Perempuan Hari ini: Bebas atau Justru Tertekan?

- Penulis

Selasa, 21 April 2026 - 07:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Khalisya Nasywa Azqia, Ketua Bidang RPK PK IMM FKM UMJ 2025-2026

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap 21 April, kita kembali memperingati Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Tapi, di balik peringatan yang terus diulang setiap tahun, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apakah perempuan hari ini sudah benar-benar merdeka?

Kartini hidup dalam ruang yang penuh keterbatasan. Sebagai perempuan pada masa kolonial, ia menghadapi aturan sosial yang membatasi akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar proses belajar, tetapi jalan untuk membentuk manusia yang merdeka secara intelektual dan moral. Pandangan ini menempatkan perempuan bukan hanya sebagai individu yang berhak belajar, tetapi juga sebagai sosok yang berperan penting dalam membentuk generasi masa depan.

Karena itu, pendidikan bagi perempuan seharusnya tidak dipandang sebagai privilese, melainkan sebagai hak yang melampaui batas status sosial, ekonomi, maupun gender.

Baca Juga :  Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Bangka Melalui Sistem Pembayaran Non-Tunai Berbasis QRIS

Jika dibandingkan dengan masa Kartini, perempuan hari ini memang memiliki akses yang jauh lebih luas. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan, berkarier, hingga berpartisipasi di ruang publik semakin terbuka.

Perempuan juga semakin terlihat di berbagai sektor, termasuk di ruang digital yang memberi peluang untuk menyuarakan pendapat. Namun, apakah keterbukaan ini benar-benar berarti kebebasan?

Realitas menunjukkan bahwa perempuan masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketidakadilan. Kekerasan seksual, termasuk di lingkungan pendidikan, masih terus terjadi.

Ironisnya, banyak korban memilih diam bukan karena tidak ingin bersuara, tetapi karena takut pada stigma, tekanan sosial, serta minimnya perlindungan yang berpihak pada mereka.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan perempuan hari ini tidak lagi semata soal akses, tetapi juga tentang rasa aman dan keadilan. Struktur sosial yang masih mempertahankan ketimpangan relasi kuasa membuat perempuan kerap berada pada posisi rentan.

Baca Juga :  Lulus Kuliah Tapi Susah Dapat Kerja: Salah Gen Z atau Pasar Kerjanya?

Mengutip Ketua Bidang Immawati, Fahira Jannataynidan, perjuangan perempuan hari ini sejatinya tidak cukup hanya dilihat dari capaian yang tampak di permukaan. Perempuan mungkin terlihat lebih bebas hari ini, tetapi kebebasan itu belum sepenuhnya aman.

Faktanya masih ada tekanan sosial dan ketidakadilan yang membuat perempuan harus berpikir dua kali untuk bersuara. Untuk itu, perjuangan perempuan masa kini tidak bisa berhenti pada pencapaian simbolik.

Hemat penulis, perjuangan perempuan perlu bergerak menuju perubahan yang lebih mendasar, baik secara struktural maupun kultural. Dari sini, dibutuhkan kesadaran kolektif, solidaritas, serta keberanian untuk menolak normalisasi kekerasan dan menciptakan ruang yang lebih aman bagi semua.

Ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari kesadaran. Bahwa, setiap langkah perempuan layak hidup tanpa ketakutan dan tekanan. Hidup perempuan yang melawan! (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB