Habis Gelap, Terang Tak Kunjung Datang

- Penulis

Selasa, 21 April 2026 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: Kartini ala Gen-Z. (Gambar: Ali Achmadi)

POV: Kartini ala Gen-Z. (Gambar: Ali Achmadi)

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan, peminat masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Tanggal 21 April selalu punya suasana yang sama. Rapi. Seragam. Penuh warna. Dan—anehnya—dangkal. Nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut. Seperti nama jalan: sering dilewati, jarang dipahami.

Kebaya dipakai. Sanggul dipasang. Lalu foto. Selfi. Lalu unggah. Lalu selesai. Padahal Kartini tidak memperjuangkan kebaya. Ia melawan gelap—yang jauh lebih tebal dari sekadar kain. Kartini tidak memperjuangkan seremoni. Ia melawan cara berpikir yang membatasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap tahun, kita merayakan hari Kartini dengan cara yang sama: simbol, seremoni, dan minim refleksi. Kita hafal kebayanya, tapi lupa pikirannya. Kita ingat tanggalnya, tapi mengabaikan pesannya. Kita lebih nyaman meniru penampilannya daripada melanjutkan perjuangannya.

Kartini dulu menulis dari ruang sempit, dari dunia yang membatasi geraknya. Ia tidak punya panggung, tidak punya mikrofon, tidak punya algoritma.

Baca Juga :  Hari Tanpa Tembakau: Saat Nikotin Tidak Lagi Datang Secara Diam-Diam

Tapi ia punya sesuatu yang sekarang terasa langka: kegelisahan yang jujur, dan keberanian untuk melawan. Sekarang? Kita punya segalanya—kecuali keberanian itu.

Yang menarik, dulu pembatas itu sering dibungkus adat. Sekarang—kadang—dibungkus agama. Bukan agamanya yang salah. Tapi tafsirnya yang sering dipersempit. Masalahnya bukan pada agamanya. Tapi pada siapa yang memegang tafsirnya.

Dalam Islam, perempuan tidak pernah dilarang berpikir, belajar, atau berperan. Nabi Muhammad justru membuka ruang itu. Perempuan seperti Aisyah binti Abu Bakar menjadi rujukan ilmu.

Ada juga Khadijah binti Khuwailid—pengusaha sukses, penopang dakwah. Dan Fatimah binti Muhammad—simbol keteguhan dan kecerdasan. Artinya: terang itu sudah ada sejak awal. Tapi entah kenapa, di tangan kita, ia berubah jadi redup.

Baca Juga :  Potret Pencari Kerja di "Kandang Besi" Job Fair Cikarang 2025

Masih ada yang bilang: perempuan tak perlu sekolah tinggi, nanti mereka susah diatur. Masih ada yang khawatir perempuan terlalu mandiri. Masih ada yang mengharamkan perempuan jadi pemimpin.

Masih ada juga yang lebih sibuk “mengatur” daripada “memberdayakan”. Semua terasa sah—karena dibungkus dalil. Padahal sering kali, itu lebih dekat ke budaya lama yang enggan mati.

Kita bilang Islam memuliakan perempuan. Itu benar. Tapi kemuliaan itu tidak akan terasa kalau aksesnya tetap ditutup, kalau pikirannya tetap dibatasi, kalau suaranya tetap dianggap ancaman.

Kartini dulu melawan gelap yang nyata. Hari ini, kita menghadapi gelap yang lebih halus: cara berpikir yang merasa sudah terang, padahal belum. Lebih berbahaya. Karena tidak terasa.

Selamat Hari Kartini.
Kita masih menunggu terang itu benar-benar datang! (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru