Carbon Accounting: Langkah Perusahaan Mengurangi Jejak Karbon

- Penulis

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: polusi udari dari pabrik. (Ilustrasi: pinterest)

POV: polusi udari dari pabrik. (Ilustrasi: pinterest)

Oleh: Brenda Khansa Lastomo, Mahasiswa Akuntansi, Universitas Negeri Surabaya

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Emisi gas rumah kaca terus meningkat setiap tahunnya. Ini bukan hanya ancaman untuk masa depan, tetapi dampaknya sudah dapat kita rasakan sendiri pada suhu bumi yang semakin panas, cuaca ekstrem, dan musim yang tidak menentu.

Pembakaran bahan bakar fosil untuk kendaraan, tumpukan pembuangan sampah, asap knalpot kendaraan, dan penggunaan barang elektronik, seperti kulkas dan AC oleh manusia setiap harinya berhasil menyumbangkan emisi karbon yang tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perusahaan menjadi salah satu kontributor utama yang menghasilkan jejak karbon paling tinggi. Dalam hal ini, perusahaan dari sektor energi, industri dan manufaktur, pertambangan, dan pengelolaan limbah adalah sektor-sektor perusahaan penghasil emisi karbon terbesar di Indonesia, terutama perusahaan sektor energi.

Dampaknya adalah cuaca ekstrem yang tidak menentu, suhu bumi yang terus meningkat dan semakin panas. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk menerapkan carbon accounting sebagai pengukur dan pencatat jejak karbon.

Sayangnya, masih ada perusahaan yang
menganggap hal ini bukanlah perihal yang serius dengan terus melakukan pemborosan energi, serta tidak menghitung, mencatat, dan melaporkan jumlah emisi karbon yang dihasilkannya.

Carbon accounting sendiri diartikan sebagai prosedur untuk mengukur, mencatat, dan melaporkan jejak karbon yang dihasilkan oleh perusahaan dan membantu perusahaan untuk mengurangi jejak karbon.

Dengan data ini, perusahaan bisa mengetahui berapa emisi karbon yang mereka hasilkan, dari mana emisi yang paling besar itu berasal, dan langkah apa yang bisa diambil untuk meminimalisir emisi karbon.

Dengan demikian, carbon accounting tidak hanya perihal pelaporan, tapi juga perihal pengambilan keputusan bisnis yang lebih bertanggung jawab. Namun, meski perusahaan adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, tidak semua perusahaan menganggap pengelolaan emisi karbon ini sebagai prioritas.

Baca Juga :  Fenomena Judi Online di Bangka Belitung, Sudah Saatnya Bergerak Lebih dari Sekadar Memblokir Situs

Lantas, bagaimana perusahaan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan sumber-sumber jejak karbonnya? Jadi, ada tiga cakupan sumber-sumber emisi karbon yang dihasilkan oleh perusahaan yang terdiri dari scope 1, scope 2, dan scope 3.

Scope 1
Scope 1 mencakup emisi karbon yang muncul langsung dari kegiatan operasional perusahaan. Misalnya, emisi karbon yang dihasilkan dari Air Conditioner (AC), kulkas, asap pabrik yang dikeluarkan melalui cerobong, dan asap knalpot dari kendaraan operasional perusahaan.

Emisi karbon scope 1 ini lebih mudah untuk dihitung dari scope lainnya, karena berasal langsung dari sumber yang dikontrol perusahaan.

Scope 2
Scope 2 ini mencakup emisi yang tidak muncul secara langsung, namun berasal dari energi yang dibeli dan digunakan oleh perusahaan, seperti listrik, pemanas, dan pendingin yang digunakan di kantor dan pabrik.

Scope 3
Scope 3 mencakup emisi karbon yang tidak diciptakan oleh perusahaan dan bukan hasil dari aktivitas aset yang mereka miliki. Emisi ini berasal dari bahan baku, proses distribusi, penggunaan produk oleh pelanggan, sampai dengan pembuangan produk ketika masa pakainya sudah habis.

Menurut World Economic Forum, scope 3 upstream menyumbang 70% emisi dari total emisi perusahaan. Tapi, masih banyak perusahaan tidak memperdulikan scope 3 dan hanya menghitung scope 1 dan 2 karena lebih mudah.

Langkah Perusahaan Mengurangi Jejak Karbon

Setelah mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jejak karbon dari scope 1 sampai scope 3, perusahaan bisa menentukan langkah yang tepat untuk mengurangi jejak karbonnya.

Baca Juga :  Aku Melihat Indonesia di Persimpangan: Stabilitas, Pertumbuhan, atau Kehilangan Demokrasi?

Pertama, perusahaan dapat menekan efisiensi energi pada seluruh proses operasional dengan mengurangi konsumsi energi yang tidak diperlukan, seperti mematikan AC, air, dan lampu jika tidak digunakan, serta mengganti peralatan dengan yang lebih hemat energi.

Langkah ini memang paling mudah dan cepat untuk dilakukan, tetapi bisa berdampak signifikan untuk mengurangi jejak karbon.

Kedua, berdasarkan data scope 2, perusahaan bisa melihat seberapa besar jejak karbon yang dihasilkan dari energi yang mereka beli. Perusahaan bisa beralih ke energi terbarukan dengan memasang panel surya di atap kantor dan pabrik untuk mengurangi jejak karbon.

Ketiga, untuk mengurangi emisi scope 3, perusahaan bisa mengoptimalkan rantai pasok dan memilih pemasok yang juga berkomitmen untuk mengurangi emisi.

Langkah ketiga ini memang tidak mudah untuk dilakukan, tapi jika sudah dilakukan, dampaknya bisa menekan jejak karbon terbesar yang dihasilkan dari scope

Sebagai langkah terakhir, perusahaan dapat menyusun peta jalan dekarbonisasi menuju net zero emission berdasarkan hasil klasifikasi scope 1 sampai scope 3. Karena tanpa peta yang jelas, upaya pengurangan jejak karbon ini menjadi tidak terarah.

Jadi, carbon accounting bukan hanya alat pencatatan emisi karbon, tetapi juga cerminan dari bagaimana suatu perusahaan memandang dan berperilaku terhadap tanggung jawabnya kepada pemegang saham, masyarakat, dan lingkungan.

Perusahaan yang menerapkannya berarti tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tapi juga memikirkan bagaimana dampak jangka panjang yang dihasilkan dari setiap keputusan bisnis yang diambil. Carbon accounting sudah seharusnya menjadi standar, bukan hanya pilihan. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:55 WIB

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB