Kurikulum “Baru”, Mentalitas Lama: Jebakan Sesungguhnya Pendidikan Kita

- Penulis

Senin, 30 Juni 2025 - 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Zello Bertholomeus*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Sebentar lagi, jutaan anak Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru 2025/2026.

Momen ini terasa istimewa, karena inilah titik di mana seluruh sekolah, dari kota besar hingga pelosok desa, secara resmi diwajibkan menerapkan Kurikulum Nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah dan para pendukungnya menyajikan ini sebagai sebuah fajar baru—sebuah janji akan lahirnya generasi yang kreatif, bernalar kritis, dan berkarakter Pancasila.

Harapan itu tentu baik adanya. Namun, sebagai bagian dari masyarakat yang setiap hari menyaksikan denyut nadi pendidikan di lapangan, saya ingin menyampaikan sebuah kekhawatiran publik yang mendasar: jangan-jangan kita hanya sedang sibuk mengganti sampul buku, sementara isi dan cara membacanya masih sama persis seperti puluhan tahun lalu.

Mari kita jujur mengakui penyakit kronis yang kita semua tahu ada. Selama bertahun-tahun, sekolah sering kali menjadi tempat yang melelahkan bagi anak-anak kita.

Mereka dibebani oleh setumpuk pekerjaan rumah, dikejar oleh target nilai, dan diukur oleh peringkat. Belajar direduksi menjadi aktivitas menghafal untuk lulus ujian.

Paulo Freire menyebutnya “pendidikan gaya bank”, sebuah sistem di mana anak dianggap sebagai wadah kosong yang harus diisi. Ini adalah sistem yang secara perlahan tapi pasti memadamkan rasa ingin tahu dan keberanian untuk bertanya.

Kurikulum Nasional, yang merupakan kelanjutan dari Kurikulum Merdeka, hadir sebagai obat atas penyakit ini.

Konsepnya di atas kertas memang terdengar ideal. Adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) diharapkan dapat membuat belajar menjadi lebih relevan dan kontekstual. Guru diberi “fleksibilitas” untuk berinovasi. Semuanya terdengar sempurna.

Baca Juga :  Bukan Kurikulum Baru, Begini Penjelasan 'Deep Learning Ful-ful' ala Menteri Abdul Mu'ti

Namun, kurikulum secanggih apa pun hanyalah selembar kertas jika ia jatuh ke tangan sistem dengan mentalitas yang usang. Ini seperti memberikan resep masakan modern kepada seorang koki yang peralatannya masih tradisional dan hanya terbiasa dengan satu cara memasak.

Tanpa mengubah dapurnya, pola pikir kokinya, dan kualitas bahan-bahannya, resep itu tidak akan pernah menjadi hidangan yang lezat.

Di lapangan, kita sudah melihat gejala ini. P5, yang seharusnya menjadi ajang investigasi kritis, di banyak tempat berubah menjadi sekadar “festival” atau “pameran karya”.

Pertanyaannya bukan lagi “mengapa masalah ini terjadi di masyarakat kita?”, melainkan “produk apa yang bisa kita pamerkan di akhir semester?”.

Apakah proyek itu membuat anak kita lebih berempati pada pedagang kecil yang tersingkir, atau hanya membuatnya sibuk menggunting kertas warna untuk hiasan stan?

Jika yang terjadi adalah yang kedua, maka kita hanya menciptakan kesibukan baru, bukan kesadaran baru.

Fokus sesungguhnya harus kita letakkan pada garda terdepan pendidikan: para guru. Merekalah “koki” yang akan menentukan nasib kurikulum ini.

Namun, kita tidak bisa menuntut mereka untuk kreatif dan inovatif jika mereka masih terbelenggu oleh beban administrasi yang berat, kesejahteraan yang minim, dan pelatihan yang sering kali hanya bersifat seremonial.

Memberi mereka “fleksibilitas” tanpa memberikan dukungan, kepercayaan, dan sumber daya yang memadai sama saja dengan menyuruh mereka berlari maraton dengan kaki terikat.

Baca Juga :  Kritik Bagi Aktivis Mahasiswa, Para Pengkhianat Idealisme

Tanggung jawab ini juga ada di pundak kita sebagai orang tua dan masyarakat. Kita tidak bisa menuntut sekolah untuk mengajarkan kreativitas dan kolaborasi pada hari Senin, lalu pada hari Selasa kita marah karena nilai ujian matematika anak kita tidak 100.

Kita tidak bisa meminta anak kita menjadi pemberani yang suka bertanya, tetapi di rumah kita sendiri menghukum mereka karena terlalu banyak “membantah”.

Mentalitas kita yang terobsesi pada nilai dan peringkat adalah bahan bakar utama yang membuat mesin “pendidikan gaya bank” terus berjalan.

Ini adalah momentum krusial. Kesempatan ini bukan hanya untuk mengganti kurikulum, tetapi untuk sungguh-sungguh mengubah cara kita sebagai bangsa dalam memandang arti ‘kecerdasan’ dan ‘keberhasilan’.

Mari kita mulai mengubah pertanyaan kita. Dari “Berapa nilai anak saya?” menjadi “Apa pertanyaan terbaik yang diajukan anak saya hari ini?”.

Dari “Sekolah ini peringkat berapa?” menjadi “Apakah sekolah ini membuat anak saya merasa aman, bahagia, dan suka belajar?”.

Jika perubahan fundamental dalam mentalitas guru, dukungan sistem, dan ekspektasi orang tua ini tidak terjadi, maka Kurikulum Nasional 2025 akan bernasib sama seperti pendahulu-pendahulunya: menjadi jargon indah di seminar, namun gagal menyentuh realitas di ruang kelas.

Jika kita melewatkan momentum ini, kita tidak hanya mengkhianati anak-anak kita, tetapi juga masa depan Indonesia itu sendiri. (Red)

Penulis: Zello Bertholomeus, Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB