SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nama Indonesia ikut hadir dalam perbincangan internasional yang digelar China Global Television Network (CGTN) untuk memperingati 105 tahun berdirinya PKT.
Menariknya, yang mendapat undangan khusus mewakili Indonesia adalah Direktur Sino-Nusantara Institute (SNI), Ahmad Syaifudin Zuhri.
Dalam forum tersebut, CGTN mempertemukan narasumber dari Nepal, Kamboja, dan Indonesia untuk mendiskusikan perjalanan pembangunan Tiongkok yang kerap menjadi sorotan dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya membahas pertumbuhan ekonomi, diskusi juga mengulas bagaimana tata kelola pemerintahan, kerja sama internasional, hingga posisi Tiongkok yang semakin berpengaruh dalam percaturan global.
Para pembicara berbagi pengalaman berdasarkan interaksi mereka selama bertahun-tahun dengan Tiongkok.
Mereka mengulas bagaimana negeri tersebut mengalami transformasi besar, membangun kemitraan dengan berbagai negara, sekaligus menghadapi tantangan di tengah perubahan geopolitik dunia.
Mewakili Indonesia, Ahmad Syaifudin Zuhri mengaku menyoroti sejumlah aspek penting dalam hubungan Tiongkok dengan dunia internasional, termasuk pengalaman kerja sama yang telah terjalin selama ini.
“Ya, saya bicara terkait kerja sama internasional, serta makna tata kelola PKT dalam menghadapi dinamika dan perubahan dunia,” ujar Zuhri kepada Suaramuda.net, Selasa (21/7).
Zuhri juga menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki akar sejarah yang kuat dalam semangat solidaritas negara-negara berkembang.
Menurutnya, semangat yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung 1955 kini berkembang dalam narasi Global South, yakni kolaborasi negara-negara berkembang untuk mendorong tata kelola dunia yang lebih inklusif, setara, dan saling menghormati.
“Indonesia dan Tiongkok memiliki sejarah panjang dalam membangun kerja sama Selatan-Selatan. Semangat Bandung yang dahulu menjadi fondasi solidaritas Asia-Afrika kini menemukan relevansinya kembali melalui penguatan peran Global South dalam menjawab tantangan global, mulai dari pembangunan, teknologi, hingga tata kelola internasional,” jelasnya.
Menurut Zuhri, transformasi Tiongkok tidak hanya menarik dilihat dari sisi pembangunan ekonomi, tetapi juga dari cara negara tersebut membangun kolaborasi internasional di tengah lanskap global yang terus berubah.
Ia menilai Indonesia dapat mengambil inspirasi dari berbagai pengalaman tersebut, sembari tetap mengedepankan kepentingan nasional dan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Kehadiran Direktur Sino-Nusantara Institute dalam forum internasional ini sekaligus menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan perspektif mengenai perkembangan Tiongkok.
Selain itu juga untuk memperkuat hubungan bilateral, serta menghidupkan kembali semangat Bandung dalam memperkuat suara negara-negara Global South di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. (Red)
Penulis : DT Atmaja














Komentar