SUARAMUDA.NET, KATHMANDU — Bagaimana strategi pembangunan China untuk lima tahun ke depan? Pertanyaan itu menjadi topik utama dalam seminar nasional yang digelar Friends of Silk Road Club–Nepal (FOSR-Nepal) di Hotel Malla, Lainchaur, Kathmandu.
Seminar bertajuk “Memahami Rencana Lima Tahun ke-15 China (2026–2030) dan Relevansinya bagi Jalur Pembangunan Nepal” ini mempertemukan para pembuat kebijakan, ekonom, akademisi, analis politik, pelaku usaha, hingga tokoh muda untuk membahas arah pembangunan terbaru China dan peluang yang bisa dimanfaatkan Nepal.
Dalam pidato utamanya, mantan Wakil Ketua Komisi Perencanaan Nasional Nepal, Dr. Min Bahadur Shrestha, menilai Nepal memiliki banyak pelajaran yang dapat diambil dari strategi pembangunan China.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, fokus China pada inovasi teknologi, pertumbuhan ekonomi berkualitas, serta perencanaan jangka panjang dapat menjadi referensi penting bagi Nepal dalam mempercepat pembangunan nasional.
Ia juga menyebut bahwa pendekatan tersebut dapat memperkuat partisipasi Nepal dalam kerja sama Belt and Road Initiative (BRI), yang selama ini menjadi salah satu pilar hubungan strategis antara Nepal dan China.
Sejumlah pembicara lainnya, seperti Gadesh Paudel, Jhalak Subedi, dan Prof. Sanjay Acharya, turut mengulas berbagai peluang kerja sama Nepal–China.
Pembahasan mencakup pengembangan inovasi, ekonomi hijau, transformasi digital, hingga peningkatan peran generasi muda dalam pembangunan kedua negara.
Sementara itu, Ketua Nepal-China Friendship Forum, Dr. Kalyan Raj Sharma, menegaskan bahwa memahami arah kebijakan terbaru China menjadi langkah penting bagi Nepal untuk menyusun perencanaan pembangunan yang lebih adaptif sekaligus memperkuat kerja sama bilateral di masa depan.
Seminar ini menjadi salah satu forum strategis yang menunjukkan semakin eratnya dialog antara Nepal dan China, terutama dalam bidang pembangunan, ekonomi, serta pertukaran gagasan untuk menghadapi tantangan global. (Red)













Komentar