SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin kejutan di sektor otomotif. Ia menyatakan tidak keberatan produsen mobil asal China membangun pabrik di Amerika Serikat.
Namun, ada syarat yang harus dipenuhi: pabrik tersebut harus mempekerjakan pekerja Amerika.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan dirinya terbuka jika produsen China datang dan membangun fasilitas produksi di AS. Menurutnya, investasi asing boleh masuk selama menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Amerika.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jepang melakukannya, tetapi mereka mempekerjakan orang kita,” menjadi salah satu alasan Trump. Ia juga menegaskan tidak ingin produsen China memproduksi mobil di Meksiko kemudian mengirimkannya ke pasar AS.
Sikap ini cukup menarik. Pasalnya, Washington selama ini justru sangat ketat terhadap mobil China. Aturan yang diterapkan pemerintahan sebelumnya secara efektif membatasi kendaraan penumpang China masuk dan diproduksi di AS. Tarif terhadap mobil listrik China juga masih sangat tinggi.
Trump kini seperti membuka pintu, tetapi pintunya tidak dibuka lebar-lebar. Produsen China harus datang langsung, membangun pabrik, dan menggunakan tenaga kerja AS.
Dampaknya ke Indonesia, apa?
Jika produsen China semakin agresif membangun pabrik di berbagai negara, persaingan industri otomotif global berpotensi makin panas. Indonesia bisa ikut terkena imbasnya.
Di satu sisi, ini justru bisa menjadi peluang investasi. Indonesia sudah menjadi salah satu basis penting bagi produsen China. GAIKINDO mencatat sedikitnya 16 merek mobil China telah beroperasi di Indonesia hingga akhir 2025. Sejumlah pemain juga mulai serius membangun fasilitas produksi lokal.
BYD, misalnya, menyiapkan fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat, dengan investasi sekitar Rp11,2 triliun dan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun. Investasi semacam ini berpotensi menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat rantai pasok otomotif nasional.
Di sisi lain, masuknya semakin banyak merek China juga berarti kompetisi di pasar Indonesia bakal makin sengit. Konsumen mendapat lebih banyak pilihan, sementara produsen Jepang, Korea, Eropa, hingga pemain lokal harus semakin agresif menawarkan harga, teknologi, dan layanan.
Tren itu sebenarnya sudah terlihat. Pada Januari-Mei 2026, BYD bahkan menempati posisi keenam dalam penjualan mobil nasional dengan 17.993 unit secara wholesale.
Jadi, langkah Trump bukan cuma soal mobil China dan Amerika. Jika ekspansi produsen China semakin global, Indonesia bisa menjadi salah satu medan tempurnya—sekaligus salah satu pihak yang berpeluang kecipratan investasinya. (Red)













Komentar