SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Bulan Mei 1998 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda sejak 1997 memicu gelombang kemarahan publik terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.
Di tengah harga kebutuhan pokok yang melonjak, pengangguran meningkat, dan kepercayaan masyarakat yang runtuh, mahasiswa di berbagai daerah turun ke jalan membawa satu tuntutan besar: reformasi.
Gejayan Memanas, Yogyakarta Bergerak
Pada 8 Mei 1998, ribuan mahasiswa memenuhi Jalan Gejayan, Yogyakarta. Aksi demonstrasi berlangsung panas setelah aparat bentrok dengan massa mahasiswa yang menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Gejayan. Ratusan mahasiswa dilaporkan mengalami luka-luka, sementara seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca meninggal dunia.
Tragedi tersebut menjadi simbol bahwa gelombang perlawanan mahasiswa mulai meluas dari daerah menuju gerakan nasional. (Kompas, 1998; Tirto, 2019)
Tragedi Trisakti yang Mengubah Segalanya
Empat hari berselang, tepatnya 12 Mei 1998, demonstrasi besar terjadi di kampus Universitas Trisakti, Jakarta.
Aksi mahasiswa yang berlangsung damai berubah menjadi tragedi setelah aparat menembaki massa demonstran. Empat mahasiswa tewas dalam insiden tersebut, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.
Kematian mereka memicu kemarahan publik secara nasional. Tragedi Trisakti kemudian menjadi titik balik yang mempercepat runtuhnya kekuasaan Orde Baru. (Kompas, 1998; Kompas TV, 2021)
Kerusuhan Mei dan Situasi Nasional yang Kacau
Pada 13 hingga 15 Mei 1998, situasi Indonesia semakin tidak terkendali. Jakarta dan sejumlah kota besar dilanda kerusuhan massal, penjarahan, pembakaran, hingga kekerasan rasial.
Krisis ekonomi yang sebelumnya hanya terasa di sektor keuangan berubah menjadi krisis sosial dan politik nasional. Ketegangan masyarakat memuncak, sementara legitimasi pemerintahan semakin melemah. (Kompas, 1998).
Gelombang demonstrasi mencapai puncaknya pada 18–20 Mei 1998. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus menduduki Gedung DPR/MPR di Jakarta.
Mereka menuntut Presiden Soeharto mundur setelah 32 tahun memimpin Indonesia. Momen mahasiswa tidur di lorong parlemen hingga membentangkan spanduk reformasi menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru. (Kompas, 1998)
21 Mei 1998: Soeharto Resmi Lengser
Tekanan politik yang terus membesar akhirnya membuat Presiden Soeharto menyatakan mundur pada 21 Mei 1998.
Dalam pidato singkat di Istana Negara, Soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada Wakil Presiden B. J. Habibie.
Peristiwa tersebut menandai berakhirnya era Orde Baru sekaligus menjadi awal lahirnya Era Reformasi di Indonesia — sebuah fase baru yang membuka ruang demokrasi, kebebasan pers, dan perubahan politik nasional. (Kompas, 1998; Detikcom, 2024). (Red)