Kesepakatan Bebas Bea Masuk AS-RI Dinilai Berisiko, Pakar UI: Negara Mitra Bisa Cabut dari Indonesia

- Penulis

Kamis, 17 Juli 2025 - 08:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto / pinterest.com

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto / pinterest.com

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengenai pembebasan bea masuk barang asal Amerika Serikat menuai sorotan tajam dari berbagai pihak.

Salah satunya datang dari Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, yang mengingatkan potensi gejolak diplomatik dan ekonomi dari negara-negara mitra dagang lama Indonesia.

Dalam acara Obrolan Newsroom yang disiarkan Kompas.com pada Rabu (16/7/2025), Hikmahanto menyatakan bahwa Indonesia harus berhati-hati karena kesepakatan khusus dengan AS ini bisa menimbulkan kecemburuan dan reaksi keras dari mitra strategis seperti China, Uni Eropa, hingga Jepang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita harus mewaspadai bahwa negara-negara seperti China, Uni Eropa, dan Jepang bisa merasa dianaktirikan. Mereka bisa saja mengatakan, ‘Kalau begini caranya, saya keluar saja dari Indonesia,’” tegas Hikmahanto.

Baca Juga :  Guncang Dunia! 7 Negara Amerika Latin Ngebet Gabung BRICS, Siap Lawan Dominasi Dolar AS?

Menurutnya, negara-negara besar tersebut kemungkinan akan menempuh langkah serupa seperti AS—yakni dengan menetapkan tarif tinggi terlebih dahulu agar Indonesia mau bernegosiasi dan memberikan keringanan bea masuk.

“Bayangkan kalau semua negara besar mengambil sikap seperti itu. Akhirnya Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk luar negeri, tanpa diikuti manfaat jangka panjang seperti transfer teknologi atau penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Hikmahanto, adalah dampak dari kebijakan ini terhadap lapangan kerja di dalam negeri. Ia menilai kesepakatan bebas bea masuk justru lebih menguntungkan negara asal produk, bukan Indonesia sebagai pasar tujuan.

Baca Juga :  Kim Jong Un Turun Gunung, Korea Utara Ingatkan Amerika Serikat Tak Ikut Campur Perang Israel-Iran

“Lapangan pekerjaan tidak tercipta di Indonesia. Justru terbuka di negara-negara yang produknya masuk tanpa bea. Ini sangat merugikan dalam jangka panjang,” tambahnya.

Ia pun menyerukan agar pemerintah Indonesia berhitung matang dalam setiap kerja sama dagang, terutama yang bersifat bilateral dan memberi keistimewaan pada satu pihak. Ia mengingatkan agar tidak ada kebijakan yang justru merugikan kepentingan nasional dan kedaulatan ekonomi Indonesia.

“Diplomasi ekonomi kita harus cerdas. Jangan sampai karena ingin dekat dengan satu negara, kita malah kehilangan kepercayaan dari banyak negara lain,” pungkas Hikmahanto. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB