Parlementer atau Presidensial: Mana yang Paling Cepat Memberantas Korupsi?

- Penulis

Minggu, 12 April 2026 - 07:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Daden, mahasiswa Universitas Pamulang (Kampus Serang)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap kali indeks persepsi korupsi kita anjlok, sebuah pertanyaan lama namun mendesak selalu muncul ke permukaan: apakah ada yang salah dengan desain pemerintahan kita?

Di perkuliahan kita sering diajarkan melihat stabilitas sistem presidensial. Namun, melihat realitas politik hari ini, kita perlu bertanya, apakah desain institusional kita justru menjadi tameng yang nyaman bagi para pemburu rente?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Anomali Presidensialisme dan Barter Kekuasaan

Secara konstitusional, Indonesia adalah negara presidensial. Namun, realitasnya kita terkadang menghadapi apa yang disebut Saldi Isra sebagai gejala parlementerisasi.

Dalam studinya menyoroti bahwa Presiden sering kali tersandera oleh DPR dalam pengambilan keputusan strategis. Akibatnya, sistem presidensial kita kehilangan kemurniannya dan berubah menjadi ajang transaksional.

Dalam sistem parlementer, eksekutif adalah bagian dari parlemen. Jika seorang menteri terindikasi korupsi, oposisi bisa langsung menggoreng isu tersebut di forum terbuka dan menjatuhkan seluruh kabinet jika perlu.

Baca Juga :  Framing Politik di Media Sosial: Ketika Narasi Mengalahkan Fakta

Hal ini menimbulkan ada rasa takut kolektif, jatuhnya satu orang adalah jatuhnya semua orang.

Bandingkan dengan sistem presidensial kita, di mana pejabat yang bermasalah sering kali masih bisa berlindung di balik tembok koalisi yang tebal hingga masa jabatan berakhir lima tahun kemudian.

Akar Masalah: Bukan Sekadar Ganti Baju

Namun, mengganti sistem menjadi parlementer tanpa membenahi partai politik adalah kesia-siaan.

Pakar politik Mochtar Pabottingi berkali-kali mengingatkan bahwa krisis demokrasi kita berakar pada integritas partai politik yang keropos. Tanpa reformasi pendanaan partai, sistem pemerintahan apa pun tetap akan menjadi ladang korupsi.

Senada dengan itu, Jimly Asshiddiqie menekankan pentingnya penguatan “cabang kekuasaan keempat” seperti KPK dan BPK.

Baca Juga :  Euforia Ekonomi Digital: Antara Akselerasi dan Ilusi Kesejahteraan

Artinya, mau sistemnya presidensial atau parlementer, pemberantasan korupsi hanya akan melesat jika lembaga pengawas memiliki independensi mutlak dari intervensi politik.

Menagih Nyali Reformasi

Jika pertanyaannya adalah mana yang lebih cepat, secara teoritis sistem parlementer memiliki jalur “eksekusi” politik yang lebih ringkas untuk menghukum pejabat korup.

Namun, bagi Indonesia, masalahnya bukan sekadar soal memilih “mesin” presidensial atau parlementer, melainkan soal siapa yang memegang kemudinya.

Saya berpendapat bahwa yang paling mendesak bukanlah sekadar membedah konstitusi secara total, melainkan memutus rantai patronase politik dalam tubuh partai.

Tanpa integritas di tingkat partai, parlementer hanya akan memindahkan lokasi korupsi dari birokrasi ke meja-meja komisi parlemen. Kita tidak hanya butuh sistem yang stabil, tapi sistem yang memiliki “urat malu” politik untuk mundur ketika integritasnya tercoreng. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB