SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Forum Perempuan Lintas Agama (FORPELA) Kota Semarang bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang menggelar Dialog Perempuan Lintas Agama bertema “Memperkuat Peran Perempuan dalam Kolaborasi Lintas Agama untuk Membangun Kota Semarang yang Harmonis dan Inklusif” di Hotel KHAS Semarang, Rabu (5/8).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari berbagai organisasi perempuan lintas agama, organisasi kemasyarakatan, serta unsur pemerintah daerah.
Dialog ini menjadi ruang untuk memperkuat sinergi dalam menjaga kerukunan, toleransi, dan kehidupan masyarakat yang inklusif di Kota Semarang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Panitia, Aminah Kurniasih, M.Pd., mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat peran perempuan sebagai agen perdamaian sekaligus memperluas kolaborasi lintas agama.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, sehingga mampu berkontribusi dalam mencegah potensi konflik sosial.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua FORPELA Kota Semarang, Suyatmi, S.Sos., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan Kota Semarang mempertahankan posisinya sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia dengan menempati peringkat ketiga Indeks Kota Toleran pada 2024 dan 2025.
“Capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi-organisasi perempuan lintas agama yang selama ini aktif membangun komunikasi, saling pengertian, dan semangat kebersamaan, “paparnya.
Suyatmi juga menjelaskan bahwa FORPELA mulai dirintis sejak 2021 dan resmi dilantik pada September 2025 sebagai wadah kolaborasi perempuan lintas agama di Kota Semarang.
Sementara itu, Ketua FKUB Kota Semarang, Drs. KH. Mustamaji, MM., menegaskan bahwa perempuan merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Nilai kejujuran, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman, menurutnya, pertama kali ditanamkan di lingkungan keluarga.
“Keberhasilan Kota Semarang meningkatkan peringkat toleransi tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi pemerintah, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan komunitas perempuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum dialog seperti ini perlu terus dikembangkan sebagai ruang memperkuat komunikasi sekaligus mempererat hubungan antarumat beragama.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, Pranyoto, A.P., M.M., menyampaikan bahwa perempuan merupakan jembatan utama dalam membangun kerukunan sosial.
“Harmoni tidak lahir secara otomatis, melainkan dibangun melalui sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pranyoto menegaskan DP3A berkomitmen terus memperkuat kerja sama dengan FORPELA melalui berbagai program pemberdayaan perempuan, penguatan toleransi, serta pembangunan masyarakat yang inklusif.
Dalam sesi dialog, Anggota Komisi A DPRD Kota Semarang, Rahmulyo Adi Wibowo, menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai agama, pendidikan, kehidupan sosial, dan ketahanan keluarga.
Ia menyebut komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama dalam mencegah konflik maupun provokasi di tengah masyarakat. Selain itu, organisasi perempuan juga diharapkan mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi, penyebaran pesan toleransi, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Sementara itu, Ketua FORPELA Kota Semarang yang juga Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Arikha, M.Ag., menjelaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai penjaga harmoni karena memiliki jejaring sosial yang kuat serta kedekatan dengan keluarga dan masyarakat.
Menurutnya, perbedaan agama merupakan realitas yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kerukunan hanya dapat dibangun melalui dialog, komunikasi yang terbuka, serta kerja sama yang berkelanjutan.
Prof. Arikha juga menyoroti bahwa seluruh agama pada dasarnya menghadapi persoalan sosial yang sama, seperti kemiskinan, stunting, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga kerusakan lingkungan.
“Karena itu, kerja sama lintas agama seharusnya diarahkan pada penyelesaian persoalan-persoalan kemanusiaan yang menjadi kepentingan bersama, bukan pada perdebatan mengenai perbedaan keyakinan, ” tegasnya.
Ia juga memaparkan sejumlah praktik baik kolaborasi lintas agama yang telah berkembang di Kota Semarang, antara lain Dapur Berkah Bersama, pengelolaan bank sampah dan pemberdayaan UMKM, kegiatan Posyandu dan pencegahan stunting, penjagaan rumah ibadah, Sekolah Kerukunan, kegiatan berbagi pada bulan Ramadan, hingga penanaman tanaman obat keluarga (TOGA).
Dialog berlangsung interaktif dengan mengangkat berbagai isu, mulai dari perlindungan perempuan, penanganan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pendidikan karakter anak, penggunaan media digital, stigma sosial, hingga penguatan kepemimpinan perempuan.
Menanggapi berbagai pertanyaan peserta, para narasumber menekankan pentingnya memperkuat literasi masyarakat mengenai toleransi, perlindungan perempuan, serta pemahaman terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan verbal dan psikologis yang masih sering belum dikenali sebagai bentuk kekerasan.
Selain itu, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan.
Menutup paparannya, Prof. Arikha mengajak seluruh peserta untuk terus membangun kolaborasi lintas agama melalui berbagai kegiatan sederhana yang mampu mempererat hubungan antarmasyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberagaman merupakan kenyataan yang harus diterima, sedangkan persatuan adalah pilihan yang harus terus diupayakan bersama.
Melalui dialog ini, FORPELA, FKUB, pemerintah daerah, organisasi perempuan, serta berbagai elemen masyarakat diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam menjaga Kota Semarang sebagai kota yang damai, harmonis, toleran, dan inklusif. (Red)
















Komentar