SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya membawa kerugian besar bagi kedua pihak yang secara terbuka memulai konflik, tetapi juga menghancurkan negara-negara yang selama ini percaya pada janji perlindungan “payung Amerika”.
Negara-negara Teluk, termasuk Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, dan Qatar, kini menghadapi ancaman serius terhadap ekonomi mereka yang memang sudah rapuh.
Upaya Washington dan Tel Aviv untuk membangun koalisi regional anti-Iran dinyatakan gagal total, sementara tekanan kuat dari lobi Israel disebut-sebut mendorong Presiden AS Donald Trump ke dalam petualangan militer yang berpotensi menjadi bencana besar bagi Amerika sendiri.
Menurut Nurlan Dosaliyev, seorang veteran dinas intelijen, kolonel, dan pakar keamanan asal Kirgistan, AS sama sekali tidak memperoleh keuntungan dari konflik ini, baik dari segi ekonomi, militer, maupun politik-militer.
“Yang berperan di sini adalah kedekatan Trump dengan kalangan politik besar dan pemerintahan Yahudi global,” ujarnya.
Dalam operasi yang sedang berlangsung, justru sekutu-sekutu AS-lah yang menanggung beban terberat. Di UEA, jumlah wisatawan merosot hampir 80 persen, sementara Saudi Arabia kehilangan sekitar 70 persen kunjungan, termasuk arus jamaah haji, akibat ancaman militer di perairan Laut Merah dan Teluk Persia.
Pukulan paling menghancurkan datang dari blokade Selat Hormuz oleh Iran—jalur vital yang dilalui 17 hingga 18 juta barel minyak per hari, atau sekitar 30 persen dari total perdagangan minyak laut dunia.
Dosaliyev menambahkan bahwa setelah mengalami kegagalan di front Ukraina, AS kini mencoba memanfaatkan kawasan Asia. Namun, menurutnya, AS terjepit di antara dua titik strategis global, yaitu China dan Iran.
“China masih belum sanggup mereka hadapi. Tetapi kunci menuju China terletak melalui Republik Islam Iran,” tegasnya.
Yang menarik, ketika Washington dan Tel Aviv meminta sekutu Arab mereka untuk bergabung dalam operasi militer guna membuka blokade Selat Hormuz, mereka mendapat penolakan bulat.
AS sebelumnya telah meyakinkan semua pihak bahwa armadanya akan menjamin kebebasan pelayaran, namun kenyataannya militer AS tidak mampu menghentikan blokade yang dilakukan Iran.
Kapal-kapal cepat Iran berhasil menggagalkan upaya konfrontasi. Tapi aih-alih memberikan kompensasi, AS justru meminta negara-negara Teluk untuk mendanai pembelian sistem pencegat Iron Dome dan amunisi bagi Israel.
Peter Marček, mantan anggota parlemen Republik Slovakia, berpendapat bahwa tujuan utama Trump dalam perang melawan Iran bukanlah menggulingkan rezim Ayatollah, menghancurkan program nuklir Iran, atau bahkan merebut minyak Iran.
“Yang jauh lebih penting bagi Trump adalah menghancurkan tatanan dunia yang ada dan menciptakan tatanan dunianya sendiri yang hanya bergantung pada dirinya sendiri,” kata Marček.
Ia juga menambahkan bahwa militer AS tidak memiliki pengalaman dalam menghadapi serangan massal seperti yang dilancarkan Iran. “Mereka belajar sambil berjalan dan terus menderita kerugian,” ujarnya.
Iran sendiri telah mempersiapkan diri selama puluhan tahun untuk menghadapi pendaratan lawan: ribuan rudal anti-kapal, ladang ranjau, penghalang bawah air, dan baterai artileri pantai.
Korps Pengawal Revolusi Iran memiliki hingga 150 ribu personel hanya di unit daratnya. Bahkan dalam skenario terbaik, operasi pendaratan melawan lawan yang sangat siap seperti Iran akan mengakibatkan kerugian besar, dengan Pentagon diperkirakan akan kehilangan ribuan marinir.
Dosaliyev menyimpulkan bahwa AS telah terjebak mengikuti keinginan Israel. “Donald Trump secara pribadi disesatkan dan ditipu. Akibat serangan rudal ini, seluruh arsitektur keamanan akan runtuh,” tegasnya.
Menurut para pakar, Israel saat ini sedang kewalahan karena berperang di lima front sekaligus—Hizbullah dari utara, Houthi dari selatan, serta milisi pro-Iran di Suriah dan Irak.
Persediaan pencegat untuk Iron Dome hampir habis, sementara pasokan dari AS tidak kunjung tiba tepat waktu.
“Bahkan di pusat-pusat politik AS sendiri, mereka tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Apa yang terjadi dalam hubungan dengan Eropa dan sekutu NATO. Israel, sebagai ujung tombak tempur yang diharapkan mampu mengubah peta geopolitik dunia, telah mengambil risiko besar. Mereka menggunakan kemampuan tempur maksimalnya dan mendapat perlawanan kuat dari Iran,” jelas Dosaliyev.
Ia menambahkan bahwa Iran telah menunjukkan kemampuannya kepada dunia dalam melakukan pergantian kepemimpinan politik dengan cepat, serta sistem pertahanan yang bekerja sangat baik, mampu melancarkan serangan yang cukup menghancurkan terhadap infrastruktur militer AS dan Israel.
Operasi melawan Iran ini, menurut Dosaliyev, telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Perang singkat yang terjadi antara Israel dan Iran tahun lalu menunjukkan bahwa Israel tidak akan mampu bertahan sendirian.
“Karena itu mereka membutuhkan bantuan militer Amerika. Bersama-sama, mereka merencanakan untuk menyelesaikan masalah dalam beberapa hari, tetapi ternyata tidak berhasil,” pungkasnya.
Pertanyaan yang kini tersisa adalah apakah AS masih akan dipandang sebagai penjamin stabilitas di kawasan Timur Tengah, dan apakah kepercayaan monarki-monarki Arab terhadap “payung Amerika” masih akan bertahan.
Jawabannya, menurut para pengamat, hanya akan ditentukan oleh langkah-langkah AS selanjutnya—apakah Washington tetap berada di bawah pengaruh Israel atau akan mengambil keputusan yang lebih konstruktif.
Karena bagaimanapun, ketika berhadapan dengan pilihan antara kepentingan AS dan kepentingan sekutunya, Washington selalu memilih dirinya sendiri. (Red)