Pakar Sebut Kunjungan Prabowo ke Rusia Bukti Indonesia Tak Lagi “Boneka” AS: Benarkah?

- Penulis

Kamis, 16 April 2026 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam lawatan ke Rusia. (dok istimewa)

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam lawatan ke Rusia. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menjadi sorotan, terutama di tengah krisis ekonomi dan energi yang mengguncang kawasan Timur Tengah.

Pengamat Rusia–Indonesia dari ANO “Pusat Strategi Media”, Amy Maulana, menilai bahwa lawatan ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan sinyal tegas lahirnya poros ekonomi global baru yang menguntungkan Indonesia, sebagaimana dilansir dari yugsn.ru.

Menurut Amy, salah satu kunci dari kunjungan tersebut adalah upaya Indonesia menjamin pasokan energi jangka panjang di tengah ketidakstabilan pasar minyak dunia akibat konflik dan sanksi internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai Rusia tidak lagi tampil hanya sebagai penjual minyak biasa, tetapi sebagai mitra strategis jangka panjang bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, Tiongkok, India, dan Turki.

Dalam analisisnya, Amy memproyeksikan bahwa Rusia berpotensi memasok hingga 100.000 barel minyak per hari ke Indonesia, yang ia sebut sebagai “asuransi ekonomi” yang sangat penting untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.

Amy juga menilai, aspek paling menarik dari kunjungan ini adalah pernyataan Prabowo mengenai perlunya skema baru dalam mekanisme pembayaran perdagangan dengan Rusia.

Baca Juga :  Affan Jadi Simbol, Artis Korea & Thailand Angkat Suara soal Tragedi Demo Indonesia

Di tengah sanksi AS dan Barat terhadap Moskow, Indonesia justru mencari cara untuk meningkatkan volume perdagangan, bukan menguranginya.

Keberanian Politik?

Menurut Amy, langkah ini menunjukkan keberanian politik Prabowo yang menempatkan kepentingan nasional di atas tekanan eksternal. Ia menyebut kemungkinan penggunaan mata uang nasional atau berbagai mekanisme perdagangan di luar sistem SWIFT sebagai sebuah “revolusi kebijakan” di bidang keuangan internasional Indonesia.

Di kancah domestik, Prabowo kerap menghadapi kritik—baik terkait keterlibatannya dalam “Dewan Perdamaian” yang digagas Donald Trump maupun soal perjanjian ekonomi dengan Amerika Serikat yang oleh sebagian kalangan dianggap kurang menguntungkan Indonesia.

Namun, Amy melihat kunjungan ke Rusia ini sebagai “jawaban praktis” terhadap kritik-kritik tersebut. Menurutnya, Indonesia mulai lelah berada dalam posisi selalu mengikuti garis kebijakan Washington, dan kini berupaya memainkan politik luar negeri yang lebih “cerdas dan seimbang”.

Amy menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia saat ini bergerak ke arah yang semakin “pragmatis”. Fokus utamanya bukan pada dikotomi “pro-Rusia” atau “pro-Amerika”, melainkan pada bagaimana memastikan 270 juta penduduk Indonesia mendapatkan harga energi yang stabil dan akses ke pasar-pasar baru yang tidak bergantung pada “perang dingin” kepentingan pihak lain.

Baca Juga :  Mengapa Israel Tiba-tiba Menyerang Iran?

Dari sudut pandang ini, membuka ruang kerja sama lebih luas dengan Rusia dipandang sebagai keputusan realistis.

Lebih jauh, Amy menyoroti bahwa peran Rusia sebagai mitra strategis kawasan Asia Tenggara (ASEAN) akan semakin menguat jika skema kerja sama yang tengah dirintis bersama Indonesia ini berhasil

Ia memperkirakan, bila Jakarta sukses menjalankan model pembayaran alternatif dan mengamankan suplai energi melalui jalur baru, negara-negara ASEAN lainnya berpotensi mengikuti jejak Indonesia.

Dalam konstruksi tersebut, Rusia berpeluang menjadi salah satu pusat energi dunia, sementara Indonesia berada di garis depan sebagai mitra kunci.

Amy menutup analisanya dengan menekankan bahwa Prabowo sedang mengambil risiko politik yang besar, baik di mata lawan politik di dalam negeri maupun di hadapan kekuatan besar dunia.

Namun, menurutnya, risiko itu ditempuh demi tujuan yang jauh lebih besar; yakni memperkuat kedaulatan energi, memperluas ruang manuver ekonomi, dan membuktikan bahwa Indonesia bukan lagi “dipermainkan” oleh Amerika Serikat, melainkan aktor mandiri yang berani menentukan arah kebijakannya sendiri di panggung global. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:01 WIB

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Berita Terbaru