Oleh: Gorgonius Darsan, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Unika St. Paulus Ruteng
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kompetisi dalam lingkungan Kampus telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari. Mahasiswa saling bersaing dalam meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), aktif dalam organisasi, mengikuti lomba-lomba, hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Dalam batas yang wajar, persaingan tersebut mampu mendorong mahasiswa menjadi lebih disiplin, produktif, serta bersungguh-sungguh dalam mengembangkan potensi diri.
Permasalahan muncul ketika kompetisi bergeser menjadi ambisi yang berlebihan. Kampus yang menjadi wadah sebagai ruang dialog, pertukaran ide, dan pertumbuhan intelektual justru berubah menjadi ajang pembuktian diri dan persaingan gengsi.
Mahasiswa tidak lagi berfokus pada pendalaman ilmu, melainkan lebih menekankan pencapaian nilai tinggi dan pengakuan sosial. IPK kemudian dipandang sebagai tolok ukur utama harga diri, sementara proses pembelajaran dan nilai integritas perlahan terabaikan.
Ambisi yang tidak terkendali berpotensi merusak hubungan antarmahasiswa. Sikap tidak berbagi materi, menutup diri dalam diskusi, bahkan tindakan tidak jujur dalam kegiatan akademik dapat muncul demi mempertahankan prestasi.
Tekanan untuk selalu unggul baik yang datang dari keluarga, lingkungan pergaulan, maupun dorongan pribadi sering kali membuat mahasiswa merasa gagal ketika hasil yang dicapai tidak sesuai harapan. Padahal, capaian akademik bukan satu-satunya indikator kualitas seseorang.
Pada era yang menuntut kolaborasi seperti sekarang, kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, serta menjunjung tinggi integritas justru menjadi kompetensi yang lebih relevan dibandingkan sekadar kemampuan bersaing secara individual.
Perguruan tinggi seharusnya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk saling mendukung, berbagi pemikiran, dan berkembang bersama dalam suasana yang sehat dan konstruktif.
Maka, kompetisi di bangku kuliah semestinya berfungsi sebagai sarana untuk menguji kapasitas diri dan memperkuat karakter, bukan merusak persaudaraan.
Meraih prestasi akademik tentu merupakan hal yang baik, namun membangun kepribadian yang berintegritas serta mampu bekerja sama dengan orang lain jauh lebih bernilai dalam kehidupan jangka panjang. (Red)