Oleh: Hidayatul Mukaromah, Mahasiswa Prodi Akuntansi FEB, Universitas Peradaban
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh godaan belanja, impulsive buying atau pembelian impulsif sering kali membuat kita menghabiskan uang tanpa rencana.
Artikel ini akan membahas cara sederhana untuk mencegahnya, yaitu melalui pencatatan pengeluaran harian yang teratur. Dengan metode ini, kita dapat lebih sadar akan pola belanja kita dan mengambil keputusan yang lebih bijak untuk keuangan pribadi.
Impulsive buying sekarang jadi masalah yang cukup serius, karena kebiasaan ini biasanya didorong oleh emosi sesaat.
Tanpa disadari, banyak orang menjadikan aktivitas belanja sebagai cara cepat untuk menenangkan diri atau melarikan diri dari masalah, yang sebenarnya berkaitan erat dengan kemampuan kita dalam mengatur emosi. (Nicole, 2025).
Sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu yang bersifat konsumtif, sebaiknya seseorang berhenti sejenak dan mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan semata.
Banyak orang sering terjebak membeli sesuatu karena dorongan sesaat tanpa memikirkan manfaat jangka panjangnya. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku konsumtif untuk lebih memahami dan membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang hanya keinginan, agar keputusan yang diambil menjadi lebih bijak. (Maulana, 2025).
Sikap ini sangat penting agar pengeluaran bisa lebih terkontrol dan tidak berujung pada penyesalan di kemudian hari. Dengan memiliki kesadaran dalam membedakan kebutuhan dan keinginan, seseorang dapat mengelola keuangannya dengan lebih bijak.
Para pelaku konsumtif perlu memahami mana yang termasuk kebutuhan pokok yang harus diprioritaskan, seperti kebutuhan sehari-hari, dan mana yang hanya bersifat pelengkap atau sekadar menunjang gaya hidup.
Dengan begitu, keputusan dalam berbelanja tidak hanya didasarkan pada keinginan sesaat, tetapi juga pada pertimbangan manfaat dan kondisi keuangan.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, budaya belanja impulsif semakin marak dan sering dipicu oleh berbagai promosi yang menarik, seperti iklan di media sosial, potongan harga di pasar tradisional, hingga berbagai penawaran menggiurkan dari platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan lainnya
Kemudahan akses dan tampilan promosi yang terus-menerus membuat masyarakat terdorong untuk berbelanja tanpa perencanaan yang matang. Akibatnya, impulsive buying menjadi masalah yang cukup umum dan tanpa disadari dapat menggerus tabungan keluarga secara perlahan.
Jika kebiasaan ini terus berlangsung, kondisi keuangan rumah tangga bisa menjadi tidak stabil dan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting di masa depan. Sehingga, pencatatan pengeluaran harian dapat menjadi solusi yang praktis dan efektif untuk mencegah perilaku tersebut.
Dengan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, seseorang akan lebih sadar kemana uangnya digunakan dan untuk apa saja. Cara ini juga membantu membangun kesadaran finansial yang lebih baik dan realistis, karena disesuaikan dengan kondisi serta gaya hidup masyarakat lokal.
Selain itu, kebiasaan mencatat pengeluaran dapat mendorong individu dan keluarga untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan belanja yang lebih bijak.
Impulsive buying di Indonesia sering terjadi karena kurangnya kontrol terhadap pengeluaran sehari-hari, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti inflasi dan naik-turunnya harga bahan pokok, misalnya beras dan bahan bakar.
Situasi ini membuat masyarakat sering merasa tertekan dan akhirnya melampiaskannya lewat belanja tanpa perencanaan. Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang dilakukan setiap hari bisa menumpuk dan berdampak besar pada kondisi keuangan.
Dengan membiasakan diri mencatat setiap pengeluaran, mulai dari belanja harian di warung, jajan, hingga pembelian online, individu dapat lebih memahami ke mana uang mereka sebenarnya pergi.
Dari catatan tersebut, pola belanja yang tidak terencana akan terlihat jelas, seperti kebiasaan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena tergiur diskon.
Kesadaran ini dapat membantu seseorang untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan belanja. Selain itu, pencatatan pengeluaran juga mendorong sikap lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap keuangan pribadi.
Argumen ini diperkuat oleh data dari Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa pengeluaran impulsif turut menyumbang tingginya utang konsumtif, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Pencatatan harian mendorong disiplin finansial yang mudah diadopsi tanpa alat mahal, cocok dengan kenyataan ekonomi Indonesia di mana banyak orang bergantung pada catatan manual atau aplikasi sederhana seperti Excel atau buku kecil.
Berdasarkan model proyeksi BI dan BPS (2024), dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5-6% dan inflasi terkendali di bawah 3%, utang konsumtif diprojeksi naik menjadi Rp 1.700-1.800 triliun, dengan kontribusi impulsive buying meningkat menjadi 20-22% akibat ekspansi e-commerce dan kampanye promosi selama musim liburan (seperti Lebaran dan Natal 2025).
Dengan demikian, pencatatan pengeluaran harian adalah strategi sederhana namun kuat untuk mencegah impulsive buying, terutama dalam konteks budaya belanja Indonesia yang dipengaruhi oleh media sosial dan promosi. (Red)