Mentalitet Korea ala Bambang Pacul: Etos Melenting dan Nasionalisme Marhaen

Krisna Wahyu Yanuar, Editor Urupedia.id

Oleh: Krisna Wahyu Yanuar, Editor Urupedia.id

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Bambang “Pacul” Wuryanto adalah salah satu politisi yang menarik karena ia sering berbicara dengan bahasa rakyat, dengan gaya “ndeso”, tetapi menyimpan pesan ideologis yang dalam.

Ketika ia menyebut istilah mentalitet Korea, sebenarnya ia sedang mengajukan metafora penting tentang daya juang bangsa, yakni bagaimana sebuah masyarakat bisa bangkit dari keterpurukan, bekerja keras dari nol, dan menegakkan harga diri kolektif.

Namun, dalam konteks Indonesia, istilah itu tidak bisa berhenti sebagai kekaguman pada Korea Selatan semata. Ia harus dibaca dalam bingkai yang lebih dekat dengan sejarah kita sendiri, yakni marhaenisme dan nasionalisme kerakyatan.

Karena bangsa ini tidak dibangun oleh konglomerat, melainkan oleh rakyat kecil yang memanggul hidup dari tanah dan keringat.

Out of Nothing dan Marhaen sebagai Titik Nol Republik

Mentalitet Korea versi Bambang Pacul dimulai dari gagasan ‘out of nothing‘, yakni bangkit dari keadaan nol, dari kondisi bukan siapa-siapa. Ini sejalan dengan Marhaenisme Soekarno.

Marhaen adalah rakyat yang tidak punya privilese, tidak punya warisan kekuasaan, tidak punya modal besar. Tetapi justru dari tangan merekalah republik ini berdiri.

Dalam Marhaenisme, nasionalisme bukan milik elite, melainkan milik orang kecil yang berjuang dari bawah.

Maka mentalitet Korea dalam bahasa Pacul adalah seruan, yakni jangan tunggu jadi orang besar untuk berjuang, karena justru perjuanganlah yang membuat rakyat kecil menjadi sejarah.

Disiplin Baja sebagai Nasionalisme Sosial

Pacul menekankan disiplin dan kerja keras. Korea menjadi simbol bangsa yang tidak manja, bangsa yang membayar kemajuan dengan keringat.

Tetapi dalam Marhaenisme, kerja keras rakyat kecil bukan hal baru. Marhaen sudah bekerja keras sejak awal, bahkan sering lebih keras dari siapa pun.

Masalahnya, dalam struktur Indonesia, kerja keras rakyat sering tidak otomatis berbuah kesejahteraan karena sistem ekonomi-politik kerap timpang.

Di sinilah nasionalisme Marhaen menuntut sesuatu yang lebih, yakni kerja keras harus dibarengi keadilan sosial.

Mentalitet Korea bisa menjadi etos individu, tetapi Marhaenisme adalah etos kolektif, yakni disiplin rakyat harus dibalas oleh disiplin negara untuk berpihak.

Loyalitas Tegak Lurus antara Partai dan Rakyat

Bambang Pacul juga mengaitkan mentalitet Korea dengan loyalitas kader, yakni kepatuhan pada komando.

Dalam tradisi organisasi politik, loyalitas memang penting. Tetapi Marhaenisme mengingatkan satu hal, yakni loyalitas tertinggi bukan pada elite, melainkan pada rakyat kecil sebagai sumber legitimasi perjuangan.

Jika loyalitas hanya berhenti pada pimpinan, ia bisa berubah menjadi feodalisme baru. Tetapi jika loyalitas diarahkan pada cita-cita kerakyatan, ia menjadi nasionalisme sejati.

Marhaenisme bukan sekadar garis komando, melainkan garis penderitaan rakyat yang harus dibela.

Budaya Malu sebagai Harga Diri Nasional

Pacul mengadopsi budaya malu Korea sebagai dorongan moral, yakni jangan jadi beban, jangan jadi pecundang, berkontribusilah.

Ini penting, tetapi dalam konteks Indonesia, budaya malu harus naik kelas menjadi harga diri nasional.

Soekarno dulu menyebut kemerdekaan sebagai soal martabat, yakni bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.

Marhaen adalah simbol martabat itu. Harga diri bukan hanya soal prestasi individu, melainkan soal bangsa yang tidak membiarkan rakyat kecil terus diinjak.

Budaya malu bukan sekadar malu gagal, tetapi malu jika republik ini membiarkan ketimpangan menjadi warisan.

Mentalitet Korea sebagai Marhaenisme yang Melenting

Bambang Pacul menggunakan istilah mentalitet Korea untuk menciptakan dikotomi, yakni mental pecundang yang manja dan cepat menyerah berhadapan dengan mental petarung yang konsisten dan tahan banting.

Tetapi jika dibaca lebih jauh, istilah itu sebenarnya adalah cara lain untuk menyebut mentalitas Marhaen yang melenting.

Marhaen adalah rakyat yang selalu jatuh, tetapi bangkit lagi. Marhaen digusur, tetapi berdagang lagi. Marhaen kehilangan tanah, tetapi tetap menanam harapan. Marhaen diperas sistem, tetapi tetap menjaga republik ini hidup.

Jika Korea melenting karena negara kuat, Indonesia melenting karena rakyat kecil terlalu kuat untuk mati.

Melenting untuk Siapa?

Pada akhirnya, mentalitet Korea ala Bambang Pacul hanya akan menjadi slogan jika tidak dipulangkan ke rumah ideologisnya, yakni Marhaenisme dan nasionalisme kerakyatan.

Karena nasionalisme sejati bukan sekadar bangga pada bangsa lain yang maju, melainkan keberanian membangun bangsa sendiri dengan keberpihakan pada rakyat kecil.

Pacul bukan sekadar simbol pidato, melainkan alat produksi Marhaen. Dan Marhaen bukan objek retorika, melainkan fondasi republik.

Jika mentalitet Korea adalah semangat melenting, maka Marhaenisme adalah pertanyaan besar, yakni melenting untuk siapa, bangkit untuk siapa, republik ini berdiri untuk siapa. Jawabannya seharusnya satu, yakni untuk Marhaen, untuk rakyat, untuk Indonesia. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like