SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menjadi sorotan, terutama di tengah krisis ekonomi dan energi yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Pengamat Rusia–Indonesia dari ANO “Pusat Strategi Media”, Amy Maulana, menilai bahwa lawatan ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan sinyal tegas lahirnya poros ekonomi global baru yang menguntungkan Indonesia, sebagaimana dilansir dari yugsn.ru.
Menurut Amy, salah satu kunci dari kunjungan tersebut adalah upaya Indonesia menjamin pasokan energi jangka panjang di tengah ketidakstabilan pasar minyak dunia akibat konflik dan sanksi internasional.
Ia menilai Rusia tidak lagi tampil hanya sebagai penjual minyak biasa, tetapi sebagai mitra strategis jangka panjang bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, Tiongkok, India, dan Turki.
Dalam analisisnya, Amy memproyeksikan bahwa Rusia berpotensi memasok hingga 100.000 barel minyak per hari ke Indonesia, yang ia sebut sebagai “asuransi ekonomi” yang sangat penting untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
Amy juga menilai, aspek paling menarik dari kunjungan ini adalah pernyataan Prabowo mengenai perlunya skema baru dalam mekanisme pembayaran perdagangan dengan Rusia.
Di tengah sanksi AS dan Barat terhadap Moskow, Indonesia justru mencari cara untuk meningkatkan volume perdagangan, bukan menguranginya.
Keberanian Politik?
Menurut Amy, langkah ini menunjukkan keberanian politik Prabowo yang menempatkan kepentingan nasional di atas tekanan eksternal. Ia menyebut kemungkinan penggunaan mata uang nasional atau berbagai mekanisme perdagangan di luar sistem SWIFT sebagai sebuah “revolusi kebijakan” di bidang keuangan internasional Indonesia.
Di kancah domestik, Prabowo kerap menghadapi kritik—baik terkait keterlibatannya dalam “Dewan Perdamaian” yang digagas Donald Trump maupun soal perjanjian ekonomi dengan Amerika Serikat yang oleh sebagian kalangan dianggap kurang menguntungkan Indonesia.
Namun, Amy melihat kunjungan ke Rusia ini sebagai “jawaban praktis” terhadap kritik-kritik tersebut. Menurutnya, Indonesia mulai lelah berada dalam posisi selalu mengikuti garis kebijakan Washington, dan kini berupaya memainkan politik luar negeri yang lebih “cerdas dan seimbang”.
Amy menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia saat ini bergerak ke arah yang semakin “pragmatis”. Fokus utamanya bukan pada dikotomi “pro-Rusia” atau “pro-Amerika”, melainkan pada bagaimana memastikan 270 juta penduduk Indonesia mendapatkan harga energi yang stabil dan akses ke pasar-pasar baru yang tidak bergantung pada “perang dingin” kepentingan pihak lain.
Dari sudut pandang ini, membuka ruang kerja sama lebih luas dengan Rusia dipandang sebagai keputusan realistis.
Lebih jauh, Amy menyoroti bahwa peran Rusia sebagai mitra strategis kawasan Asia Tenggara (ASEAN) akan semakin menguat jika skema kerja sama yang tengah dirintis bersama Indonesia ini berhasil
Ia memperkirakan, bila Jakarta sukses menjalankan model pembayaran alternatif dan mengamankan suplai energi melalui jalur baru, negara-negara ASEAN lainnya berpotensi mengikuti jejak Indonesia.
Dalam konstruksi tersebut, Rusia berpeluang menjadi salah satu pusat energi dunia, sementara Indonesia berada di garis depan sebagai mitra kunci.
Amy menutup analisanya dengan menekankan bahwa Prabowo sedang mengambil risiko politik yang besar, baik di mata lawan politik di dalam negeri maupun di hadapan kekuatan besar dunia.
Namun, menurutnya, risiko itu ditempuh demi tujuan yang jauh lebih besar; yakni memperkuat kedaulatan energi, memperluas ruang manuver ekonomi, dan membuktikan bahwa Indonesia bukan lagi “dipermainkan” oleh Amerika Serikat, melainkan aktor mandiri yang berani menentukan arah kebijakannya sendiri di panggung global. (Red)