Hari Tanpa Tembakau: Saat Nikotin Tidak Lagi Datang Secara Diam-Diam

- Penulis

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto:  by pixabay

Foto: by pixabay

Oleh: Tiara Dewinta Aditya, Anggota Bidang RPK PK IMM FKM UMJ Periode 2025–2026

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap 31 Mei, dunia kembali memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Peringatan ini sering dipahami sebatas ajakan untuk berhenti merokok, padahal persoalan tembakau hari ini jauh lebih kompleks dari sekadar kebiasaan individu.

Di tengah berkembangnya informasi kesehatan, produk nikotin justru hadir semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Ia tidak lagi datang dengan citra lama yang identik dengan bahaya, tetapi tampil dengan wajah baru yang lebih modern, lebih ringan, dan lebih mudah diterima secara sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika dahulu rokok dikenal melalui aroma asap dan bungkus konvensional, kini produk nikotin berkembang mengikuti perubahan zaman. Rokok elektrik atau vape hadir dengan desain yang lebih menarik, pilihan rasa yang beragam, serta promosi yang menyatu dengan tren digital anak muda.

Produk nikotin tidak lagi tampil sebagai ancaman kesehatan, tetapi dipoles menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol pergaulan modern.

Penggunaan rokok elektronik sendiri terus mengalami peningkatan, terutama pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan produk nikotin modern bukan sekadar perubahan bentuk konsumsi, melainkan bagian dari upaya mempertahankan pasar tembakau di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok.

Baca Juga :  Peran Strategis Masjid dalam Kehidupan Mahasiswa: Studi Kasus Kegiatan LDK di Kampus

Persoalan rokok hari ini pun tidak lagi berdiri hanya pada pilihan “merokok atau tidak”. Ada proses sosial yang perlahan membentuk kebiasaan baru di masyarakat.

Media digital, lingkungan pertemanan, hingga budaya populer ikut menciptakan ruang yang membuat rokok dan vape terasa semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Ketika paparan itu terus hadir setiap hari, masyarakat akhirnya terbiasa dan tidak lagi melihatnya sebagai ancaman.

Paparan promosi produk tembakau yang terus muncul di media sosial maupun lingkungan sekitar juga membuat banyak remaja terdorong untuk mencoba rokok ataupun vape.

Pemasaran tidak hanya bekerja untuk memperkenalkan produk, tetapi juga membentuk rasa penasaran dan penerimaan sosial terhadap nikotin pada usia muda.

Fenomena tersebut mulai banyak terlihat di lingkungan remaja dan mahasiswa. “Nikotin tidak selalu datang secara keras, terkadang ia hadir diam-diam lewat rasa penasaran dan pergaulan,” ujar Elfan Al Zabillah Fairman Anggota Bidang SBO PK IMM FKM UMJ, saat menanggapi meningkatnya penggunaan rokok dan vape pada kalangan remaja.

Menurutnya, banyak anak muda mulai mencoba rokok bukan karena memahami dampaknya, tetapi karena lingkungan yang membuat kebiasaan tersebut terlihat biasa.

Keinginan untuk menyesuaikan diri dengan pergaulan sering kali menjadi alasan awal seseorang mencoba nikotin tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan.

Baca Juga :  Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa

Rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional juga menjadi faktor yang membuat banyak remaja mulai mencoba produk nikotin sejak dini.

Persepsi tersebut membuat sebagian anak muda tidak menyadari bahwa nikotin tetap memiliki risiko adiksi meskipun dikemas dalam bentuk yang terlihat modern.

Dampak tembakau sendiri tidak berhenti pada persoalan ketergantungan. Konsumsi rokok berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit serius seperti kanker paru, gangguan pernapasan kronis, stroke, dan penyakit jantung.

Selain itu, limbah puntung rokok, polusi udara, serta bahan kimia dari proses produksi dan konsumsi tembakau juga memberikan dampak terhadap lingkungan.

Karena itu, Hari Tanpa Tembakau seharusnya tidak berhenti pada slogan tahunan yang sekadar lewat di media sosial.

Peringatan ini perlu menjadi pengingat bahwa ancaman nikotin hari ini bekerja dengan cara yang lebih halus: dibungkus sebagai tren, dilekatkan pada gaya hidup, lalu dinormalisasi sedikit demi sedikit dalam kehidupan masyarakat.

Sebab yang paling berbahaya dari nikotin bukan hanya zatnya, melainkan cara ia membuat masyarakat terbiasa hingga lupa bahwa kesehatan dan masa depan sedang dipertaruhkan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:55 WIB

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB