Integritas ASN di Era Kejahatan Kontemporer: Kekuatan Fisik dan Mental Jadi Senjata Utama

Agenda Citra Muhammad (Genda), alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2024; saat ini sedang berkarir sebagai CPNS di Mahkamah Agung Republik Indonesia

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dunia birokrasi Indonesia saat ini tidak hanya berhadapan dengan tantangan administratif, namun juga terlibat dalam arus perubahan global yang sangat dinamis.

Jika di masa lampau, bela negara secara umum terkait dengan pertempuran fisik di medan perang, saat ini Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi berbagai isu kejahatan modern di lain pertempuran fisik.

Isu kejahatan tersebut misalkan korupsi, ancaman seperti korupsi, narkoba, terorisme dan radikalisme, money laundering, proxy war (perang proksi), ataupun kejahatan komunikasi massa.

Timbulnya berbagai masalah kontemporer, di saat bersamaan terdapat kewajiban ASN dalam melaksanakan bela negara, menimbulkan tantangan bagi ASN untuk menjawabnya dengan solusi kontemporer juga; yakni dengan menerapkan wawasan kebangsaan.

ASN harus mampu menemukan solusi yang baru untuk masalah-masalah baru. Kemampuan untuk menemukan solusi tersebut juga merupakan kewajiban ASN untuk menerapkan kesiapsiagaan bela negara yang merupakan kesiapan ASN untuk mengabdikan diri dalam menghadapi ancaman bangsa.

Isu kontemporer tidak hanya menyerang bangsa berupa peluru dan senjata, tetapi juga menyerang ketahanan individu melalui tekanan moral, tekanan sosial, serta tekanan psikologis yang terus meningkat.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan bela negara harus dimaknai secara lebih luas, tidak hanya sebagai kesiapan administratif, tetapi juga sebagai kesiapan personal yang mencakup ketahanan fisik dan ketahanan mental ASN dalam menjalankan tugasnya secara profesional.

Dalam tulisan ini, penulis akan menjawab pertanyaan bagaimana kesehatan fisik dan mental dapat menjadi penangkal (senjata untuk melawan) isu kontemporer bagi ASN.

Sehat fisik dan mental sebagai senjata tersebut diulas dengan terlebih dahulu memahami makna bela negara dan kesiapsiagaan bela negara.

Bela negara sebagai tekad atau perilaku dalam menjaga di antaranya, keselamatan bangsa dan negara—-memiliki lima indikator nilai dasar yakni indikator cinta tanah air, indikator sadar berbangsa dan bernegara, indikator setia pada Pancasila sebagai ideologi bangsa, indikator rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta indikator kemampuan awal bela negara.

Indikator kemampuan awal bela negara menurut Lembaga Administrasi Negara dapat ditunjukkan dengan adanya sikap:

  • Memiliki kecerdasan emosional dan spiritual serta intelijensia;
  • Senantiasa memelihara jiwa dan raga;
  • Senantiasa bersyukur dan berdoa atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa;
  • Gemar berolahraga;
  • Senantiasa menjaga kesehatannya;

Tidak hanya sebagai indikator, olahraga juga disebut sebagai salah satu sikap dan perilaku kemampuan awal bela negara bagi ASN. Sikap dan perilaku tersebut bertujuan untuk mengaktualisasikan kemampuan awal bela negara bagi ASN.

Selalu menjaga kebugaran dan menjadikan kegemaran berolahraga menjadi suatu gaya hidup adalah salah satu sikap dan perilaku untuk kemampuan awal bela negara tersebut.

Sementara itu, kesiapsiagaan bela negara dapat diartikan sebagai kesiapan yang dimiliki individu untuk menghadapi berbagai situasi kerja, baik fisik, mental, maupun sosial, yang dilakukan dengan sikap dan tekad yang bulat secara sadar serta tulus, disertai dengan keinginan berkorban sepenuh hati demi menjaga keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Kesiapsiagaan ini tidak hanya mencakup persiapan teknis, tetapi juga mencerminkan kesiapan menyeluruh individu dalam melaksanakan peran sebagai bagian dari sistem negara.

Dalam konteks ASN, kesiapsiagaan bela negara sangat krusial karena ASN adalah pelaksana kebijakan publik dan garda terdepan dalam pelayanan publik, sehingga tingkat kesiapan individu ASN akan berdampak langsung pada ketahanan pemerintahan dan kepercayaan masyarakat.

Salah satu nilai dasar dalam bela negara adalah memiliki kemampuan awal bela negara baik secara fisik dan nonfisik. Aspek fisik dan nonfisik tersebut dilakukan untuk bisa mewujudkan kemampuan awal bela negara.

Secara fisik, kemampuan awal bela negara ditunjukkan melalui upaya menjaga kesamaptaan atau kesiapsiagaan diri, yaitu dengan memelihara kesehatan jasmani dan rohani.

Sementara itu, secara nonfisik kemampuan awal bela negara diwujudkan dengan menjaga etika, etiket, moral, serta memegang teguh kearifan lokal sebagai nilai luhur jati diri bangsa.

Kesehatan jasmani adalah kemampuan tubuh untuk menyesuaikan alat tubuh dalam batas fisiologi terhadap lingkungannya. Kesehatan jasmani di antaranya dipengaruhi oleh kebugaran jasmani dan olahraga dan pola hidup sehat.

Selain kesehatan jasmani, aspek yang tidak kalah penting dalam kesiapsiagaan bela negara adalah kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan kondisi psikologis seseorang yang memungkinkan individu mampu berpikir jernih, mengelola emosi, mengendalikan stres, serta berfungsi secara optimal dalam kehidupan sosial maupun pekerjaan.

Dengan melakukan kesehatan jasmani dan kesehatan mental tadi, ASN dapat memiliki kesiapsiagaan jasmani dan mental. Kesiapsiagaan jasmani merupakan salah satu bagian kesiapsiagaan yang wajib dimiliki dan dipelihara oleh ASN.

Kesiapsiagaan jasmani dapat dipahami sebagai serangkaian kemampuan fisik yang membuat seseorang mampu melaksanakan tugas atau kegiatan secara lebih baik dan efisien, baik untuk pekerjaan ringan maupun berat, serta menghindari risiko cedera maupun kelelahan yang berlebihan.

Kesiapsiagaan mental perlu dibangun melalui sikap berpikir positif, kemampuan mengendalikan emosi, keterbukaan dalam menghadapi masalah, kontrol diri, serta kemampuan bersosialisasi secara sehat, sehingga ASN dapat tetap profesional dan stabil dalam menghadapi tekanan kerja dan tantangan isu-isu kontemporer.

Gejala orang yang terganggu kesiapsiagaan mentalnya di antara lain rasa tidak mau bertanggung jawab ataupun apatis. Pengaruh dari adanya kesiapsiagaan mental adalah mampu mengelola emosi dengan baik, terhindar dari gejala ketidak-tenteraman hati seperti menganiaya orang lain, dan kurang bersemangat mengambil inisiatif

Penulis memandang bahwa banyak isu kontemporer dapat dijelaskan melalui pola sebab-akibat yang berputar seperti lingkaran yang saling memperkuat.

Ketika kesiapsiagaan mental melemah, seseorang menjadi lebih mudah tergoda, mudah terprovokasi, atau mencari pelarian, sehingga risiko terjerumus pada korupsi, narkoba, hoaks, maupun radikalisme semakin besar.

Sebaliknya, ketika seseorang telah terlibat sebagai pelaku dalam isu tersebut, dampaknya justru memperburuk kondisi fisik dan mental sehingga membentuk pola sebab-akibat yang berulang atau “lingkaran setan.”

Menariknya, penulis mengamati bahwa dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena positif yang sangat menonjol di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.

Fenomena tersebut adalah meningkatnya budaya kesehatan fisik dan kesehatan mental yang sangat ramai diperbincangkan, bahkan dipamerkan secara terbuka di media sosial.

