Amerika Serikat Jujur, Ternyata Tak Mampu Cegat Rudal Hipersonik Rusia–China

- Penulis

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi rudal balistik. (Sumber: pinterest)

Ilustrasi rudal balistik. (Sumber: pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fakta yang cukup bikin kening berkerut datang dari Amerika Serikat. Negara adidaya itu akhirnya blak-blakan: mereka belum punya sistem pertahanan yang mampu menghentikan rudal hipersonik milik Rusia dan China.

Pengakuan ini bukan bocoran sembarangan. Marc Berkowitz, pejabat tinggi di Pentagon, menyampaikannya langsung di hadapan Kongres pada Senin (28/4).

Dalam forum resmi itu, ia mengakui bahwa teknologi pertahanan udara AS saat ini masih kewalahan menghadapi ancaman rudal generasi terbaru tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ya, kita belum punya pertahanan untuk rudal hipersonik atau rudal jelajah canggih saat ini,” kata Berkowitz, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Golden Dome: Proyek Ambisius Bernilai Ribuan Triliun

Di balik pengakuan itu, ada misi besar yang sedang didorong. Pemerintahan Donald Trump tengah mengajukan proyek ambisius bernama Golden Dome—sebuah sistem pertahanan udara supercanggih, bahkan dirancang berbasis luar angkasa.

Baca Juga :  Rusia dan ASEAN Sepakati Dokumen Kebijakan Baru untuk Tingkatkan Kerja Sama Multilateral

Targetnya? Bisa mencegat rudal hipersonik yang melaju dengan kecepatan ekstrem.

Namun, ambisi itu datang dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala. Biaya pembangunan Golden Dome diperkirakan mencapai US$185 miliar atau sekitar Rp3.212 triliun.

Angka ini bahkan naik dari estimasi sebelumnya setelah United States Space Force menambahkan kebutuhan anggaran baru.

Berkowitz menyebut proyek ini penting untuk memperkuat efek gentar (deterrence) terhadap musuh.

“Golden Dome akan mematahkan kemampuan lawan untuk mencapai tujuan mereka melalui kekerasan,” ujarnya.

China dan Rusia Melesat, AS Keteteran?

Di sisi lain, perkembangan teknologi militer China dan Rusia disebut melaju pesat, terutama dalam pengembangan rudal hipersonik—senjata yang bisa melesat lebih dari lima kali kecepatan suara dan sulit dilacak radar konvensional.

Baca Juga :  Perpecahan Eropa: Bantuan Militer ke Ukraina Memicu Konflik Internal Terburuk di Uni Eropa

Berkowitz bahkan terang-terangan menyebut China sebagai pesaing utama AS. Strategi pencegahan pun mulai diarahkan ke kawasan rantai pulau terluar (outer island chain), sebagai benteng geopolitik baru.

Namun, langkah AS ini tidak lepas dari kritik. Beijing menilai rencana Golden Dome justru berpotensi memicu perlombaan senjata baru—bahkan membuka kemungkinan ruang angkasa berubah jadi medan perang.

China juga menyindir Washington sebagai negara yang “terobsesi dengan keamanan absolut.”

Dunia Masuk Era Baru Perlombaan Senjata?

Dengan pengakuan ini, satu hal jadi jelas: perlombaan teknologi militer global kini memasuki babak baru.

Rudal hipersonik bukan lagi sekadar wacana, tapi ancaman nyata yang belum sepenuhnya bisa dijinakkan—bahkan oleh negara sekelas Amerika Serikat.

Pertanyaannya sekarang, apakah Golden Dome akan jadi jawaban… atau justru memicu konflik yang lebih besar? (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB