SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Sino-Nusantara Institute yang fokus pada penguatan hubungan People-to-People Indonesia-Tiongkok kembali mengambil peran strategis dalam memperkuat kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang kesehatan.
Melalui kegiatan bertajuk China-Indonesia Health Investment Meeting yang digelar secara daring pada Sabtu, 20 Juni 2026, lembaga tersebut mempertemukan calon investor asal Tiongkok dengan sejumlah institusi kesehatan dan pendidikan di Indonesia.
Pertemuan virtual tersebut dihadiri oleh tim pengelola Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta perwakilan Yayasan Wahid Hasyim Semarang. Kegiatan ini menjadi wadah penjajakan peluang investasi untuk pengembangan infrastruktur kesehatan, khususnya pembangunan dan modernisasi rumah sakit beserta dukungan peralatan medis berteknologi mutakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifudin Zuhri, mengatakan bahwa upaya menjembatani investor dan institusi kesehatan merupakan bagian dari komitmen mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan nasional.
“Kita dorong dan dukung agar infrastruktur kesehatan yang kita miliki semakin modern, berkembang, dan memiliki daya saing yang kuat,” ujarnya usai pertemuan.
Dalam kesempatan tersebut, tim pengelola RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memaparkan peluang investasi melalui program Medical Tower Development Project. Perwakilan rumah sakit, Syaifullah Yahya, menjelaskan bahwa pengembangan fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya kebutuhan layanan medis masyarakat.
Menurutnya, kapasitas rumah sakit yang saat ini memiliki sekitar 203 tempat tidur direncanakan akan ditingkatkan menjadi lebih dari 500 tempat tidur pada tahap pengembangan berikutnya.
“Selain meningkatkan kapasitas layanan, pengembangan ini juga bertujuan mendukung kebutuhan pendidikan dan praktik klinis Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” jelasnya.
Ia menambahkan, lokasi rumah sakit yang berada di kawasan strategis Jakarta Timur dan berdekatan dengan wilayah Depok, Bekasi, serta Bogor menjadi nilai tambah dalam pengembangan layanan kesehatan.
Dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di kawasan penyangga ibu kota, RS UIN Jakarta dinilai memiliki prospek yang besar untuk terus berkembang.
“Sekitar 80 persen pasien kami merupakan pasien loyal atau pasien tetap. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang cukup tinggi terhadap layanan yang kami berikan,” tambah Syaifullah.
Sementara itu, Yayasan Wahid Hasyim Semarang turut menawarkan peluang investasi melalui rencana pembangunan Rumah Sakit Wahid Hasyim yang akan berlokasi di Kompleks Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, yakni di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Mewakili yayasan, Nur Hadi menjelaskan bahwa proyek tersebut didukung ketersediaan lahan yang luas dan potensi pengembangan jangka panjang.
“Kami memiliki lahan seluas 26 hektare dan ditargetkan berkembang menjadi 30 hektare pada akhir 2026. Ini merupakan peluang besar untuk membangun rumah sakit yang tidak hanya mendukung kegiatan akademik Fakultas Kedokteran Unwahas, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Nur Hadi, kehadiran rumah sakit pendidikan menjadi kebutuhan penting bagi universitas sekaligus sarana peningkatan akses layanan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Ke depan, Rumah Sakit Wahid Hasyim dirancang memiliki sejumlah layanan unggulan, antara lain pelayanan geriatri untuk lanjut usia, layanan spesialis jantung, serta program kesehatan yang tetap memberikan perhatian kepada masyarakat kurang mampu.
Melalui pertemuan ini, Sino-Nusantara Institute berharap kerja sama investasi di sektor kesehatan antara Indonesia dan Tiongkok dapat terus berkembang, sehingga mampu mempercepat modernisasi fasilitas kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan medis bagi masyarakat Indonesia. (Red)














Komentar