Oleh: Khalisya Nasywa Azqia, Ketua Bidang RPK PK IMM FKM UMJ 2025-2026
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap 21 April, kita kembali memperingati Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Tapi, di balik peringatan yang terus diulang setiap tahun, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apakah perempuan hari ini sudah benar-benar merdeka?
Kartini hidup dalam ruang yang penuh keterbatasan. Sebagai perempuan pada masa kolonial, ia menghadapi aturan sosial yang membatasi akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar proses belajar, tetapi jalan untuk membentuk manusia yang merdeka secara intelektual dan moral. Pandangan ini menempatkan perempuan bukan hanya sebagai individu yang berhak belajar, tetapi juga sebagai sosok yang berperan penting dalam membentuk generasi masa depan.
Karena itu, pendidikan bagi perempuan seharusnya tidak dipandang sebagai privilese, melainkan sebagai hak yang melampaui batas status sosial, ekonomi, maupun gender.
Jika dibandingkan dengan masa Kartini, perempuan hari ini memang memiliki akses yang jauh lebih luas. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan, berkarier, hingga berpartisipasi di ruang publik semakin terbuka.
Perempuan juga semakin terlihat di berbagai sektor, termasuk di ruang digital yang memberi peluang untuk menyuarakan pendapat. Namun, apakah keterbukaan ini benar-benar berarti kebebasan?
Realitas menunjukkan bahwa perempuan masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketidakadilan. Kekerasan seksual, termasuk di lingkungan pendidikan, masih terus terjadi.
Ironisnya, banyak korban memilih diam bukan karena tidak ingin bersuara, tetapi karena takut pada stigma, tekanan sosial, serta minimnya perlindungan yang berpihak pada mereka.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan perempuan hari ini tidak lagi semata soal akses, tetapi juga tentang rasa aman dan keadilan. Struktur sosial yang masih mempertahankan ketimpangan relasi kuasa membuat perempuan kerap berada pada posisi rentan.
Mengutip Ketua Bidang Immawati, Fahira Jannataynidan, perjuangan perempuan hari ini sejatinya tidak cukup hanya dilihat dari capaian yang tampak di permukaan. Perempuan mungkin terlihat lebih bebas hari ini, tetapi kebebasan itu belum sepenuhnya aman.
Faktanya masih ada tekanan sosial dan ketidakadilan yang membuat perempuan harus berpikir dua kali untuk bersuara. Untuk itu, perjuangan perempuan masa kini tidak bisa berhenti pada pencapaian simbolik.
Hemat penulis, perjuangan perempuan perlu bergerak menuju perubahan yang lebih mendasar, baik secara struktural maupun kultural. Dari sini, dibutuhkan kesadaran kolektif, solidaritas, serta keberanian untuk menolak normalisasi kekerasan dan menciptakan ruang yang lebih aman bagi semua.
Ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari kesadaran. Bahwa, setiap langkah perempuan layak hidup tanpa ketakutan dan tekanan. Hidup perempuan yang melawan! (Red)













Komentar