Mei 1998: Saat Mahasiswa Mengguncang Indonesia dan Menumbangkan Orde Baru

- Penulis

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Bulan Mei 1998 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda sejak 1997 memicu gelombang kemarahan publik terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.

Di tengah harga kebutuhan pokok yang melonjak, pengangguran meningkat, dan kepercayaan masyarakat yang runtuh, mahasiswa di berbagai daerah turun ke jalan membawa satu tuntutan besar: reformasi.

Gejayan Memanas, Yogyakarta Bergerak

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada 8 Mei 1998, ribuan mahasiswa memenuhi Jalan Gejayan, Yogyakarta. Aksi demonstrasi berlangsung panas setelah aparat bentrok dengan massa mahasiswa yang menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto.

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Gejayan. Ratusan mahasiswa dilaporkan mengalami luka-luka, sementara seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca meninggal dunia.

Tragedi tersebut menjadi simbol bahwa gelombang perlawanan mahasiswa mulai meluas dari daerah menuju gerakan nasional. (Kompas, 1998; Tirto, 2019)

Baca Juga :  Jejak Mimpi Silfana Wiwit Soliha: Merajut Harapan Bersama Gerakan Sekolah Menyenangkan

Tragedi Trisakti yang Mengubah Segalanya

Empat hari berselang, tepatnya 12 Mei 1998, demonstrasi besar terjadi di kampus Universitas Trisakti, Jakarta.

Aksi mahasiswa yang berlangsung damai berubah menjadi tragedi setelah aparat menembaki massa demonstran. Empat mahasiswa tewas dalam insiden tersebut, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

Kematian mereka memicu kemarahan publik secara nasional. Tragedi Trisakti kemudian menjadi titik balik yang mempercepat runtuhnya kekuasaan Orde Baru. (Kompas, 1998; Kompas TV, 2021)

Kerusuhan Mei dan Situasi Nasional yang Kacau

Pada 13 hingga 15 Mei 1998, situasi Indonesia semakin tidak terkendali. Jakarta dan sejumlah kota besar dilanda kerusuhan massal, penjarahan, pembakaran, hingga kekerasan rasial.

Krisis ekonomi yang sebelumnya hanya terasa di sektor keuangan berubah menjadi krisis sosial dan politik nasional. Ketegangan masyarakat memuncak, sementara legitimasi pemerintahan semakin melemah. (Kompas, 1998).

Baca Juga :  SBY Tiba-tiba Minta Demokrat Pegang Teguh Konstitusi di Era Politik Pragmatis: Ada Apa?

Gelombang demonstrasi mencapai puncaknya pada 18–20 Mei 1998. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menduduki Gedung DPR/MPR di Jakarta.

Mereka menuntut Presiden Soeharto mundur setelah 32 tahun memimpin Indonesia. Momen mahasiswa tidur di lorong parlemen hingga membentangkan spanduk reformasi menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru. (Kompas, 1998)

21 Mei 1998: Soeharto Resmi Lengser

Tekanan politik yang terus membesar akhirnya membuat Presiden Soeharto menyatakan mundur pada 21 Mei 1998.

Dalam pidato singkat di Istana Negara, Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada Wakil Presiden B. J. Habibie.

Peristiwa tersebut menandai berakhirnya era Orde Baru sekaligus menjadi awal lahirnya Era Reformasi di Indonesia — sebuah fase baru yang membuka ruang demokrasi, kebebasan pers, dan perubahan politik nasional. (Kompas, 1998; Detikcom, 2024). (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 42 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB