Amerika Serikat Jujur, Ternyata Tak Mampu Cegat Rudal Hipersonik Rusia–China

Ilustrasi rudal balistik. (Sumber: pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fakta yang cukup bikin kening berkerut datang dari Amerika Serikat. Negara adidaya itu akhirnya blak-blakan: mereka belum punya sistem pertahanan yang mampu menghentikan rudal hipersonik milik Rusia dan China.

Pengakuan ini bukan bocoran sembarangan. Marc Berkowitz, pejabat tinggi di Pentagon, menyampaikannya langsung di hadapan Kongres pada Senin (28/4).

Dalam forum resmi itu, ia mengakui bahwa teknologi pertahanan udara AS saat ini masih kewalahan menghadapi ancaman rudal generasi terbaru tersebut.

“Ya, kita belum punya pertahanan untuk rudal hipersonik atau rudal jelajah canggih saat ini,” kata Berkowitz, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Golden Dome: Proyek Ambisius Bernilai Ribuan Triliun

Di balik pengakuan itu, ada misi besar yang sedang didorong. Pemerintahan Donald Trump tengah mengajukan proyek ambisius bernama Golden Dome—sebuah sistem pertahanan udara supercanggih, bahkan dirancang berbasis luar angkasa.

Targetnya? Bisa mencegat rudal hipersonik yang melaju dengan kecepatan ekstrem.

Namun, ambisi itu datang dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala. Biaya pembangunan Golden Dome diperkirakan mencapai US$185 miliar atau sekitar Rp3.212 triliun.

Angka ini bahkan naik dari estimasi sebelumnya setelah United States Space Force menambahkan kebutuhan anggaran baru.

Berkowitz menyebut proyek ini penting untuk memperkuat efek gentar (deterrence) terhadap musuh.

“Golden Dome akan mematahkan kemampuan lawan untuk mencapai tujuan mereka melalui kekerasan,” ujarnya.

China dan Rusia Melesat, AS Keteteran?

Di sisi lain, perkembangan teknologi militer China dan Rusia disebut melaju pesat, terutama dalam pengembangan rudal hipersonik—senjata yang bisa melesat lebih dari lima kali kecepatan suara dan sulit dilacak radar konvensional.

Berkowitz bahkan terang-terangan menyebut China sebagai pesaing utama AS. Strategi pencegahan pun mulai diarahkan ke kawasan rantai pulau terluar (outer island chain), sebagai benteng geopolitik baru.

Namun, langkah AS ini tidak lepas dari kritik. Beijing menilai rencana Golden Dome justru berpotensi memicu perlombaan senjata baru—bahkan membuka kemungkinan ruang angkasa berubah jadi medan perang.

China juga menyindir Washington sebagai negara yang “terobsesi dengan keamanan absolut.”

Dunia Masuk Era Baru Perlombaan Senjata?

Dengan pengakuan ini, satu hal jadi jelas: perlombaan teknologi militer global kini memasuki babak baru.

Rudal hipersonik bukan lagi sekadar wacana, tapi ancaman nyata yang belum sepenuhnya bisa dijinakkan—bahkan oleh negara sekelas Amerika Serikat.

Pertanyaannya sekarang, apakah Golden Dome akan jadi jawaban… atau justru memicu konflik yang lebih besar? (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like