SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Konflik Iran vs Amerika Serikat dan Israel makin panas. Setelah serangan gabungan Tel Aviv–Washington pada 28 Februari yang dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gelombang balasan dari milisi pro-Teheran mulai bermunculan.
Satu per satu “kekuatan proksi” Iran bergerak. Ada yang kirim drone, roket, sampai ancaman blokade laut. Siapa saja mereka? Ini daftarnya.
Hizbullah (Lebanon)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Milisi kuat asal Lebanon ini langsung tancap gas. Mereka mengklaim meluncurkan serangan udara ke pangkalan militer di Israel utara sebagai “balasan” atas tewasnya Khamenei. Serangan disebut sudah dimulai sejak 1 Maret dan masih berlanjut.
Kataib Hizbullah (Irak)
Milisi Irak ini bersumpah menyerang pangkalan militer AS. Sebelumnya, markas Pasukan Mobilisasi Populer di Jurf Al Shakr dihantam serangan udara yang menewaskan dua personel.
Sejumlah laporan menyebut aksi balasan kemungkinan dilancarkan oleh kelompok ini.
Saraya Awliya Al-Dam (Irak)
Kelompok ini mengaku bertanggung jawab atas serangan drone ke Bandara Internasional Erbil.
Mereka menyebut operasi itu sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Iran dan perlawanan atas “agresi Zionis-Amerika”.
Houthi (Yaman)
Milisi penguasa Yaman ini siap mengganggu jalur Laut Merah. Pemimpinnya, Abdulmalik Al-Houthi, menegaskan pangkalan AS di Timur Tengah adalah target sah. Mereka juga menyerukan demonstrasi besar-besaran untuk mendukung Iran.
Kataib Sayyid Al-Shuhada & Harakat Al-Nujaba (Irak)
Dua milisi Irak ini juga angkat suara. Mereka menyatakan siap “membela kedaulatan Irak” dan membantu Iran jika konflik meluas.
Bahkan, platform yang terafiliasi dengan Harakat Al-Nujaba memberi sinyal kepentingan minyak AS di Timur Tengah bisa jadi sasaran.
Shanghai Cooperation Organization (SCO)
Berbeda dari milisi bersenjata, organisasi yang digawangi China dan Rusia ini memilih jalur diplomasi.
Mereka mengutuk serangan AS–Israel terhadap Iran, namun menegaskan solusi terbaik adalah dialog, bukan perang terbuka.
Situasi kini makin tegang. Serangan balasan dari berbagai milisi pro-Iran membuka potensi konflik regional yang lebih luas.
Dunia internasional pun menahan napas, menunggu: apakah ini akan jadi perang besar berikutnya di Timur Tengah? (Red)













Komentar