Konflik Thailand vs Kamboja, Pengamat Politik Internasional Unwahas: Menguji Kesaktian ASEAN

- Penulis

Jumat, 25 Juli 2025 - 10:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Sugiarto Pramono. (dok.istimewa)

Dosen Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Sugiarto Pramono. (dok.istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ledakan, jet tempur, dan roket mengguncang kawasan Segitiga Zamrud! Perang bersenjata pecah antara Thailand dan Kamboja pada Kamis (24/7), menewaskan setidaknya 14 orang dan mengguncang stabilitas kawasan ASEAN.

Konflik ini bukan hanya saling lempar senjata—drone, artileri berat, hingga jet tempur dikerahkan kedua negara dalam bentrokan brutal di kawasan yang dikenal dengan situs bersejarah Ta Muen Thom, yakni titik pertemuan tiga negara: Thailand, Kamboja, dan Laos.

Kementerian Pertahanan Thailand menyebut 13 warga sipil dan 1 prajurit menjadi korban tewas akibat rentetan serangan roket yang diluncurkan dari wilayah Kamboja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serangan itu memicu respons keras dari militer Thailand, yang disebut membalas dengan serangan udara terarah ke titik-titik strategis di perbatasan.

Namun, konflik ini bukan hanya soal perbatasan. “Ini tentang identitas nasional dan harga diri sebuah negara,” kata pengamat politik internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Sugiarto Pramono.

Baca Juga :  Buntut Kasus Sipil Rohingya, Pemimpin Junta Militer Myanmar Jadi Target Penangkapan Mahkamah Internasional

Menurutnya, konflik ini menguji kesaktian ASEAN dalam menjaga perdamaian regional. Prinsip non-intervensi yang dipegang ASEAN selama ini justru membuat organisasi tersebut lambat bergerak.

“Kepercayaan publik terhadap ASEAN sedang diuji. Jika terus diam, ASEAN bisa kehilangan relevansinya di mata dunia internasional,” tegas Pramono, sapaan akrab Sugiarto Pramono.

Dosen Hubungan Internasional Unwahas ini menyoroti pentingnya gencatan senjata segera, disertai jalur diplomasi bilateral yang harus dibuka secepat mungkin.

Lebih lanjut, Pramono juga mendorong ASEAN untuk mengaktifkan mekanisme ASEAN Political-Security Community (APSC) guna memfasilitasi dialog formal antarnegara.

Tak hanya itu, solusi hukum internasional juga diusulkan. “Mahkamah Internasional dan arbitrase bisa menjadi jalan damai yang mengikat,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya Track II diplomacy melalui akademisi, media, dan masyarakat sipil agar konflik tidak membesar lewat narasi publik yang liar.

Baca Juga :  Kerennya China! Sudah Tanam 66 Miliar Pohon, Pertumbuhannya Malah Ngebut Kalahkan Hutan Alami

Menariknya, Indonesia dinilai punya peran strategis. “Sebagai negara besar dan pemegang prinsip diplomasi damai, Indonesia harus tampil sebagai mediator netral. Bahkan, menjadi tuan rumah pertemuan darurat ASEAN,” ungkap sosok yang juga pengajar Magister Ilmu Politik (MIP) Unwahas.

Ia mendorong agar ASEAN Summit luar biasa atau pertemuan darurat para Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) segera digelar di Jakarta untuk mencegah eskalasi lebih jauh.

Konflik ini bukan hanya mengancam dua negara, tapi juga menjadi alarm keras bagi masa depan ASEAN. Ketidakmampuan menyelesaikan konflik antaranggota bisa mengikis kepercayaan dunia pada misi perdamaian dan integrasi regional yang selama ini dibanggakan.

Apakah ASEAN akan bangkit atau hanya jadi penonton? Dunia menanti jawabannya! (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB