SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Rencana menghadirkan koridor baru Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng yang menghubungkan Jepara, Kudus, dan Pati (Jekuti) terus dimatangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Meski masuk daftar prioritas pengembangan transportasi publik, realisasinya ternyata belum bisa berjalan serentak karena kesiapan masing-masing daerah masih berbeda.
Kabupaten Jepara menjadi wilayah yang paling siap. Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara bahkan telah beberapa kali mengikuti survei bersama Pemprov Jateng untuk memetakan jalur, lokasi halte, hingga potensi jumlah penumpang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dishub Jepara, Deni Hendarko, mengatakan pihaknya kini tinggal menunggu survei tahap akhir sebelum jumlah halte dipastikan.
“Masih ada survei final. Setelah itu baru diketahui ada berapa halte yang akan disiapkan di Jepara,” ujar Deni, Sabtu (18/7/2026).
Berdasarkan pemetaan awal, Dishub Jepara mengusulkan sekitar 50 titik halte. Namun, jalur tersebut hanya mencakup kawasan perkotaan dan belum menjangkau wilayah Tempur di bagian timur Jepara.
“Usulan sementara sekitar 50 titik. Jalurnya hanya di wilayah Kota Jepara karena nantinya akan tersambung ke Kudus dan Pati,” jelasnya.
Meski memperoleh informasi bahwa koridor Jekuti kemungkinan baru beroperasi pada 2028, Deni berharap proyek tersebut bisa direalisasikan lebih cepat.
Sementara itu, Dishub Kudus juga telah melakukan berbagai persiapan. Kepala Bidang Keselamatan dan Sarana Prasarana LLAJ, Sulistyo Satriawan, menyebut pihaknya telah menyerahkan berbagai data yang dibutuhkan Pemprov Jateng, mulai dari kondisi trayek angkutan desa (Angkudes), terminal, hingga tingkat kepadatan lalu lintas.
Awalnya koridor ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Namun berdasarkan perkembangan terbaru, jadwal tersebut bergeser menjadi 2028.
Dishub Kudus juga telah mengusulkan sejumlah lokasi halte. Namun, jumlah titik yang akan disetujui masih menunggu hasil pembahasan tim dari Pemprov Jateng.
Selain itu, angkutan desa yang masih aktif direncanakan akan menjadi feeder agar layanan transportasi baru ini tidak berbenturan dengan trayek yang sudah ada.
Berbeda dengan Jepara dan Kudus, Kabupaten Pati justru masih berada pada tahap paling awal.
Kepala Bidang Angkutan Teknik dan Sarana (ATS) Dishub Pati, Andre Indarta, mengungkapkan hingga kini wilayahnya belum menjalani survei lapangan. Pembahasan yang dilakukan bersama Pemprov Jateng pekan lalu masih sebatas penyusunan masterplan.
“Kami baru membahas masterplan. Untuk persiapan di Pati sendiri belum ada,” katanya.
Menurut Andre, berdasarkan rancangan awal, pembangunan koridor kemungkinan dilakukan bertahap. Jalur Jepara-Kudus akan menjadi prioritas pertama sebelum diperpanjang hingga Pati.
“Eksekusinya kemungkinan dibagi dua tahap, Jepara-Kudus terlebih dahulu, baru kemudian Kudus-Pati,” ujarnya.
Karena belum ada kepastian, Dishub Pati belum berani mengambil langkah lanjutan, terlebih kondisi anggaran pemerintah saat ini masih dibayangi kebijakan efisiensi.
“Kami belum bisa mengambil langkah karena situasi keuangan juga masih efisiensi,” tambahnya.
Sebagai informasi, koridor Jekuti masuk dalam kajian pengembangan BRT Trans Jateng yang tercantum dalam RPJMD Jawa Tengah 2025-2029.
Pemerintah Provinsi menempatkan Jepara, Kudus, dan Pati sebagai wilayah prioritas seiring proyeksi pertumbuhan kawasan industri di Pantai Utara (Pantura) Timur.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, koridor baru ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus menjadi solusi transportasi publik bagi masyarakat Pantura Timur Jawa Tengah. (Red)













Komentar