Oleh: Krisna Wahyu Yanuar, Pengamat Sosial & Politik Lokal
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fenomena brain drain di Tulungagung bukan sekadar statistik migrasi, melainkan cermin dari kegagalan kebijakan daerah dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menahan talenta mudanya.
Selama ini, perpindahan penduduk berpendidikan kerap dibaca sebagai konsekuensi alamiah modernisasi.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, arus keluar lulusan muda dari Tulungagung menunjukkan problem struktural yang belum ditangani secara serius oleh pemerintah daerah.
Data migrasi dan pekerja migran memberi sinyal kuat yakni Tulungagung sedang mengekspor sumber daya manusianya sendiri.
Migrasi Keluar sebagai Alarm Dini
Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 memperlihatkan arus migrasi keluar dari beberapa kecamatan kunci. Kedungwaru mencatat 977 jiwa, Boyolangu 831 jiwa, dan Tulungagung Kota 802 jiwa.
Ketiga wilayah ini bukan kawasan pinggiran yang tertinggal, melainkan simpul pendidikan dan aktivitas ekonomi lokal.
Di sinilah ironi itu muncul. Wilayah yang menjadi pusat produksi lulusan justru menjadi episentrum eksodus tenaga muda.
Ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan lokal bekerja relatif baik dalam menghasilkan lulusan, tetapi pasar kerja daerah gagal menyerap mereka. Fenomena ini tidak bisa dibaca semata sebagai mobilitas normal.
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, pola seperti ini merupakan gejala klasik push factor migration—ketika individu terdorong keluar bukan karena daya tarik luar semata, tetapi karena keterbatasan struktural di daerah asal.
PMI, Devisa Naik, Talenta Pergi
Tulungagung selama ini dikenal sebagai salah satu kantong besar Pekerja Migran Indonesia. Pada 2024, remitansi mencapai Rp 2,3 triliun—naik Rp 200 miliar dari tahun sebelumnya.
Secara makro, angka ini sering dipuji sebagai keberhasilan ekonomi rumah tangga migran. Namun, di balik euforia remitansi, terdapat paradoks pembangunan daerah.
Kenaikan remitansi justru mengonfirmasi bahwa tenaga kerja produktif Tulungagung lebih memilih bekerja di Hong Kong, Taiwan, atau Korea Selatan dibandingkan membangun karier di kampung halaman.
Pergeseran dari pekerja domestik ke sektor formal/manufaktur luar negeri bahkan menunjukkan peningkatan kualitas tenaga kerja yang pergi.
Artinya, yang keluar bukan lagi sekadar tenaga kerja tidak terampil, tetapi lulusan SMK, vokasi, bahkan sarjana.
Dalam kerangka ekonomi politik daerah, ini adalah bentuk subsidizing other economies yakni Tulungagung membiayai pendidikan SDM, tetapi daerah lain—bahkan negara lain—yang menikmati produktivitasnya.
Kesenjangan Upah dan Struktur Ekonomi yang Stagnan
Salah satu pendorong utama brain drain adalah kesenjangan pendapatan. Riset menunjukkan variabel pendapatan per kapita mempengaruhi keputusan migrasi hingga 63,5 persen.
Ini angka yang sangat besar dan menandakan faktor ekonomi sebagai determinan dominan. UMK Tulungagung tidak mampu bersaing dengan upah manufaktur Korea atau Jepang—ini bisa dipahami.
Namun persoalan utamanya bukan semata kalah bersaing secara global, melainkan satu, Minimnya industri skala menengah–besar, kedua terbatasnya sektor padat teknologi (ruang innovasi), ketiga dominasi ekonomi berbasis UMKM tradisional.
UMKM memang penting sebagai bantalan ekonomi rakyat, tetapi tanpa industrial upgrading, daerah akan kesulitan menyediakan pekerjaan bagi lulusan sarjana dan vokasi. Di sinilah kritik kebijakan daerah menjadi relevan.
Selama bertahun-tahun, narasi pembangunan Tulungagung terlalu bertumpu pada romantisme UMKM tanpa strategi industrialisasi yang jelas.