Budaya clean eating, kampanye mengurangi konsumsi gula, olahraga rutin, gym, lari, hingga kebiasaan menjaga pola tidur kini tidak hanya menjadi kebutuhan pribadi, tetapi juga menjadi tren yang viral.

Bahkan banyak anak muda menjadikan gaya hidup sehat sebagai identitas diri yang ditampilkan melalui berbagai konten kreatif, melalui akun edukasi kesehatan, mulai Instagram, Youtube, Tiktok, dan lainnya.

Di media sosial, mulai dari public figure hingga siswa – siswi yang masih di bangku sekolah, berlomba-lomba membagikan perjalanan transformasi hidup sehat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dan kejujuran dalam membagikan perjalanan hidup sehat atau konten self-love (contoh, konten before vs after) telah menjadi semacam “budaya baru”.

Di media sosial, akun edukasi kesehatan mental, konten self-love. Bahkan, dalam tren musik dan budaya populer, semakin banyak lagu yang mengangkat tema kelelahan mental, tekanan hidup, tekanan karir, tekanan kesuksesan, hingga proses bangkit kembali, sehingga isu kesehatan mental terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.

Fenomena ini agaknya berbeda dengan generasi sebelumnya, ketika media sosial belum semasif sekarang, sehingga kampanye kesehatan jasmani dan mental tidak muncul sejelas, segamblang, dan se-viral masa kini.

Dahulu, kesehatan sering dianggap urusan pribadi yang dibicarakan secara terbatas, sedangkan sekarang kesehatan telah menjadi pembicaraan publik yang masif sekaligus menjadi identitas sosial.

Lewat tulisan ini, penulis menekankan bahwa tren tersebut tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai gaya hidup atau sekadar konten estetik. Dalam perspektif bela negara, tren sehat fisik dan mental seharusnya dipahami sebagai modal besar untuk membangun ASN yang berintegritas dan tahan terhadap isu-isu kontemporer.

Sehat jasmani membentuk disiplin, konsistensi, serta kemampuan menahan diri dari kebiasaan buruk. Contoh sederhana, orang yang sakit raganya hingga tidak bisa kerja, dapat memicu keinginan untuk kaya cepat dengan cara melanggar hukum demi menyelamatkan ekonominya.

Sehat mental membentuk kontrol emosi. Jika seorang ASN memiliki kesehatan mental yang baik, ia lebih mampu menolak lebih tahan terhadap tekanan pihak lain yang menjerumuskan dan lebih bijak dalam menghadapi provokasi informasi.

Sehat fisik dan mental memang sangat masif di masa sekarang, sebagaimana yang penulis amati dalam berbagai tren media sosial dan budaya populer.

Namun, yang terkadang terlupakan adalah bahwa kesehatan tersebut tidak cukup dimaknai sebagai gaya hidup personal semata, melainkan harus dihayati sebagai bagian dari kesiapsiagaan bela negara dan senjata integritas ASN.

Begitu sebaliknya, ASN yang sudah membiasakan hidup sehat, harus menyadari suatu kemungkinan bahwa jika mereka terjerumus menjadi pelaku dari isu (kejahatan) kontemporer, maka kesehatan fisik dan mental mereka sendirilah yang akan runtuh.

Pada masa maraknya penggunaan media sosial kini, dengan semakin mudahnya konten gaya hidup sehat menjadi viral, maka terlihat bahwa sebenarnya bukan gaya hidup sehatnya yang terkadang terlupakan, melainkan penjiwaan bahwa sehat fisik dan mental adalah senjata yang kontemporer pula bagi ASN dalam menghadapi isu-isu kontemporer. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

One thought on “Integritas ASN di Era Kejahatan Kontemporer: Kekuatan Fisik dan Mental Jadi Senjata Utama

  • Keren mas Genda..,teruslah berkarya..untuk kemajuan besar sebuah bangsa yg bermartabat dimata dunia…Allah SWT melindungimu Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like