Borgol KPK Memang Viral, Namun Pengkhianatan DPRD Lebih Brutal

- Penulis

Selasa, 27 Januari 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ali Achmadi, 
Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh
Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Ali Achmadi, Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati, Jawa Tengah

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Saya ingat betul cerita itu. Bukan karena dramanya, tapi karena pengkhianatannya terlalu rapi untuk dilupakan.

Soal Bupati Sudewo yang digelandang KPK sudah banyak dibahas. OTT selalu menarik. Ada borgol, ada rompi oranye, ada wajah pucat. Media suka. Publik lega. Seolah semuanya selesai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal tidak. Sebelum KPK turun tangan, ada satu lembaga yang lebih dulu menyakiti rakyat Pati: DPRD-nya sendiri. Waktu itu, DPRD Pati tampak gagah.

Mereka datang ke rakyat. Duduk di tengah demonstrasi. Wajahnya serius. Nada bicaranya prihatin. Tanda tangannya lengkap. Mereka sepakat: pemakzulan! Rakyat percaya? Tentu saja! Karena yang bicara adalah “wakil rakyat”.

Lalu datanglah hari itu: 31 Oktober 2025. Hari biasa, sebenarnya. Tidak hujan. Tidak banjir. Tidak gempa. Tidak ada tanda-tanda kiamat. Tapi di situlah demokrasi lokal diuji, bukan lewat spanduk, melainkan lewat voting.

Hasilnya? Enam fraksi berbalik arah “berkhianat”. Pada hari itu juga, bukan hanya demokrasi yang dikhianati, tapi juga dua warga Pati yang dikorbankan atas nama ketertiban.

Baca Juga :  Eggi Sudjana dan Daur Ulang Limbah Politik

Yang kemarin lantang soal PBB naik 250 persen, hari itu bilang “belum cukup alasan”. Yang kemarin marah soal pemecatan pegawai RSUD, hari itu tiba-tiba lupa. Yang kemarin menyebut bupati arogan, hari itu mendadak santun. Lengkap. Enam fraksi. Bukan satu. Bukan dua. Enam.

Di luar gedung, ribuan rakyat menunggu. Mereka tidak sedang menonton hiburan. Mereka menunggu harapan. Ketika hasil voting diumumkan, yang runtuh bukan tenda aksi, tapi kepercayaan. Ban dibakar. Bukan karena rakyat liar. Tapi karena kata-kata sudah tak lagi berguna.

Apa gunanya tanda tangan, kalau bisa dicabut di ruang paripurna? Apa gunanya janji, kalau hanya hidup selama kamera menyala?

Hari itu DPRD Pati tidak sekadar menolak pemakzulan. Mereka mempraktikkan satu hal yang paling dibenci rakyat: pura-pura bersama, lalu menikam dari belakang.

Ketika KPK datang. Borgol dipasang. Semua orang berkata, “Tuh kan, rakyat benar.” Betul! Tapi jangan lupa: sebelum KPK menangkap bupati, DPRD sudah lebih dulu menangkap kepercayaan rakyat—lalu membunuhnya pelan-pelan lewat palu sidang.

Baca Juga :  Demonstrasi Hari ini: Ketika Retakan Dituduh, Bukan Diperbaiki

OTT KPK memang keras. Tapi yang lebih memalukan adalah telanjangnya fraksi-fraksi itu di hadapan sejarah. Dalih prosedur runtuh. Alasan mekanisme habis. Fakta berbicara tanpa perlu orasi.

Mereka bukan kalah strategi. Mereka kalah ingatan. Lupa, siapa yang memberi suara. Lupa pula bahwa kursi itu bukan milik pribadi, melainkan titipan.

Rakyat Pati tidak perlu disuruh cepat-cepat memaafkan. Tidak perlu disuruh lupa demi stabilitas. Karena lupa adalah pupuk paling subur bagi pengkhianatan berikutnya. Catat partainya. Catat fraksinya. Catat wajahnya.

Sejarah memang sering datang terlambat. KPK juga begitu. Tapi keduanya punya satu kesamaan: tidak pernah salah alamat.

Di Pati, beberapa hari yang lalu, yang paling menyedihkan bukan borgol di tangan bupati. Melainkan kenyataan bahwa wakil rakyat lebih dulu menjual rakyatnya sendiri. Dan rakyat, meski sering dikalahkan, namun akan selalu menang dalam ingatan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin
Solo Membara, Demokrasi Diuji
Satu Kerja, Lima Nama: Kenapa “Tugas Kelompok” Sering Berakhir Tidak Adil?
Gol yang Membakar Bumi
Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa
Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum
Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi
Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 07:48 WIB

Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:15 WIB

Solo Membara, Demokrasi Diuji

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:17 WIB

Satu Kerja, Lima Nama: Kenapa “Tugas Kelompok” Sering Berakhir Tidak Adil?

Senin, 20 Juli 2026 - 21:58 WIB

Gol yang Membakar Bumi

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:25 WIB

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa

Berita Terbaru