Akibatnya, struktur ekonomi lokal mengalami middle-skill trap yakni terlalu maju untuk sekadar agraris, tetapi belum cukup industrial untuk menyerap tenaga terdidik.
Infrastruktur Seperti Pedang Bermata Dua
Proyek Tol Kediri–Tulungagung yang diproyeksikan rampung sekitar 2025–2026 sering dipromosikan sebagai motor pertumbuhan baru.
Secara teori, konektivitas memang dapat menarik investasi. Namun tanpa kebijakan industrial yang proaktif, jalan tol justru berpotensi mempercepat brain drain. Mobilitas yang makin mudah berarti biaya migrasi makin rendah.
Jika peluang kerja lokal tidak ikut tumbuh, maka infrastruktur hanya akan memperlancar arus keluar tenaga kerja muda menuju kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, atau bahkan Jakarta.
Dengan kata lain, tol bisa menjadi koridor logistik bagi manusia yang pergi, bukan investor yang datang.
Brain Gain yang Semu
Sering muncul argumen bahwa remitansi Rp 2,3 triliun merupakan bentuk brain gain. Memang benar, uang kiriman PMI menggerakkan konsumsi rumah tangga, pembangunan rumah, dan sektor properti lokal.
Namun dalam analisis pembangunan jangka panjang, ketergantungan pada remitansi memiliki keterbatasan. Pertama, remitansi bersifat konsumtif, bukan produktif. Banyak dana mengalir ke perumahan dan konsumsi, bukan investasi industri.
Kedua, remitansi tidak otomatis menciptakan ekosistem inovasi lokal. Daerah tetap kekurangan tenaga ahli di sektor strategis.
Ketiga, terdapat risiko dependency syndrome, ketika ekonomi lokal terbiasa hidup dari uang luar tanpa membangun basis produksi kuat.
Jika tidak diintervensi, Tulungagung berpotensi terjebak dalam model ekonomi remitansi—stabil secara konsumsi, tetapi rapuh secara struktural.
Di Mana Peran Pemerintah Daerah?
Masalah brain drain bukan semata urusan pasar tenaga kerja, tetapi juga refleksi arah kebijakan daerah.
Hingga kini, belum terlihat strategi komprehensif yang secara eksplisit bertujuan menahan atau menarik kembali talenta lokal.
Beberapa celah kebijakan yang patut dikritisi. Pertama, belum adanya peta kebutuhan tenaga kerja berbasis industri masa depan. Pendidikan vokasi berjalan tanpa orkestrasi kuat dengan kebutuhan industri lokal.
Kedua, insentif investasi sektor manufaktur dan teknologi masih kurang agresif dibanding daerah kompetitor di Jawa Timur.
Ketiga, belum optimalnya program diaspora engagement untuk memanfaatkan jaringan PMI terampil sebagai motor investasi balik.
Tanpa intervensi kebijakan yang lebih berani, Tulungagung berisiko menjadi daerah pengirim tenaga kerja permanen.
Fenomena brain drain Tulungagung harus dibaca sebagai peringatan dini, bukan sekadar statistik migrasi.
Daerah ini sebenarnya tidak kekurangan SDM berkualitas—justru sebaliknya, ia terus memproduksi talenta yang kompetitif secara global.
Masalah utamanya sederhana tetapi mendasar yakni ekonomi lokal belum cukup menarik untuk membuat mereka tinggal.
Jika pemerintah daerah tetap nyaman dengan narasi remitansi dan UMKM tanpa lompatan industrial, maka eksodus talenta akan terus berulang setiap tahun ajaran baru.
Jalan tol akan mempercepatnya, globalisasi akan memperlebar jurangnya, dan Tulungagung akan semakin dikenal bukan sebagai pusat pertumbuhan, melainkan sebagai daerah pengekspor anak muda terbaiknya.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah brain drain terjadi, melainkan yakni seberapa lama lagi daerah ini rela kehilangan masa depannya sendiri. (Red)