Hari Tanpa Tembakau: Saat Nikotin Tidak Lagi Datang Secara Diam-Diam

Foto: by pixabay

Oleh: Tiara Dewinta Aditya, Anggota Bidang RPK PK IMM FKM UMJ Periode 2025–2026

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap 31 Mei, dunia kembali memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Peringatan ini sering dipahami sebatas ajakan untuk berhenti merokok, padahal persoalan tembakau hari ini jauh lebih kompleks dari sekadar kebiasaan individu.

Di tengah berkembangnya informasi kesehatan, produk nikotin justru hadir semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Ia tidak lagi datang dengan citra lama yang identik dengan bahaya, tetapi tampil dengan wajah baru yang lebih modern, lebih ringan, dan lebih mudah diterima secara sosial.

Jika dahulu rokok dikenal melalui aroma asap dan bungkus konvensional, kini produk nikotin berkembang mengikuti perubahan zaman. Rokok elektrik atau vape hadir dengan desain yang lebih menarik, pilihan rasa yang beragam, serta promosi yang menyatu dengan tren digital anak muda.

Produk nikotin tidak lagi tampil sebagai ancaman kesehatan, tetapi dipoles menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol pergaulan modern.

Penggunaan rokok elektronik sendiri terus mengalami peningkatan, terutama pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan produk nikotin modern bukan sekadar perubahan bentuk konsumsi, melainkan bagian dari upaya mempertahankan pasar tembakau di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok.

Persoalan rokok hari ini pun tidak lagi berdiri hanya pada pilihan “merokok atau tidak”. Ada proses sosial yang perlahan membentuk kebiasaan baru di masyarakat.

Media digital, lingkungan pertemanan, hingga budaya populer ikut menciptakan ruang yang membuat rokok dan vape terasa semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Ketika paparan itu terus hadir setiap hari, masyarakat akhirnya terbiasa dan tidak lagi melihatnya sebagai ancaman.

Paparan promosi produk tembakau yang terus muncul di media sosial maupun lingkungan sekitar juga membuat banyak remaja terdorong untuk mencoba rokok ataupun vape.

Pemasaran tidak hanya bekerja untuk memperkenalkan produk, tetapi juga membentuk rasa penasaran dan penerimaan sosial terhadap nikotin pada usia muda.

Fenomena tersebut mulai banyak terlihat di lingkungan remaja dan mahasiswa. “Nikotin tidak selalu datang secara keras, terkadang ia hadir diam-diam lewat rasa penasaran dan pergaulan,” ujar Elfan Al Zabillah Fairman Anggota Bidang SBO PK IMM FKM UMJ, saat menanggapi meningkatnya penggunaan rokok dan vape pada kalangan remaja.

Menurutnya, banyak anak muda mulai mencoba rokok bukan karena memahami dampaknya, tetapi karena lingkungan yang membuat kebiasaan tersebut terlihat biasa.

Keinginan untuk menyesuaikan diri dengan pergaulan sering kali menjadi alasan awal seseorang mencoba nikotin tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan.

Rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, serta anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional juga menjadi faktor yang membuat banyak remaja mulai mencoba produk nikotin sejak dini.

Persepsi tersebut membuat sebagian anak muda tidak menyadari bahwa nikotin tetap memiliki risiko adiksi meskipun dikemas dalam bentuk yang terlihat modern.

Dampak tembakau sendiri tidak berhenti pada persoalan ketergantungan. Konsumsi rokok berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit serius seperti kanker paru, gangguan pernapasan kronis, stroke, dan penyakit jantung.

Selain itu, limbah puntung rokok, polusi udara, serta bahan kimia dari proses produksi dan konsumsi tembakau juga memberikan dampak terhadap lingkungan.

Karena itu, Hari Tanpa Tembakau seharusnya tidak berhenti pada slogan tahunan yang sekadar lewat di media sosial.

Peringatan ini perlu menjadi pengingat bahwa ancaman nikotin hari ini bekerja dengan cara yang lebih halus: dibungkus sebagai tren, dilekatkan pada gaya hidup, lalu dinormalisasi sedikit demi sedikit dalam kehidupan masyarakat.

Sebab yang paling berbahaya dari nikotin bukan hanya zatnya, melainkan cara ia membuat masyarakat terbiasa hingga lupa bahwa kesehatan dan masa depan sedang dipertaruhkan. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like