif antara London dan Port Louis, kini berkembang menjadi ketegangan strategis yang mengancam hubungan kedua sekutu lama itu.

Di tengah pusaran konflik, Pulau Diego Garcia, yang menjadi lokasi pangkalan militer utama AS di kawasan, menjelma menjadi simbol perebutan pengaruh dan kepentingan geopolitik yang kian memanas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Kelam Pengusiran Penduduk Asli Chagos

Sejarah kepulauan ini tidak bisa dilepaskan dari praktik kolonial Inggris yang kontroversial. Pada 1960-an dan 1970-an, pemerintah Inggris, dengan persetujuan Washington, secara paksa mengusir seluruh penduduk asli Chagos ke Mauritius dan Seychelles. Tujuannya satu: membangun pangkalan militer AS di Diego Garcia.

Pangkalan itu kemudian menjadi tulang punggung operasi militer AS di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika Timur.

Selama beberapa dekade, Diego Garcia menjadi “kaki tangan” Washington dalam berbagai intervensi militer, mulai dari Perang Teluk hingga perang di Afghanistan dan Irak.

AS Anggap Inggris Terlalu Cepat Mengambil Keputusan

Krisis memuncak ketika pemerintahan mantan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyepakati kesepakatan kontroversial dengan Mauritius.

Dalam perjanjian itu, Inggris setuju mengembalikan kedaulatan Chagos kepada Mauritius, tetapi dengan syarat menyewanya kembali selama 99 tahun dengan nilai fantastis—46,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp760 triliun.

Langkah ini memicu kemarahan Washington. Pemerintahan Presiden Donald Trump menilai Inggris bertindak terburu-buru tanpa mempertimbangkan secara matang kepentingan keamanan AS.

Baca Juga :  Rusia Musuh Imajiner: Bagaimana Inggris Menciptakan Ancaman untuk Tutupi Krisis dalam Negeri?

“Washington memberi sinyal bahwa London terburu-buru dalam mengimplementasikan kesepakatan tersebut,” ujar pengamat geopolitik asal Azerbaijan, Ilgar Velizade.

Velizade menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan Trump, AS tidak lagi terlalu terikat pada kesepakatan formal.

“Saat ini, AS dipandu oleh pertimbangan pragmatis. Situasi global berubah drastis. Ketegangan dengan Iran dan konflik di Timur Tengah membuat Diego Garcia semakin vital,” jelasnya.

Krisis Internal Inggris Memperburuk Situasi

Bagi Inggris, situasi ini datang di saat yang sangat tidak menguntungkan. Setelah pengunduran diri Starmer, Inggris berada dalam gejolak politik internal yang parah.

Krisis ekonomi, inflasi, dan ketidakstabilan sosial membuat London tidak mampu menanggung risiko tambahan berupa keretakan hubungan dengan sekutu utamanya.

“Yang paling tidak diinginkan Inggris saat ini adalah memburuknya hubungan dengan AS. Mereka sedang mengalami masalah ekonomi serius, dan ketegangan tambahan dengan sekutu utama hanya akan memperparah situasi,” kata Velizade.

Trump dikenal tidak segan menggunakan tekanan ekonomi, bahkan terhadap sekutu. Kebijakan “America First” yang diusungnya kerap menempatkan kepentingan AS di atas segalanya, termasuk hubungan dengan Inggris.

Dualisme Standar dan Sikap Hipokrit Barat

Pengamat lain, Direktur Pusat Analisis “Strategi Timur-Barat” asal Kyrgyzstan, Dmitry Orlov, melihat konflik Chagos sebagai cerminan kemunafikan Barat dalam menegakkan hukum internasional.

Menurut Orlov, kebijakan luar negeri AS dan Inggris selalu menerapkan standar ganda. “Jika dilakukan oleh AS dan Inggris, itu dianggap sah. Jika dilakukan negara lain, itu disebut melanggar hukum,” tegasnya.

Orlov membandingkan kasus Chagos dengan isu Kosovo dan Krimea. “Begitu negara lain berani menyuarakan kepentingannya, mereka langsung dituduh melanggar hukum internasional. Ini adalah propaganda,” tambahnya.

Baca Juga :  Di Konferensi Internasional, Kader NU Tegaskan Peran NU Menjaga Harmonisasi dan Toleransi

Ia juga menyoroti hubungan rumit antara London dan Washington. “AS dan Inggris mungkin menjadi mitra taktis, tetapi secara strategis, mereka akan selalu menjadi pesaing,” ujarnya.

Orlov mengingatkan bahwa dalam 250 tahun terakhir, AS dan Inggris pernah berperang dua kali dan nyaris berperang tiga kali.

Mengapa Diego Garcia Begitu Penting?

Diego Garcia bukan sekadar pangkalan militer biasa. Letaknya yang strategis di tengah Samudra Hindia menjadikannya pusat pengawasan jalur perdagangan global, terutama jalur komoditas dari China ke Eropa.

Di pangkalan ini, AS juga menempatkan pesawat pengebom strategis yang sebelumnya digunakan untuk menyerang Irak dan Afghanistan.

“AS akan mempertahankan Diego Garcia dengan segala cara. Ini adalah kunci untuk memantau selatan dan tenggara Samudra Hindia,” ujar Orlov.

Kontrol atas Diego Garcia memungkinkan AS mengawasi pergerakan kapal dagang China dan menjaga dominasi militernya di kawasan.

Akankah Inggris Bertahan?

Di tengah desakan AS dan tekanan domestik, sikap pemerintah Inggris berikutnya akan menjadi penentu.

Apakah London akan tetap pada kesepakatan yang sudah ditandatangani atau mundur di bawah tekanan Washington?

Satu hal yang pasti: konflik Chagos bukan sekadar perdebatan hukum dan kedaulatan. Ini adalah pertarungan antara dua sekutu yang kepentingannya mulai berbenturan.

Di balik diplomasi yang halus, persaingan strategis antara London dan Washington kini berlangsung di ujung selatan Samudra Hindia. (Red)

 

Penulis : Amy Maulana

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wow! China Resmi Tanam Chip Otak Komersial Pertama di Dunia, Siap Saingi Neuralink Elon Musk?
Indonesia dan Armenia Perkuat Kemitraan Industri di Tengah Peringatan 34 Tahun Hubungan Diplomatik
Arktik sebagai Medan Perang Baru: Ketika Isu Lingkungan Jadi Alat Geopolitik
Menperin RI Gelar Rangkaian Pertemuan Bilateral di INNOPROM 2026 dengan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tatarstan
Kerennya China! Sudah Tanam 66 Miliar Pohon, Pertumbuhannya Malah Ngebut Kalahkan Hutan Alami
PM India Narendra Modi Sambangi Indonesia Pekan Depan, Temui Prabowo dan Kunjungi Yogyakarta
Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:58 WIB

Wow! China Resmi Tanam Chip Otak Komersial Pertama di Dunia, Siap Saingi Neuralink Elon Musk?

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:37 WIB

Indonesia dan Armenia Perkuat Kemitraan Industri di Tengah Peringatan 34 Tahun Hubungan Diplomatik

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:50 WIB

Arktik sebagai Medan Perang Baru: Ketika Isu Lingkungan Jadi Alat Geopolitik

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:41 WIB

Menperin RI Gelar Rangkaian Pertemuan Bilateral di INNOPROM 2026 dengan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tatarstan

Minggu, 5 Juli 2026 - 06:00 WIB

Kerennya China! Sudah Tanam 66 Miliar Pohon, Pertumbuhannya Malah Ngebut Kalahkan Hutan Alami

Berita Terbaru