SUARAMUDA.NET, TULUNGAGUNG — Di balik lezatnya telur asin, ada proses panjang yang tak selalu terlihat. Salah satunya adalah mencuci telur mentah dari kotoran yang menempel di cangkang. Bagi pelaku UMKM, pekerjaan yang terlihat sederhana ini ternyata bisa menyita waktu, menguras tenaga, bahkan berisiko membuat telur retak.
Persoalan tersebut kini coba dijawab melalui inovasi teknologi tepat guna. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) akademisi UPN Veteran Jawa Timur menerapkan alat pencuci telur berbasis riset di usaha Telur Asin “Wardhani” milik Ibu Suharti di Kabupaten Tulungagung.
Inovasi itu menjadi bagian dari program “Hilirisasi Teknologi Proses dan Keamanan Pangan Telur Asin Berbasis Riset untuk Peningkatan Daya Saing UMKM.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Gosok Satu per Satu ke Teknologi Mekanis
Sebelum alat diterapkan, proses pencucian telur masih dilakukan secara manual. Telur dibersihkan satu per satu dengan cara digosok untuk menghilangkan kotoran yang menempel.
Cara tersebut bukan hanya membutuhkan waktu panjang, tetapi juga tenaga ekstra. Risiko telur mengalami keretakan pada cangkangnya pun cukup tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Tim PkM merancang alat pencuci telur mekanis yang disesuaikan dengan kapasitas produksi UMKM. Teknologi ini ditujukan untuk mempercepat proses pembersihan sekaligus menghasilkan kebersihan cangkang yang lebih merata.
Ketua Tim PkM, Luqman Agung Wicaksono, S.T.P., M.Sc., mengatakan tahap pencucian merupakan salah satu bagian penting dalam proses pengolahan telur asin.
“Pembersihan awal adalah titik kritis dalam keamanan pangan telur asin. Kotoran pada cangkang harus dihilangkan tanpa merusak pori-pori atau memicu keretakan,” jelas Luqman.
Menurutnya, penerapan alat pencuci membuat proses persiapan bahan baku menjadi lebih cepat, higienis, dan efisien. Dampaknya, kapasitas penyiapan telur untuk masuk ke tahap pengasinan juga dapat meningkat.
Bukan Sekadar Serah Terima Alat
Program ini tidak berhenti pada instalasi mesin. Tim PkM juga melakukan uji coba sekaligus memberikan pendampingan kepada para pekerja agar teknologi dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan.
Tim yang diketuai Luqman tersebut beranggotakan Aditya Arief Rachmadhan, S.P., M.Si. dan Ajeng Astrini Brahmanti, S.T.P., M.T.P. Pendampingan mencakup sejumlah aspek penting, mulai dari pengoperasian hingga sanitasi.
Pertama, pekerja dibekali SOP pengoperasian dan perawatan alat agar mesin dapat digunakan secara efektif serta memiliki umur pakai yang optimal.
Kedua, tim memberikan edukasi mengenai standar sanitasi air cucian. Penggunaan air bersih menjadi perhatian penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri selama proses pencucian telur.
Ketiga, dilakukan penataan integrasi proses produksi, sehingga telur yang telah dicuci secara mekanis dapat langsung diarahkan menuju tahap formulasi adonan pengasinan.
Dengan pola tersebut, teknologi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari alur produksi UMKM secara keseluruhan.
Pemilik UMKM: Lebih Cepat, Lebih Ringan
Bagi Suharti, pemilik Telur Asin “Wardhani”, inovasi tersebut menjawab salah satu pekerjaan paling melelahkan dalam rutinitas produksi.
Ia mengaku proses mencuci telur sebelumnya menjadi bagian yang paling banyak menyita waktu dan tenaga.
“Sebelum ada alat ini, bagian mencuci telur paling menyita waktu dan bikin capek. Sekarang proses cuci jauh lebih cepat, telurnya bersih merata, dan pecah telur bisa berkurang banyak,” tutur Suharti.
Menurutnya, efisiensi tersebut memberikan ruang bagi pekerja untuk mengalokasikan waktu dan tenaga ke tahapan produksi lainnya.
Teknologi Tepat Guna, Dorong UMKM Naik Kelas
Penerapan alat pencuci telur tidak hanya berbicara soal kecepatan produksi. Teknologi tersebut juga membawa isu yang lebih besar, yakni konsistensi higiene dan keamanan pangan.
Bagi UMKM pangan, proses produksi yang lebih terstandar menjadi salah satu modal penting untuk menjaga kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing ketika pasar semakin luas.
Program hilirisasi riset ini juga sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan produktivitas dan pengurangan beban kerja manual mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Sementara penerapan hasil riset dan teknologi tepat guna berkaitan dengan SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Dari sisi produksi yang lebih higienis dan terstandar, program ini turut mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Penguatan aspek higiene dan keamanan pangan juga berkontribusi terhadap SDG 3, yakni kehidupan sehat dan sejahtera.
Dari Tulungagung, Riset Masuk ke Dapur Produksi
Implementasi alat pencuci telur di UMKM Telur Asin Wardhani menunjukkan bagaimana hasil riset akademik dapat diterjemahkan menjadi solusi yang langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha.
Bukan sekadar mesin baru, teknologi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi proses produksi yang lebih cepat, bersih, terukur, dan efisien.
Ke depan, UMKM Telur Asin Wardhani diharapkan mampu meningkatkan volume produksi harian, mempertahankan konsistensi higiene produk, serta memperluas daya saing di pasar.
Dari pekerjaan mencuci telur yang sebelumnya dilakukan satu per satu, kini teknologi mulai mengambil peran. Langkah kecil dari Tulungagung ini menjadi gambaran bahwa modernisasi UMKM tak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit—tetapi dari masalah nyata yang berhasil dicarikan solusi. (Red)














Komentar