SUARAMUDA.NET, KABUPATEN SEMARANG — Belajar wudhu ternyata nggak harus selalu serius dan monoton. Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 07 UIN Walisongo Semarang membuktikannya lewat cara yang cukup unik: kardus disulap jadi media edukasi interaktif!
Inovasi itu digunakan saat mahasiswa KKN menggelar edukasi dan praktik tata cara berwudhu bersama santri TPQ Masjid Al-A’raf RW 9, Dusun Sitalang, Kelurahan Susukan, Kabupaten Semarang, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan tersebut berawal dari aspirasi warga yang berharap kehadiran mahasiswa KKN bisa ikut mendampingi anak-anak memahami tata cara berwudhu yang benar sesuai ajaran Islam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Maklum, wudhu bukan sekadar cuci muka, tangan, atau kaki. Bersuci menjadi salah satu syarat sah sebelum seorang muslim menunaikan salat.
Koordinator TPQ, Muflikhatun Agustin, mengatakan edukasi seperti ini memang dibutuhkan karena masih ada anak-anak yang belum memahami urutan wudhu dengan benar.
“Anak-anak TPQ di sini masih sembarangan saat berwudhu. Maka dari itu, edukasi praktik berwudhu sejak dini itu sangat penting,” ujarnya.
Kardus Disulap Jadi Game Edukasi
Nah, di sinilah kreativitas mahasiswa KKN mulai dimainkan. Divisi Pendidikan Keagamaan KKN Posko 07 menghadirkan media pembelajaran bernama “Tebak Urutan Wudhu”. Uniknya, media tersebut dibuat dari bahan sederhana berupa kardus.
Bukan sekadar papan pajangan, media ini dirancang seperti permainan kartu bolak-balik. Di bagian depan, terdapat gambar visual tahapan berwudhu. Sementara bagian belakangnya berisi nomor urutan.
Para santri kemudian diajak bermain sambil belajar. Mereka harus menyusun kartu sesuai urutan tata cara wudhu yang benar.
Dengan metode ini, anak-anak nggak cuma duduk manis mendengarkan materi. Mereka diajak berpikir, bermain, sekaligus mempraktikkan langsung gerakan wudhu. Hasilnya? Antusiasme para santri terlihat cukup tinggi.
Salah satu santri kelas 6, Arkan, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN membuat proses belajar wudhu terasa lebih menyenangkan karena bisa langsung praktik.
“Aku senang sekali ketika ada kakak-kakak KKN di sini, karena bisa membantuku dalam memahami praktik berwudhu lebih mendalam,” katanya.
Belajar Sambil Bermain
Koordinator Divisi Pendidikan Keagamaan KKN MIT ke-22 Posko 07, Bagus Nadzar Mubarok, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas selama KKN saja.
Menurutnya, pengetahuan mengenai wudhu penting menjadi bekal bagi anak-anak karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah salat.
“Harapan kami, kegiatan ini menjadi bekal yang bermanfaat untuk adik-adik, terkhusus pengetahuan dalam berwudhu sebagai syarat sah salat,” ungkapnya.
Lewat kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo ingin menunjukkan bahwa edukasi keagamaan untuk anak-anak bisa dikemas dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Kolaborasi bersama TPQ Masjid Al-A’raf pun diharapkan menjadi langkah kecil untuk memperkuat hubungan mahasiswa dengan masyarakat.
Sebab, mengajarkan anak tentang ibadah sejak dini bukan hanya soal membuat mereka tahu teorinya. Yang nggak kalah penting adalah memastikan mereka paham, bisa mempraktikkan, dan terbiasa melakukannya dengan benar. Dan kali ini, semuanya dimulai dari sebuah kardus sederhana. (Red)














Komentar