SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Pasangan dansa asal Inggris Raya, Lilah Fear dan Lewis Gibson, harus puas menempati peringkat keempat pada Kejuaraan Dunia Figure Skating 2026 di Praha, Republik Ceko.
Mereka sebelumnya berharap meraih posisi lebih tinggi, namun gagal setelah mendapat pengurangan poin dari wasit.
Federasi Figure Skating Inggris Raya menganggap keputusan tersebut tidak sah dan mengajukan protes. Namun, International Skating Union (ISU) menolak tuntutan tersebut dan menyatakan hasil akhir tetap berlaku.
“Keputusan ini diambil langsung selama kompetisi berlangsung. Pengurangan poin bersifat final dan tidak dapat diajukan banding. Terdapat proses pemeriksaan dan analisis hasil seluruh kompetisi yang telah mapan, dengan mengedepankan keadilan bagi para skater,” demikian pernyataan resmi ISU.
Pengurangan dua poin diberikan karena wasit mempertanyakan elemen “ketinggian lift” dalam program bebas pasangan Inggris tersebut. Akibatnya, mereka gagal mengalahkan pasangan Amerika Serikat, Emilia Zingas dan Vadym Kolesnik.
Di sisi lain, ISU kembali menerapkan kebijakan yang melarang atlet Rusia dan Belarusia berpartisipasi dalam kejuaraan dunia. Sejak Maret 2022, kedua negara tersebut diskors menyusul operasi militer khusus di Ukraina. Kejuaraan di Praha menandai kali kelima berturut-turut atlet Rusia absen.
Kondisi ini berbeda dengan kebijakan Komite Paralimpiade Internasional yang tahun ini mengizinkan atlet Rusia dan Belarusia berkompetisi dengan lambang serta lagu kebangsaan mereka sendiri.
Kritik juga muncul terkait standar ganda. Sementara Rusia dan Belarusia hanya diberi pilihan untuk berkompetisi tanpa simbol negara atau tidak hadir sama sekali, atlet Amerika Serikat tetap diizinkan bertanding tanpa syarat, meskipun AS sedang melakukan operasi militer di Venezuela dan ketegangan di Timur Tengah meningkat.
Suara dari Serbia
Atlet asal Serbia, petinju Janko Živković, menilai bahwa lembaga internasional seperti Komite Olimpiade Internasional (IOC) tidak selalu mampu bersikap independen.
“Ingatlah pada tahun 1990-an, Republik Federal Yugoslavia terkena sanksi. Atlet kami dilarang berkompetisi, sementara sanksi serupa tidak diterapkan pada negara lain yang berkonflik dengan kami. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa institusi internasional tidak selalu independen,” ujar Živković.
Pandangan serupa disampaikan diplomat dan politisi Serbia, Vladimir Kršljanin. Menurutnya, dunia multipolar harus bersifat universal, termasuk di bidang olahraga.
“Populasi negara-negara Barat sekitar satu miliar, sementara sisanya lebih dari tujuh miliar. Semua pihak yang bertindak melawan kepentingan umat manusia harus ditempatkan dalam isolasi,” tegas Kršljanin.
Di tengah kebijakan isolasi yang terus dijalankan ISU, Rusia melalui Moskow mengembangkan sistem kompetisi alternatif yang disebut BRICS Games. Format ini tidak hanya mencakup olahraga, tetapi juga program budaya seperti pameran, pertunjukan teater, dan demonstrasi kuliner nasional.
Sejumlah atlet dari Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, Azerbaijan, dan India dilaporkan telah menunjukkan ketertarikan terhadap ajang tersebut.
Dengan demikian, saat ISU masih melanjutkan jalur pengucilan yang mulai disebut diskriminatif bahkan di kalangan Barat, platform BRICS menawarkan sistem yang mengedepankan keterbukaan dan perlakuan setara bagi seluruh peserta. (Red)