‘Ngalor Ngidul Nggowo Berkat’

- Penulis

Senin, 13 April 2026 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kegiatan selamatan (selametan) atau kenduri / kenduren. (Dok istimewa)

Ilustrasi kegiatan selamatan (selametan) atau kenduri / kenduren. (Dok istimewa)

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan peminat masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Saya mendengar lagu itu di sebuah acara. Riuh. Hangat. Penuh nostalgia. Liriknya sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran organisasi sebesar NU.

“Bapakku NU, Ibu Muslimat…
Kangmasku Ansor, Mbakyu Fatayat…
Melu NU pancen nikmat…
Ngalor ngidul nggowo berkat…”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di situ saya berhenti. Bukan karena nadanya. Tapi karena satu frasa: “ngalor ngidul nggowo berkat.” Kalimat itu terasa ringan. Tapi justru di situlah masalahnya.

NU bukan organisasi kecil. Ia bukan sekadar kumpulan pengajian kampung yang hanya selesai di tahlilan dan kenduri. Ia adalah salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Dengan jaringan pesantren, sekolah, rumah sakit, hingga struktur sosial yang mengakar sampai ke desa.

Tapi ketika narasi yang dipopulerkan justru “ngalor ngidul nggowo berkat”, ada sesuatu yang terasa bergeser.

Seolah-olah identitas ke-NU-an cukup dengan hadir, bergerak ke sana ke mari, lalu pulang membawa “berkat”. Selesai.

Padahal, organisasi besar tidak hidup dari “berkat”. Ia hidup dari manajemen, kualitas, dan keberanian berbenah.

Mari kita lihat dengan jujur. Banyak lembaga pendidikan di bawah NU—tidak semua, tapi cukup banyak—masih tertinggal.

Baca Juga :  Pendidikan dan Pengalaman Nilai-nilai Pancasila dalam Mengatasi Intoleransi

Kurikulum gamang. SDM terbatas. Visi tidak seragam. Ada yang hidup, tapi tidak tumbuh. Ada yang berjalan, tapi tidak berlari.

Di saat yang sama, “tetangga sebelah” sudah bicara kualitas global. Standar internasional. Branding kuat. Ekosistem rapi. NU masih sibuk pada “ramai”. Belum sepenuhnya pindah ke “bermutu”.

Di sektor kesehatan, ceritanya mirip. Rumah sakit milik NU ada. Tapi berapa yang benar-benar menjadi rujukan utama? Berapa yang mampu bersaing dalam pelayanan, teknologi, dan kepercayaan publik?

Banyak yang masih berjalan seadanya. Tidak buruk, tapi juga tidak unggul. Padahal jumlah warga NU luar biasa besar. Seharusnya itu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus basis layanan yang kokoh.

Lebih menyedihkan lagi: ekonomi jamaah. Koperasi 26—yang dulu digadang-gadang sebagai simbol kemandirian—justru kolaps. Ini bukan sekadar kegagalan bisnis. Ini kegagalan sistemik.

Karena ekonomi bukan soal niat baik. Tapi soal tata kelola. Dan di sinilah kita harus jujur: terlalu lama NU nyaman di wilayah kultural, tapi kurang agresif di wilayah struktural dan profesional.

Lagu seperti yang dipopulerkan oleh Ning Umi Laila itu memang tidak salah. Ia lahir dari tradisi. Dari rasa memiliki. Dari kebanggaan menjadi bagian dari NU.

Baca Juga :  Cara Gen Z Perjuangkan Nilai Keadilan Lewat Media Sosial

Tapi ketika lagu menjadi cermin cara berpikir, kita perlu hati-hati. Karena organisasi besar bisa terjebak dalam romantisme dirinya sendiri. Merasa besar. Merasa cukup. Merasa “pasti selamat karena banyak”. Padahal dunia berubah.

“Berkat” itu penting. Tapi berkat tidak datang dari bergerak tanpa arah. Berkat lahir dari kerja yang terukur. Dari sistem yang rapi. Dari kualitas yang dijaga.

Kalau “ngalor ngidul” hanya dimaknai sebagai aktivitas tanpa orientasi, maka yang datang bukan berkat—tapi kelelahan kolektif. Ramai, tapi tidak berdampak.

NU sebenarnya punya semua modal. Jaringan kuat. Basis massa besar. Tradisi keilmuan panjang. Tokoh-tokoh hebat di berbagai bidang.

Tinggal satu yang sering kurang: disiplin organisasi modern. Berani mengevaluasi. Berani mengukur. Berani mengakui bahwa tidak semua berjalan baik-baik saja.

Saya membayangkan satu versi lirik yang berbeda:

“Melu NU pancen nikmat
Nanging kudu luwih manfaat….”

Karena pada akhirnya, ukuran organisasi bukan pada seberapa sering ia berkumpul. Tapi pada seberapa besar ia memberi dampak.

Bukan sekadar “nggowo berkat”. Tapi benar-benar menciptakan kemajuan yang maslahat. Dan mungkin, di situlah NU perlu mulai bernyanyi dengan nada yang baru. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 55 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB