‘Ngalor Ngidul Nggowo Berkat’

Ilustrasi kegiatan selamatan (selametan) atau kenduri / kenduren. (Dok istimewa)

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan peminat masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Saya mendengar lagu itu di sebuah acara. Riuh. Hangat. Penuh nostalgia. Liriknya sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran organisasi sebesar NU.

Bapakku NU, Ibu Muslimat…
Kangmasku Ansor, Mbakyu Fatayat…
Melu NU pancen nikmat…
Ngalor ngidul nggowo berkat…”

Di situ saya berhenti. Bukan karena nadanya. Tapi karena satu frasa: “ngalor ngidul nggowo berkat.” Kalimat itu terasa ringan. Tapi justru di situlah masalahnya.

NU bukan organisasi kecil. Ia bukan sekadar kumpulan pengajian kampung yang hanya selesai di tahlilan dan kenduri. Ia adalah salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dengan jaringan pesantren, sekolah, rumah sakit, hingga struktur sosial yang mengakar sampai ke desa.

Tapi ketika narasi yang dipopulerkan justru “ngalor ngidul nggowo berkat”, ada sesuatu yang terasa bergeser.

Seolah-olah identitas ke-NU-an cukup dengan hadir, bergerak ke sana ke mari, lalu pulang membawa “berkat”. Selesai.

Padahal, organisasi besar tidak hidup dari “berkat”. Ia hidup dari manajemen, kualitas, dan keberanian berbenah.

Mari kita lihat dengan jujur. Banyak lembaga pendidikan di bawah NU—tidak semua, tapi cukup banyak—masih tertinggal.

Kurikulum gamang. SDM terbatas. Visi tidak seragam. Ada yang hidup, tapi tidak tumbuh. Ada yang berjalan, tapi tidak berlari.

Di saat yang sama, “tetangga sebelah” sudah bicara kualitas global. Standar internasional. Branding kuat. Ekosistem rapi. NU masih sibuk pada “ramai”. Belum sepenuhnya pindah ke “bermutu”.

Di sektor kesehatan, ceritanya mirip. Rumah sakit milik NU ada. Tapi berapa yang benar-benar menjadi rujukan utama? Berapa yang mampu bersaing dalam pelayanan, teknologi, dan kepercayaan publik?

Banyak yang masih berjalan seadanya. Tidak buruk, tapi juga tidak unggul. Padahal jumlah warga NU luar biasa besar. Seharusnya itu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus basis layanan yang kokoh.

Lebih menyedihkan lagi: ekonomi jamaah. Koperasi 26—yang dulu digadang-gadang sebagai simbol kemandirian—justru kolaps. Ini bukan sekadar kegagalan bisnis. Ini kegagalan sistemik.

Karena ekonomi bukan soal niat baik. Tapi soal tata kelola. Dan di sinilah kita harus jujur: terlalu lama NU nyaman di wilayah kultural, tapi kurang agresif di wilayah struktural dan profesional.

Lagu seperti yang dipopulerkan oleh Ning Umi Laila itu memang tidak salah. Ia lahir dari tradisi. Dari rasa memiliki. Dari kebanggaan menjadi bagian dari NU.

Tapi ketika lagu menjadi cermin cara berpikir, kita perlu hati-hati. Karena organisasi besar bisa terjebak dalam romantisme dirinya sendiri. Merasa besar. Merasa cukup. Merasa “pasti selamat karena banyak”. Padahal dunia berubah.

Berkat” itu penting. Tapi berkat tidak datang dari bergerak tanpa arah. Berkat lahir dari kerja yang terukur. Dari sistem yang rapi. Dari kualitas yang dijaga.

Kalau “ngalor ngidul” hanya dimaknai sebagai aktivitas tanpa orientasi, maka yang datang bukan berkat—tapi kelelahan kolektif. Ramai, tapi tidak berdampak.

NU sebenarnya punya semua modal. Jaringan kuat. Basis massa besar. Tradisi keilmuan panjang. Tokoh-tokoh hebat di berbagai bidang.

Tinggal satu yang sering kurang: disiplin organisasi modern. Berani mengevaluasi. Berani mengukur. Berani mengakui bahwa tidak semua berjalan baik-baik saja.

Saya membayangkan satu versi lirik yang berbeda:

Melu NU pancen nikmat
Nanging kudu luwih manfaat….”

Karena pada akhirnya, ukuran organisasi bukan pada seberapa sering ia berkumpul. Tapi pada seberapa besar ia memberi dampak.

Bukan sekadar “nggowo berkat”. Tapi benar-benar menciptakan kemajuan yang maslahat. Dan mungkin, di situlah NU perlu mulai bernyanyi dengan nada yang baru. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like