SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia tak mau cuma jadi penonton di tengah gencarnya revolusi ekonomi digital.
Dalam Global Digital Trade Expo (GDTE) ke-5 di Hangzhou, Tiongkok, Indonesia mendorong kerja sama baru di sektor perdagangan digital, kecerdasan buatan (AI), investasi, hingga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Forum yang mempertemukan peserta dari 121 negara itu menjadi momentum Indonesia untuk memperluas kolaborasi teknologi sekaligus menarik investasi digital ke dalam negeri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu gebrakan yang dibawa Indonesia adalah ajakan kepada perusahaan teknologi Hangzhou untuk membangun pusat data di Indonesia.
Pemerintah juga mendorong kerja sama pengembangan talenta digital dan pemanfaatan AI open source.
Bukan cuma itu. Indonesia mengusulkan pelatihan bagi 5.000 talenta AI, proyek percontohan inovasi AI di salah satu KEK, serta kerja sama kawasan kembar antara KEK Qiantang di Tiongkok dan KEK Digital Serpong.
Di sektor KEK, Indonesia juga mendorong terbentuknya koridor investasi hijau dan digital BRICS, platform fasilitasi investasi, pertukaran pengetahuan, pengembangan talenta, hingga konektivitas pembayaran digital.
Kerja sama dengan Tiongkok pun mulai menghasilkan transaksi konkret. Sebelumnya, business matching Indonesia-Tiongkok menghasilkan delapan MoU dengan perkiraan nilai investasi sekitar US$400 juta.
Pesannya jelas: Indonesia ingin ekonomi digital bukan sekadar soal teknologi canggih, tetapi juga menjadi mesin investasi, penciptaan talenta, dan pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia sedang gaspol mengejar masa depan digital. (Red)
Sumber resmi Kemenko Perekonomian













Komentar