Dari Limbah Jadi Cuan, Yayasan Kiblat Cetak Pemuda Disabilitas Sukoharjo Jadi Wirausahawan Seni Ekologis

"YAKABI membekali 100 pemuda disabilitas dengan keterampilan fotografi produk dan pemasaran digital untuk mengangkat topeng wayang berbahan limbah kertas ke pasar kreatif yang lebih luas"

- Penulis

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Dunia digital terbukti mampu menjadi ruang yang paling setara bagi siapa saja, meruntuhkan batasan fisik maupun jarak.

Membawa semangat kesetaraan tersebut, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) sukses menyelenggarakan “Workshop Strategi Kewirausahaan Digital: Fotografi Produk dan Pemasaran” bagi seratus pemuda disabilitas di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, pada Sabtu (6/6/2026).

Pelatihan strategis ini merupakan etape ketiga dari rangkaian panjang program “Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi bagi Pemuda Disabilitas di Kabupaten Sukoharjo“.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gerakan pemberdayaan yang menitikberatkan pada ekonomi sirkular dan kemandirian inklusif ini didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, melalui inisiatif Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4.

Setelah berminggu-minggu bergelut dengan limbah kertas hingga berhasil menyulapnya menjadi topeng wayang yang eksotis, para peserta kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana menjual karya tersebut.

Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, memaparkan bahwa workshop ini dirancang sebagai katalisator untuk mengubah paradigma peserta dari sekadar pengrajin menjadi pelaku usaha kreatif (sociopreneur).

“Ruang digital adalah etalase tanpa batas. Melalui dukungan BPDLH Kemenhut RI ini, target utama kita bukan hanya melatih kawan-kawan disabilitas membuat produk ramah lingkungan, tetapi membongkar stigma bahwa mereka sangat mampu bersaing secara komersial. Keterampilan pemasaran digital ini adalah senjata utama agar karya mereka bisa diakses secara global, mempercepat laju kemandirian ekonomi mereka tanpa harus terkendala mobilitas fisik,” terang Fadhel.

Baca Juga :  TDA Depok Gelar Workshop Business Pitching, Bantu Pengusaha Kuasai Seni Pitching Guna Menarik Investor

Untuk mentransfer ilmu dengan pendekatan yang inspiratif dan kekinian, YAKABI mendaulat Arif Dehan Ramadhan, seorang Influencer sekaligus penggiat Citizen Journalism. Arif memandu para peserta untuk mengeksplorasi potensi visual dari karya topeng wayang mereka.

Materi yang diberikan mencakup teknik pengambilan angle (sudut pandang) foto yang dramatis, manipulasi pencahayaan alami, hingga meracik kalimat promosi (copywriting) yang menggugah emosi pembeli.

Menurut Arif, media sosial memberikan panggung yang adil bagi karya-karya bermutu, terlepas dari siapa sosok di balik pembuatnya.

Baca Juga :  Rapat Pansus Memanas! Bupati Pati Sudewo Dikepung Isu PBB dan Skandal RSUD

“Dunia digital itu sangat objektif; yang dilihat pertama kali adalah daya tarik visual dan nilai ceritanya, bukan kondisi fisik pembuatnya, ” ujarnya.

Arif sangat takjub melihat hasil jepretan teman-teman disabilitas hari ini. Mereka disebut memiliki kepekaan rasa yang tajam saat membidik karya topengnya melalui lensa ponsel.

“Dengan pengemasan visual yang profesional dan narasi pelestarian lingkungan yang kuat, saya yakin produk mereka ini memiliki posisi tawar yang sangat tinggi di pasar industri kreatif,” puji Arif Dehan Ramadhan.

Kegiatan ini secara nyata membangkitkan rasa percaya diri para peserta. Topeng wayang berbahan limbah kertas yang sebelumnya hanya dilihat sebagai hasil karya tangan, kini mulai divisualisasikan sebagai komoditas berkelas.

Bekal kewirausahaan digital ini menjadi persiapan pamungkas bagi para peserta sebelum karya-karya mereka diluncurkan secara resmi kepada publik dan kolektor seni dalam ajang bergengsi “Gelar Karya Seni Budaya Ekologis pada tahap akhir program mendatang. (Red)

 

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Harjowinangun Ramai-Ramai Usulkan Talut dan Betonisasi Jalan, Musrenbangdes RKPDes 2027 Jadi Ajang Curhat Pembangunan
Tanam Tabebuya Bareng, Kepala Daerah se-Jateng-DIY Tinggalkan Jejak Hijau di Salatiga
Pemkab Pati Ajak Dunia Usaha Wujudkan Kabupaten Layak Anak: Apa Maksudnya?
Jateng Bakal Libatkan TNI-Polri Buat Tarik Pajak Desa: Bakal Serem, dong!?
Peserta Membludak! Belajar Bersama Persiapan Ujian PPAT 2026 Pengda IPPAT Kota Surakarta Berlangsung Meriah
BRT Trans Jateng Koridor Jekuti Segera Hadir? Jepara Sudah Siap, Kudus Menunggu, Pati Masih Tahap Masterplan
Pajak Kendaraan Banyak Nunggak, Bapenda Jateng Siapkan Jurus Baru Libatkan RT hingga RW
Wali Kota Agustina Antar Semarang Sabet PAPTI Award 2026, Dinobatkan Jadi Kota Terandal!
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 07:18 WIB

Warga Harjowinangun Ramai-Ramai Usulkan Talut dan Betonisasi Jalan, Musrenbangdes RKPDes 2027 Jadi Ajang Curhat Pembangunan

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:08 WIB

Tanam Tabebuya Bareng, Kepala Daerah se-Jateng-DIY Tinggalkan Jejak Hijau di Salatiga

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:58 WIB

Pemkab Pati Ajak Dunia Usaha Wujudkan Kabupaten Layak Anak: Apa Maksudnya?

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:16 WIB

Jateng Bakal Libatkan TNI-Polri Buat Tarik Pajak Desa: Bakal Serem, dong!?

Senin, 20 Juli 2026 - 21:14 WIB

Peserta Membludak! Belajar Bersama Persiapan Ujian PPAT 2026 Pengda IPPAT Kota Surakarta Berlangsung Meriah

Berita Terbaru

Gambar ilustrasi Universitas Republik Indonesia (URI) dihasilkan dari chatgbt. (dok.suaramuda.net)

OPINI

Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?

Senin, 27 Jul 2026 - 07:47 WIB