Kapal Perang AS Nongol di Selat Malaka, Ada Apa Sebenarnya?

- Penulis

Senin, 20 April 2026 - 22:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kemunculan kapal perang Amerika Serikat di Selat Malaka bikin publik auto waspada. Jalur laut super sibuk ini tiba-tiba “kedatangan tamu” bersenjata—wajar kalau banyak yang langsung bertanya: ada apa?

TNI Angkatan Laut (AL) buru-buru kasih penjelasan. Secara hukum internasional, kehadiran kapal perang itu bukan pelanggaran. Tapi, di balik itu, situasinya nggak sesederhana yang terlihat. Ada aroma geopolitik yang bikin cerita ini makin panas.

Kapal yang jadi sorotan adalah USS Miguel Keith, terdeteksi melintas di perairan timur Belawan pada Sabtu (18/4/2026) sore. Lewat sistem pelacakan AIS, kapal ini terlihat bergerak ke arah barat laut—dan langsung jadi perhatian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Tunggul, menegaskan bahwa pelayaran itu sah secara hukum internasional. Jadi, bukan “nyelonong ilegal”.

Hak Lintas Transit: Legal, Tapi Tetap Sensitif

Alasan utama kehadiran kapal perang AS ini adalah hak lintas transit. Aturan ini diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), yang memperbolehkan kapal asing—termasuk militer—melintasi selat internasional seperti Selat Malaka.

Baca Juga :  Pertegas Kepemimpinan di Bidang Sains, Teknologi dan Inovasi, Rusia Gelar Kongres Ilmuan Muda Rusia-BRICS

Selat ini sendiri bukan jalur biasa. Ini adalah “urat nadi” perdagangan dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Jadi, selama kapal tidak bikin gangguan keamanan, mereka boleh lewat.

Tunggul menegaskan, kapal asing tetap harus patuh aturan, mulai dari keselamatan pelayaran (COLREG 1972) hingga pencegahan pencemaran laut (MARPOL). Intinya: boleh lewat, tapi jangan macam-macam.

Diseret ke Isu Iran?

Nah, bagian ini yang bikin situasi makin bikin kening berkerut.

Kemunculan kapal perang AS ini ramai dibahas setelah ada pernyataan dari pejabat militer AS soal operasi terhadap kapal tanker yang diduga terkait Iran.

Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut bahwa operasi pencegahan maritim kini diperluas hingga kawasan Indo-Pasifik. Targetnya? Kapal-kapal yang dicurigai melanggar sanksi, termasuk pengangkut minyak “gelap”.

Baca Juga :  'No King’ Menggema Lagi: Rakyat Amerika Tolak Trump yang Kian Otoriter

Beberapa laporan bahkan menyebut Selat Malaka jadi salah satu titik strategis pergerakan tanker-tanker tersebut. Artinya, kehadiran kapal perang ini bisa jadi bukan sekadar lewat—tapi bagian dari misi yang lebih besar.

Indonesia Diminta Tetap Netral

Di tengah situasi yang makin “hangat”, DPR mengingatkan pemerintah untuk tetap pegang prinsip bebas aktif.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, menegaskan pentingnya menjaga posisi Indonesia agar tidak terseret konflik negara besar. Menurutnya, selama aktivitas kapal sesuai hukum internasional, itu harus dipahami sebagai hal yang sah.

Namun, yang paling penting: stabilitas kawasan tetap terjaga, jalur perdagangan aman, dan kepentingan nasional Indonesia tidak terganggu.

Jadi, kapal perang AS di Selat Malaka ini memang legal. Tapi, di balik “sekadar melintas”, ada dinamika global yang bikin ceritanya jauh lebih kompleks. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 30 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB