Aktor Baru itu Bernama Pakistan, Wajah Netralitas Negara Islam atau Sekedar Cari Aman?

- Penulis

Kamis, 9 April 2026 - 08:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Karikatur Presiden Pakistan Asif Ali Zardari  Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan 
Presiden AS Donald Trump sedang berdansa. (Ilustrasi: ChatGBT)

Karikatur Presiden Pakistan Asif Ali Zardari Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump sedang berdansa. (Ilustrasi: ChatGBT)

Oleh: Badat Alauddin, Alumni Islamic International University islamabad Pakistan; Anggota GP Ansor Center Regional Studi Pakistan

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tengah panasnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Pakistan memilih jalan yang tampak “aman”, dengan bersikap netral.

Namun, jika dilihat lebih dalam, sikap ini bukan sekadar menghindari konflik. Ini adalah strategi yang penuh kalkulasi, sebuah cara untuk tetap relevan tanpa harus terseret ke dalam pusaran krisis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan Donald Trump yang membuka peluang dialog melalui proposal Iran menunjukkan bahwa konflik ini belum sepenuhnya buntu. Ada ruang diplomasi, sekecil apa pun. Dan di ruang itulah Pakistan menemukan momentumnya.

Alih-alih berdiri di salah satu kubu, Pakistan justru memposisikan diri sebagai penghubung ditengah carut marutnya ekonomi negara itu dengan melonjak tajam harga bahan bakar karena krisis ini.

Pakistan mengambil peran ini bukan hanya kebetulan. Secara geografis, historis, dan politik, Pakistan memiliki kedekatan dengan kedua pihak yang bertikai.

Dengan Iran, hubungan Pakistan bukan sekadar hubungan antarnegara. Keduanya berbagi perbatasan sepanjang ratusan kilometer, memiliki kedekatan budaya, serta hubungan sejarah yang panjang sejak awal kemerdekaan Pakistan.

Bahkan, Iran adalah salah satu negara pertama yang mengakui Pakistan pada tahun 1947. Hubungan ini diperkuat oleh faktor sosial-keagamaan, termasuk besarnya populasi Syiah di Pakistan.

Di sisi lain, hubungan Pakistan dengan Amerika Serikat juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ini justru menunjukkan tren membaik.

Kedekatan personal antara Jendral Asim Munir (Kepala Staff Angkatan Darat Pakistan) dan Trump menjadi salah satu faktor yang mempercepat pemulihan hubungan tersebut.

Baca Juga :  Seremonial Bertambah, Mengapa Kecemasan Generasi Tak Berkurang?

Ditambah lobby Ishaq Daar (Menlu Pakistan) yang langsung terbang ke Beijing, maka diplomasi tidak lagi hanya soal negara, tetapi juga soal individu yg kompeten dalam percaturan politik internasional.

Inilah yang membuat Pakistan berada di posisi unik, cukup dekat untuk dipercaya oleh dua pihak yang saling curiga. Dan ini merupakan peluang untuk “unjuk gigi”.

Dibalik Sikap Pakistan

Tapi, penting pula untuk disadari bahwa netralitas Pakistan bukanlah sikap idealis yang didorong semata oleh keinginan menciptakan perdamaian dunia. Ada kepentingan besar yang dipertaruhkan, terutama agar ‘dapur tetap mengepul’,

Pakistan sangat bergantung pada stabilitas kawasan, khususnya jalur energi global melalui Selat Hormuz. Jalur ini adalah urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. Jika konflik berkepanjangan mengganggu jalur ini, dampaknya akan langsung terasa di dalam negeri Pakistan.

Kenaikan harga energi bukan sekadar angka statistik. Ia berarti meningkatnya biaya hidup, tekanan pada anggaran negara, dan potensi krisis ekonomi yang lebih dalam.

Bagi pemerintah yang sudah menghadapi keterbatasan fiskal, kondisi ini bisa menjadi pukulan berat. Dengan kata lain, netralitas adalah bentuk perlindungan diri.

Pakistan tidak ingin mengulang skenario di mana ia terseret dalam konflik regional yang mahal secara politik dan ekonomi. Pengalaman masa lalu telah mengajarkan bahwa keterlibatan dalam konflik besar seringkali membawa lebih banyak kerugian daripada keuntungan.

Namun, strategi ini bukan tanpa tantangan. Bermain di dua sisi membutuhkan keseimbangan yang sangat presisi. Terlalu condong ke Iran bisa merusak hubungan dengan Amerika Serikat.

Sebaliknya, terlalu dekat dengan Washington dapat menimbulkan kecurigaan dari Teheran. Pakistan harus terus berjalan di atas garis tipis, cukup dekat untuk berpengaruh, tetapi tidak terlalu dekat untuk dicurigai.

Baca Juga :  Mengubah Keindahan Alam Bangka Belitung Menjadi Emas Ekonomi Berkelanjutan

Di sinilah kecerdikan diplomasi Pakistan diuji. Negara ini tidak hanya harus menjaga hubungan, tetapi juga mengelola persepsi. Dalam geopolitik, persepsi seringkali sama pentingnya dengan realitas.

Di balik risiko tersebut, tersimpan peluang besar. Jika Pakistan mampu mempertahankan perannya sebagai mediator yang kredibel, posisinya di kancah internasional bisa meningkat signifikan.

Ia tidak lagi dipandang sebagai negara yang sekadar “menghindari konflik”, tetapi sebagai aktor yang mampu “mengarahkan perdamaian”.

Nilai Strategis

Peran semacam ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Dunia membutuhkan pihak ketiga yang dipercaya dan Pakistan berpotensi mengisi ruang tersebut.

Namun, pertanyaan besarnya tetap ada: apakah Pakistan benar-benar mengendalikan permainan, atau hanya berusaha bertahan di tengah tekanan kekuatan besar?Jawabannya mungkin ada di antara keduanya.

Pakistan memang tidak memiliki kekuatan sebesar Amerika Serikat atau pengaruh ideologis seperti Iran. Tetapi dengan memanfaatkan posisinya secara cerdas, ia mampu tetap relevan dalam dinamika yang jauh lebih besar dari dirinya.

Pada akhirnya, netralitas Pakistan bukanlah tanda pasif atau ragu-ragu. Ini adalah bentuk strategi bertahan sekaligus peluang untuk naik kelas dalam politik global.

Dan pastinya negara islam ini berani ambil resiko menjadi aktor, sesuai dengan pepatah klasik urdu “Zindagi ek khel hai, aur khatra uss ka sab se bara hissa hai” Artinya : Hidup adalah permainan, dan risiko adalah bagian terbesarnya.

Sebuah permainan sunyi, namun penuh makna di mana yang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas kawasan, tetapi juga masa depan posisi negara Islam sebagai aktor perdamaian di dunia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB