Antara Kemudahan dan Kemerdekaan: Krisis Kemandirian Belajar di Era AI

- Penulis

Rabu, 22 April 2026 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilistrasi: Pinterest

Ilistrasi: Pinterest

Oleh: Mario Oktavianus Magul, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia, salah satunya dalam bidang pendidikan.

Munculnya beragam mesin pencari dan kecerdasan buatan, seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan pelbagai bentuk akal imitasi lainnya telah membuka kemungkinan baru bagi siswa untuk memperoleh informasi secara cepat dan mudah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, dalam banyak kesempatan, jawaban atas suatu pertanyaan dapat diperoleh dalam hitungan detik. Melalui penyusunan prompt sederhana, pengguna dapat memperoleh jawaban yang runtut dan sistematis.

Fenomena ini semakin menguat pasca merebaknya virus COVID-19, ketika dinamika pembelajaran mengalami perubahan yang signifikan. Digitalisasi Pendidikan mulai diberlakukan secara luas, dan penggunaan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan studi seseorang.

Kendati demikian, realitas ini juga turut menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kemajuan teknologi telah membawa banyak kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, di lain sisi, kemudahan tersebut justru berpotensi melemahkan semangat juang para siswa dalam proses belajar.

Teknologi yang seharusnya menjadi sarana pendukung perkembangan diri acapkali disalahgunakan sebagai “jalan instan” untuk menyelesaikan pelbagai tugas atau persoalan.

Akibatnya, daya juang siswa menurun, kreativitas melemah, dan kemandirian mereka dalam berpikir pun menjadi terhambat.

Survei OECD (2025) menunjukkan bahwa 62% siswa di negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami penurunan motivasi intrinsik belajar akibat AI, sementara penelitian di Computers & Education (2024) menemukan bahwa siswa yang sering menggunakan AI untuk tugas juga mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis hingga 25%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa wajah pendidikan Indonesia saat ini masih memprihatinkan, dan belum sepenuhnya mencerminkan cita-cita pendidikan ideal yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Dengan demikian, kita perlu bertanya: apakah kemudahan teknologi justru mencederai kemandirian kita dalam berpikir?

Antara Idealitas Pendidikan dan Realitas Digital

Tak dapat dimungkiri, bahwa situasi Pendidikan Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Beragam persoalan turut berseliweran di berbagai institusi Pendidikan, baik formal maupun non-formal, dan hal itu turut memperlebar jarak antara kondisi yang ideal dan kenyataan.

Pendidikan ideal sejatinya tidak hanya sekadar berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada suatu upaya pembentukan manusia yang kritis, inovatif, kreatif. Akan tetapi, dalam kenyataannya, makna pendidikan itu kerap mengalami penyempitan.

Kebanyakan orang merasa lebih nyaman untuk memperoleh jawaban instan melalui kecerdasan buatan, daripada berproses dalam dialog dan pencarian mandiri. Ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk menghindari proses belajar yang mendalam.

Beragam tugas acapkali diselesaikan dengan mentalitas “copy-paste”, tanpa adanya upaya untuk memahami materi secara kritis. Akibatnya, belajar tidak lagi dipahami sebagai proses pembentukan diri, tetapi hanya sekadar formalitas untuk memenuhi tuntutan akademik.

Dalam konteks ini, pendidikan yang seharusnya memerdekakan, justru berpotensi memenjarakan manusia dalam ketergantungan yang tak terkontrol terhadap teknologi.

Senada dengan hal di atas, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses memerdekakan manusia, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Baca Juga :  Ketika Negara Tak Lagi Maha Kuasa: Hukum Internasional Kini Lindungi Individu

Kemerdekaan tersebut mencakup adanya kemampuan untuk berpikir mandiri, mengambil keputusan secara bijak, dan bertanggung jawab atas diri sendiri.

Dalam kerangka ini, teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung proses pembebasan, bukan pengganti peran manusia dalam berpikir.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa pendidikan yang ideal tidak hanya sekadar berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat (lingkungan sosial).

Ketiga lingkungan ini dalam bahasa Ki Hajar Dewantara biasa disebut sebagai tri pusat pendidikan. Ketiganya memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk karakter dan mentalitas belajar individu.

Akan tetapi, meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi menjadi indikasi adanya suatu ketidakseimbangan dalam ketiga pusat tersebut.

Dalam lingkungan keluarga, yang seharusnya menjadi basis penting pembentukan karakter, peran orang tua acapkali belum optimal.

Penggunaan teknologi yang tidak terkontrol, dan kurangnya pendampingan yang memadai, membuat anak cenderung memandang teknologi hanya sekadar bagian dari sarana hiburan dan “jalan pintas”. Akibatnya, keluarga kehilangan fungsinya sebagai dasar pembentukan kemandirian.

Di lingkungan sekolah, proses pembelajaran juga belum sepenuhnya mampu mendorong kreativitas dan partisipasi aktif siswa. Beragam tugas yang diberikan kepada mereka terkadang masih bersifat repetitif dan berorientasi pada alternatif jawaban yang instan.

Akibatnya, siswa hanya terbiasa mencari jawaban, tanpa memiliki pemahaman yang mendalam.

Sementara itu, dalam lingkungan masyarakat, budaya instan yang selalu mengutamakan prinsip efisiensi dan kecepatan, acapkali juga telah mengabaikan pentingnya proses belajar.

Secara tidak langsung, hal ini tentu turut menormalisasi adanya mentalitas copy-paste, dan penggunaan teknologi yang tak terkontrol.

Dengan demikian, ketergantungan teknologi bukanlah sekadar persoalan individu, melainkan persoalan struktural yang kompleks, yang melibatkan ketiga ekosistem pendidikan tersebut.

Menata Ulang Tripusat Pendidikan

Persoalan seputar pendidikan sejatinya selalu menuntut adanya jawaban yang tepat sasar. Ia tidak dapat diatasi hanya sekadar berfokus pada hal-hal yang parsial, tetapi juga perlu melibatkan seluruh ekosistem pendidikan secara integral.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, agar teknologi dapat digunakan secara tepat sebagai sarana pembebasan manusia.

Dalam konteks ini, penulis melihat bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara yang tampak dalam prinsip terkenalnya: “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” (di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dukungan) menjadi sangat relevan.

Pasalnya, prinsip ini hendak kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal aktivitas transfer pengetahuan, tetapi juga tentang kehadiran dan keterlibatan yang aktif dalam setiap proses pembelajaran.

Dengan demikian, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatian dalam upaya membangun sinergi yang integral antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Pertama, dalam lingkungan keluarga, orang tua perlu kembali mengambil peran sebagai pendidik yang pertama dan utama. Mereka perlu menyadari bahwa mereka memiliki kendali penuh untuk mendampingi anak dalam hal penggunaan teknologi.

Anak tidak hanya sekadar cukup untuk diberi akses terhadap perangkat digital, tetapi juga perlu diberi arahan dan bimbingan yang jelas akan penggunaan yang bijak dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Surat Terbuka untuk Presiden Mahasiswa Politeknik Medica Farma Husada Mataram: Selesaikan Tugas atau Sekadar Menghitung Hari?

Adanya pembatasan waktu penggunaan smartphone dan penanaman nilai disiplin dapat menjadi langkah penting agar teknologi tidak disalahgunakan.

Kedua, dalam lingkungan sekolah, guru juga perlu mengembangkan metode pembelajaran yang lebih partisipatif dan kontekstual. Mereka tidak cukup untuk hanya sekadar hadir sebagai pihak “pemberi informasi”, tetapi juga perlu terlibat sebagai partner belajar yang mampu mendorong siswa untuk berpikir secara kritis dan kreatif.

Dalam konteks ini, metode pembelajaran yang berbasis proyek, diskusi, dan pemecahan masalah barangkali dapat lebih diprioritaskan dari sekadar tugas mekanis yang alternatif jawabannya dapat dengan mudah ditemukan dari internet.

Selain itu, penanaman etika akademik juga patut diberi perhatian untuk menangkal maraknya praktik plagiarisme.

Ketiga, dalam lingkungan sosial, masyarakat juga perlu membangun suatu iklim akademik yang kondusif untuk mendukung perkembangan intelektual.

Adanya komunitas studi, forum-forum diskusi, dan kegiatan literasi, barangkali juga dapat menjadi ruang bertumbuhnya pola pikir yang kritis dan reflektif.

Selain itu, mereka juga perlu memiliki kesadaran kolektif bahwa penggunaan teknologi secara bijak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Dengan demikian, solusi yang penulis tawarkan dalam konteks ini pada dasarnya tidak berfokus pada penolakan terhadap teknologi dengan segala bentuk kemajuannya, tetapi lebih kepada pengelolaannya yang perlu dilakukan secara bijaksana dalam kerangka tripusat pendidikan.

Sebab, ketika dalam keluarga, orang tua mampu membentuk karakter anak, dan dalam sekolah, guru mampu mempertajam intelektualitas siswa, serta dalam lingkungan sosial, masyarakat dapat membangun budaya belajar, maka teknologi tidak lagi menjadi suatu masalah atau ancaman, melainkan alat bantu untuk memperkaya proses pendidikan.

Persis, dalam konteks inilah cita-cita pendidikan yang memerdekakan – sebagaimana digagas oleh Ki Hajar Dewantara – dapat kembali diwujudkan di tengah tantangan zaman modern.

Catatan Akhir

Pada akhirnya, kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan telah menjadi fenomena yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dewasa ini. Ia adalah sarana yang nilainya bergantung dari cara manusia menggunakannya.

Krisis kemandirian belajar yang terjadi saat ini hemat penulis dapat menjadi indikasi konkret bahwa persoalan utama tidaklah terletak pada keberadaan teknologinya, tetapi pada melemahnya kesadaran kritis kita dalam memaknai setiap proses belajar yang ada.

Sebab, ketika pelbagai kemudahan turut menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan diri menjadi pelarian menuju alternatif jawaban instan–maka di saat itu pula, pendidikan telah kehilangan esensinya sebagai sarana pembebasan.

Oleh karena itu, upaya menata ulang pendidikan seyogyanya perlu kembali kepada gagasan mendasar tentang kemerdekaan manusia sebagaimana yang ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara.

Bahwasanya, melalui penguatan tripusat pendidikan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—teknologi dapat kembali diarahkan pada fungsinya, yakni sebagai sarana yang dapat memperkaya proses berpikir manusia, dan bukan menggantikannya.

Dengan adanya sinergi yang seimbang di antara ketiga pusat tersebut, niscaya kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak lagi menjadi ancaman, tetapi peluang untuk menumbuhkan kemerdekaan dan kemandirian berpikir dalam menghadapi tantangan zaman. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB