Ketika Politik Mulai Belajar Mendengar Anak Muda

Ilustrasi: pinterest

Oleh: Muhammad Ali Ridho, Tenaga Ahli Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada masa ketika suara anak muda hanya dianggap sebagai gema terdengar, tetapi jarang benar-benar didengarkan. Ide-ide segar kerap mendapat tempat dalam diskusi, tetapi berhenti sebagai wacana.

Anak muda hadir dalam berbagai forum, bahkan menjadi bagian dari dinamika demokrasi, namun tidak selalu terlibat dalam pengambilan keputusan yang menentukan arah kebijakan.

Hari ini, perlahan situasi itu mulai berubah. Politik yang selama ini terkesan eksklusif menunjukkan tanda-tanda keterbukaan. Anak muda tidak lagi sepenuhnya berada di luar sistem sebagai pengkritik, tetapi mulai masuk ke dalam sebagai bagian dari proses perumusan kebijakan.

Ini bukan perubahan yang besar dan instan, melainkan langkah bertahap yang memberi sinyal bahwa suara anak muda mulai diperhitungkan. Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari realitas demografi Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indonesia tengah berada dalam fase bonus demografi, dengan sekitar 70% penduduk berada pada usia produktif.

Dalam konteks politik elektoral, lebih dari 50% pemilih pada Pemilu 2024 berasal dari kalangan muda. Angka ini menegaskan bahwa anak muda bukan lagi kelompok pelengkap, melainkan penentu arah dalam proses demokrasi.

Namun, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam struktur pengambilan kebijakan. Representasi anak muda dalam ruang-ruang strategis masih terbatas, dan dalam banyak kasus, belum memiliki daya pengaruh yang signifikan. Dari sinilah muncul kesenjangan antara partisipasi dan representasi.

Partisipasi anak muda hari ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Keterlibatan dalam diskursus publik meningkat, terutama melalui media digital yang memungkinkan ekspresi politik berlangsung lebih luas dan cepat.

Apabila dilihat dari sisi lain, data dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia menunjukkan bahwa indeks pembangunan pemuda mengalami peningkatan, khususnya pada aspek pendidikan dan partisipasi sosial. Hal ini mencerminkan bahwa kapasitas anak muda Indonesia terus berkembang.

Namun, pertanyaannya bukan lagi pada potensi, melainkan pada konversi potensi tersebut menjadi pengaruh yang nyata. Dalam praktiknya, banyak anak muda masih berada pada tahap “didengar”, tetapi belum sampai pada tahap “mempengaruhi”.

Keterlibatan dalam kampanye, gerakan sosial, maupun diskursus digital belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses kebijakan yang bersifat teknokratis dan jangka panjang. Partisipasi menjadi ramai, tetapi tidak selalu berdampak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa politik tidak hanya membutuhkan partisipasi, tetapi juga akses yang setara terhadap ruang pengambilan keputusan.

Masuk ke dalam sistem bukan perkara sederhana. Ini secara langsung membutuhkan kapasitas, pengalaman, serta kemampuan untuk memahami kompleksitas kebijakan publik.

Dari sisi lain, terdapat upaya yang mulai terlihat dari dalam sistem untuk membuka ruang tersebut. Kehadiran tenaga ahli muda, meningkatnya jumlah politisi dari generasi Z, serta pelibatan anak muda dalam berbagai forum kebijakan menjadi indikator bahwa ada kesadaran akan pentingnya regenerasi politik. Ini merupakan langkah awal yang patut diapresiasi.

Namun demikian, keterbukaan ini tetap perlu dikawal agar tidak berhenti pada level simbolik. Representasi tanpa pengaruh berpotensi menciptakan ilusi partisipasi. Anak muda mungkin terlihat hadir, tetapi tidak benar-benar memiliki peran dalam menentukan arah kebijakan.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa didengar tidak selalu berarti dipertimbangkan, dan dilibatkan tidak selalu berarti diberdayakan.

Oleh karena itu, jika politik ingin benar-benar belajar mendengar anak muda, maka yang diperlukan bukan hanya membuka ruang, tetapi juga memastikan bahwa ruang tersebut memiliki mekanisme yang memungkinkan kontribusi anak muda menjadi bagian dari keputusan.

Pelibatan dalam penyusunan kebijakan berbasis data, penguatan forum konsultasi publik yang inklusif, serta regenerasi kepemimpinan yang terstruktur menjadi beberapa langkah yang dapat ditempuh.

Dari sisi lain, anak muda juga dihadapkan pada tanggung jawab yang tidak kalah besar. Ruang yang mulai terbuka perlu direspons dengan kesiapan, baik dari segi kapasitas maupun integritas.

Keterlibatan dalam sistem menuntut kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika politik yang kompleks, tanpa kehilangan nilai dan idealisme yang menjadi dasar perjuangan. Indonesia saat ini berada dalam fase transisi.

Politik belum sepenuhnya menjadi ruang yang ideal bagi anak muda, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya tertutup. Ada proses pembelajaran yang sedang berlangsung proses yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan komitmen dari berbagai pihak.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya apakah politik telah membuka ruang bagi anak muda, tetapi juga sejauh mana ruang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Karena didengar adalah sebuah awal, tetapi pengaruh hanya dapat terwujud ketika keterlibatan berlangsung secara substantif.

Jika proses ini dapat berjalan secara berkelanjutan, maka politik tidak hanya akan terlihat mendengar, tetapi benar-benar mampu bertransformasi menjadi ruang yang inklusif, representatif, dan responsif terhadap generasi masa depan.

Dalam pandangan penulis, keterbukaan politik terhadap anak muda hari ini perlu dilihat sebagai momentum yang tidak boleh disia-siakan. Ruang yang mulai terbuka harus diisi dengan kualitas, bukan sekadar kehadiran.

Politik tidak cukup hanya memberi tempat, tetapi juga perlu memberi kepercayaan. Di saat yang sama, anak muda tidak cukup hanya menuntut ruang, tetapi juga harus mampu membuktikan kapasitasnya.

Jika keduanya dapat berjalan beriringan antara keterbukaan sistem dan kesiapan generasi maka harapan akan politik yang lebih terbuka bagi semua golongan bukan lagi sekadar wacana. Ini bisa menjadi kenyataan. Jika tidak, maka politik hanya akan terlihat mendengar, tanpa benar-benar berubah. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like