SUARAMUDA.NET, TULUNGAGUNG — Naik kelas bagi UMKM bukan cuma soal jualan lebih banyak. Di balik produk yang makin laris, ada urusan kapasitas produksi, kualitas yang konsisten, hingga kemasan yang mampu membuat konsumen jatuh hati sejak pandangan pertama.
Hal itulah yang coba didorong oleh tim akademisi UPN Veteran Jawa Timur melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di UMKM Bolu “Bu Pur” milik Endang Purwati.
Melalui program bertajuk “Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Bolu UMKM Bu Pur Melalui Oven Konveksi Multitray dan Kemasan sebagai Langkah UMKM Naik Kelas”, tim PkM menghadirkan dua inovasi sekaligus: oven konveksi multitray untuk memperkuat kapasitas produksi dan kemasan baru untuk meningkatkan daya saing produk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim tersebut diketuai Andre Yusuf Trisna Putra, S.T.P., M.Sc., dengan anggota Wiliandi Saputro, S.T., M.Eng. dan Dr. Muhammad Alfid Kurnianto.
Bukan Sekadar Oven, tapi Mesin Pendongkrak Produksi
Sebelum menggunakan oven multitray, proses produksi Bolu “Bu Pur” masih menghadapi kendala klasik yang banyak dialami UMKM pangan: kapasitas alat terbatas dan suhu pemanggangan belum selalu merata.
Akibatnya, waktu produksi bisa lebih panjang. Tingkat kematangan bolu pun berpotensi berbeda antara satu bagian dengan bagian lainnya. Nah, di sinilah teknologi tepat guna mulai memainkan perannya.
Tim PkM memperkenalkan oven konveksi multitray, yakni oven yang memiliki beberapa rak sekaligus dengan sistem sirkulasi udara panas. Dengan teknologi ini, panas dapat tersebar lebih merata ke seluruh bagian ruang oven.
Sederhananya, dalam satu kali proses pemanggangan, jumlah bolu yang bisa diproduksi menjadi lebih banyak.
“Penerapan oven konveksi multitray ini dirancang untuk memangkas waktu pemanggangan sekaligus menjaga konsistensi tekstur dan tingkat kematangan bolu. Dengan peningkatan kapasitas ini, UMKM mampu memenuhi lonjakan permintaan pasar tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Andre Yusuf Trisna Putra.
Bagi UMKM, peningkatan kapasitas seperti ini bukan perkara sepele. Ketika pesanan datang dalam jumlah besar, kemampuan memproduksi lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat bisa menjadi pembeda antara peluang yang diambil dan peluang yang terlewat.
Kemasan Baru, Bukan Cuma Biar Cantik
Teknologi produksi sudah dibenahi. Tapi perjalanan menuju UMKM naik kelas belum selesai. Produk yang enak tetap membutuhkan kemasan yang tepat.
Karena itu, tim akademisi juga memberikan pendampingan dalam aspek branding dan packaging. Kemasan baru Bolu “Bu Pur” dirancang agar produk terlihat lebih menarik sekaligus lebih aman.
Kemasan yang baik setidaknya memiliki beberapa fungsi penting: menjaga kebersihan produk, melindungi makanan dari kontaminasi luar, membantu mempertahankan kualitas selama penyimpanan, serta membuat produk lebih siap dipasarkan ke segmen yang lebih luas. Dengan kata lain, kemasan bukan lagi sekadar “bungkus”.
Di era persaingan produk pangan yang semakin ketat, kemasan juga menjadi bagian dari strategi pemasaran. Konsumen sering kali mengenali dan menilai sebuah produk sebelum mencicipinya—dan kemasan adalah salah satu pintu masuknya.
“Penggunaan kemasan yang baik merupakan prasyarat penting agar produk UMKM dapat masuk ke jejaring ritel yang lebih luas,” jelas Wiliandi Saputro.
Dari Dapur Produksi Menuju Pasar Lebih Luas
Bagi Endang Purwati, inovasi yang diberikan tim PkM menjadi angin segar bagi perkembangan usaha bolunya. Ia mengaku penggunaan oven baru membuat proses produksi menjadi lebih praktis dan kapasitas pemanggangan meningkat.
“Kami sangat terbantu dengan adanya oven konveksi multitray ini. Sekali panggang bisa keluar banyak dan matangnya rata. Ditambah lagi dengan tampilan kemasan yang baru dan lebih rapi, kami makin percaya diri untuk menawarkan produk ke pasar yang lebih luas,” ungkap Endang.
Pengalaman Bolu “Bu Pur” menunjukkan bahwa modernisasi UMKM tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau investasi besar.
Kadang, perubahan bisa dimulai dari hal yang sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari: alat produksi yang lebih sesuai kebutuhan dan kemasan yang lebih profesional.
Ketika keduanya berjalan beriringan, produktivitas meningkat, kualitas lebih terjaga, dan produk memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Teknologi Bertemu UMKM
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM seperti ini juga menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi ruang untuk belajar teori.
Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan akademisi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata untuk persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam kasus Bolu “Bu Pur”, transfer teknologi diarahkan pada kebutuhan yang sangat konkret: bagaimana membuat produksi lebih efisien dan produk lebih siap bersaing.
Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 8, yakni pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDGs 9 yang berkaitan dengan industri, inovasi, dan infrastruktur.
Harapannya, peningkatan kapasitas produksi dan kualitas kemasan dapat membantu UMKM memperluas pemasaran, meningkatkan omzet, serta membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Pada akhirnya, istilah “UMKM naik kelas” bukan sekadar slogan. Naik kelas berarti berani memperbaiki proses, memanfaatkan teknologi, memperkuat kualitas, membangun merek, dan membuka pintu menuju pasar yang lebih besar. Dan dari dapur sederhana Bolu “Bu Pur”, langkah itu kini mulai dijalankan. (Red)














Komentar