Bagaimana Komunikasi Interpersonal Dapat Menjadi Luka Sekaligus Pemulih dalam Dinamika Hubungan Manusia?

Ilustrasi: Pinterest

Oleh: Adinda Rena Azzahra dan Muhammad Ulul Azmi, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Komunikasi menjadi titik penting dalam kehidupan manusia. Titik penting itu terletak pada peran komunikasi yang dapat menyampaikan pikiran, perasan, serta makna kepada orang lain.

Sejak lahir, manusia tidak pernah terlepas dari komunikasi baik itu verbal maupun nonverbal sebagai sarana untuk membangun hubungan dan memahami lingkungan.

Dalam membangun atau menjalin hubungan tersebut, komunikasi interpersonal tidak selalu menghadirkan kehangatan, tetapi bisa juga berpotensi menjadi sumber luka.

Menurut Anggraini (2022), komunikasi interpersonal tidak hanya melibatkan penyampaian informasi tetapi juga pertukaran makna, emosi, serta pembentukan presepsi satu sama lain. Komunikasi interpersonal memiliki peran penting dalam membangun, mempertahankan maupun mengubah suatu hubungan.

Sejalan dengan komunikasi interpersonal yang dapat mendatangkan keharmonisan suatu hubungan, juga diperkuat ketika komunikasi terbuka dan efektif itu terjadi pada lingkungan keluarga

Orang tua atau anggota keluarga yang saling mendengar akan berbeda dengan keluarga yang tidak pernah terbuka. Seperti ketika anak bungsu tidak pernah diberi celah ketika berbicara atau menyampaikan pendapatnya karena dianggap terlalu kecil, maka ketika besar nanti dia akan cenderung diam.

Kebiasaan itu akan terus dia bawa bahkan ketika di dunia pendidikan. Di dunia akademik yang seharusnya berdiskusi secara aktif untuk mengembangkan skill komunikasinya, tetapi dia memilih untuk diam karena takut salah dan takut jika dia tidak diberi celah untuk menyampaikan idenya.

Ilustrasi: Pinterest

Menurut Wardiyah (2023), keluarga sangat penting dalam pembentukan perilaku anak karena sejak kecil anak hidup, tumbuh, dan berkembang di dalam keluarga.

Seperti kasus diatas, ketika anak diberi kesempatan untuk menyampaikan semua ide dan keluh kesahnya oleh keluarganya, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang mampu mengekspresikan apa yang dirasakannya.

Secara tidak langsung dia akan memperoleh skill komunikasinya bahkan melatih kemampuan dia berpikir secara kritis serta mampu memecahkan masalahnya secara baik.

Dwi Rahmani (2023) menemukan bahwa komunikasi yang responsif serta kemampuan mendengarkan secara aktif dari orang tua mendukung perkembangan bahasa, emosi, dan kemampuan sosial anak.

Dengan begitu, komunikasi interpersonal dalam keluarga berfungsi sebagai fondasi penting bagi perkembangan sosial anak di luar lingkungan keluarga (Monica, 2025).

Komunikasi interpersonal yang dapat melahirkan keharmonisan suatu hubungan, sejatinya juga beriringan dengan bagaimana pola komunikasi tersebut menjadi kunci pemulihan penyintas pelecehan seksual.

Seorang konselor tidak mungkin amatir ketika menghadapi penyintas yang memiliki trauma terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Penyintas pelecehan seksual yaitu mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dikabarkan mendapat perlakuan tidak pantas secara online atau cybersex oleh pelaku teman sebayanya sendiri.

Pada awalnya penyintas tidak berani melaporkan ini pada lembaga yang menaungi pelecehan seksual di kampus, tapi atas dorongan temannya penyintas mulai berani speak up tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Dia mulai melaporkan kejadian itu pada seorang konselor yang profesional dan menceritakan semua secara terbuka kepada konselor.

Melalui komunikasi empatik, konselor berperan sebagai komunikator yang mampu menciptakan ruang aman dengan cara mendengarkan secara aktif, menunjukkan penerimaan tanpa penilaian, serta memberikan validasi terhadap emosi penyintas.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep bahwa empati dalam komunikasi tidak bertujuan memberi solusi instan, melainkan membangun pemahaman emosional dan kepercayaan.

Ketika penyintas merasa didengar dan dihargai, proses keterbukaan diri terjadi secara bertahap, sehingga relasi terapeutik dapat terbentuk secara sehat dan mendukung pemulihan (Erviana, 2023).

Ilustrasi: Pinterest

Selain memberikan kerekatan untuk sesuatu hubungan juga menjadi pemulihan atas trauma, komunikasi interpersonalpun bisa mendatangkan luka. Ketika hubungan bisa disebut tidak sehat terjadi ketika komunikasi yang terlalu terbuka bahkan sampai melanggar batas privasi.

Kejadian ini sangat ramai bahkan sering terjadi pada hubungan kekasih atau pertemanan. Seseorang yang terlalu posesif kepada kekasihnya, mengekang untuk tidak boleh berbicara kepada laki-laki lain atau sampai menyadap handphone milik kekasih supaya bisa memantau apa yang sedang dilakukan kekasihnya, itu termasuk pada hubungan toxic dan harus dihindari. Lantas bagaimana solusi atas kejadian ini?

Posesif di sini tidak dimaknai sebagai bentuk perhatian, justru bentuk kepedulian dan rasa sayang itu berupa kepercayaan dan penghormatan terhadap privasi. Maka dalam hal ini perlu komunikasi yang baik, komunikasi yang menekankan dialog terbuka, kesetaraan, dan pencarian solusi bersama.

Dengan demikian, pola komunikasi yang tidak sehat seperti minimnya empati, dominasi, atau pengabaian emosi berpotensi memperparah luka psikologis penyintas dan menghambat proses pemulihan trauma.

Sebaliknya, komunikasi empatik yang ditandai oleh kehadiran penuh, mendengarkan aktif, validasi perasaan, serta respons yang tidak menghakimi terbukti menjadi fondasi penting bagi pemulihan yang berkelanjutan. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like