SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama ini dikenal sebagai jalur pendidikan yang dirancang agar lulusannya siap langsung masuk dunia kerja. Namun, fakta terbaru justru menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK pada Mei 2026 mencapai 7,68 persen, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran lulusan SMA berada di angka 6,17 persen, lulusan perguruan tinggi 6,09 persen, sementara lulusan SD ke bawah hanya 2,31 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, kenapa lulusan yang seharusnya paling siap kerja justru paling banyak menganggur?
Bukan Fenomena Baru
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai persoalan ini bukan sesuatu yang baru. Menurutnya, masalah tersebut sudah berlangsung selama beberapa tahun dan menunjukkan adanya persoalan struktural di pasar tenaga kerja Indonesia.
Ia menjelaskan, akar masalahnya bukan semata-mata karena lapangan kerja sedikit, tetapi karena kompetensi lulusan SMK belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri.
Di sisi lain, struktur ekonomi Indonesia masih didominasi sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.
Akibatnya, lulusan dengan pendidikan rendah justru lebih cepat memperoleh pekerjaan karena lebih mudah masuk ke sektor tersebut.
Lulusan SMK Lebih Selektif
Berbeda dengan lulusan SD atau SMP, lulusan SMK umumnya mencari pekerjaan formal yang sesuai dengan jurusan yang dipelajari serta menawarkan upah yang lebih baik.
Karena memiliki ekspektasi tersebut, mereka cenderung lebih selektif sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.
Yusuf juga menilai program link and match antara sekolah vokasi dan dunia industri masih belum berjalan optimal. Di banyak daerah, kurikulum SMK dinilai belum mampu mengikuti perkembangan teknologi maupun kebutuhan perusahaan.
Selain itu, kualitas praktik kerja lapangan juga belum merata sehingga tidak semua lulusan memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.
Industri Belum Banyak Menyerap Tenaga Kerja
Pandangan serupa disampaikan pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mampu menciptakan cukup banyak pekerjaan formal bagi lulusan berkeahlian.
Meski ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen, sektor industri hanya menambah sekitar 9.000 tenaga kerja sepanjang Februari hingga Mei 2026.
Bahkan, komponen tenaga kerja dalam indeks bisnis manufaktur masih berada di bawah angka 50 yang menandakan perekrutan sedang mengalami kontraksi.
Sementara itu, lapangan kerja yang tumbuh justru banyak berasal dari sektor akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, pertanian, hingga jasa informal.
Artinya, banyak pekerjaan tersedia, tetapi tidak selalu sesuai dengan kompetensi lulusan SMK.
Pendidikan Harus Menyesuaikan Kebutuhan Industri
Para ekonom menilai pembenahan harus dilakukan dari dua sisi sekaligus, yakni pendidikan dan industri.
Di sektor pendidikan, pemerintah perlu memperkuat kerja sama antara SMK dan dunia usaha melalui penyusunan kurikulum bersama, program magang yang berkualitas, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan teaching factory.
Sementara dari sisi ekonomi, pemerintah didorong mempercepat industrialisasi, khususnya di sektor manufaktur berbasis teknologi, industri pengolahan, energi terbarukan, serta ekonomi hijau agar mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan formal.
Selain keterampilan teknis, lulusan SMK juga dinilai perlu memperkuat soft skill, literasi digital, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi agar lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Bukan Sekadar Mengurangi Pengangguran
Persoalan tingginya pengangguran lulusan SMK menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menyediakan lebih banyak pekerjaan.
Yang lebih penting adalah menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, produktif, dan sesuai dengan kompetensi lulusan.
Selama pendidikan, kebutuhan industri, dan kebijakan ekonomi belum berjalan searah, lulusan SMK berpotensi terus menghadapi masa tunggu kerja yang lebih panjang meski telah dibekali keterampilan sejak di bangku sekolah. (Red)













Komentar