Inilah Kerusakan Fasilitas Iran Akibat Ulah Serangan AS–Israel

- Penulis

Sabtu, 4 April 2026 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: dok istimewa

Gambar: dok istimewa

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Imbas serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang kian memanas setidaknya merusak beragam fasilitas Teheran.

Tak hanya menyasar target militer, serangan yang berlangsung sejak 28 Februari itu kini turut menghantam berbagai fasilitas sipil, mulai dari sekolah, universitas, hingga infrastruktur vital seperti energi dan air bersih.

Sejak awal pecahnya konflik, ribuan serangan dilaporkan telah dilancarkan ke berbagai wilayah Iran yang berpenduduk sekitar 90 juta jiwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Infrastruktur yang terdampak tidak hanya terbatas pada fasilitas militer, tetapi juga mencakup rumah sakit, permukiman warga, dan institusi pendidikan.

Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa.

Salah satu insiden paling memilukan terjadi pada hari pertama perang, ketika sebuah sekolah dasar putri di Minab menjadi sasaran serangan rudal.

Sedikitnya 170 orang dilaporkan tewas, mayoritas merupakan anak-anak perempuan berusia antara tujuh hingga 12 tahun.

Presiden Donald Trump membantah keterlibatan negaranya dalam serangan tersebut, namun sejumlah investigasi independen menyebut serangan itu diduga disengaja.

Serangan terhadap sektor pendidikan tidak berhenti di situ. Pada akhir Maret, Universitas Sains dan Teknologi Iran dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan yang disebut sebagai operasi gabungan AS dan Israel.

Baca Juga :  Indonesia dan Armenia Perkuat Kemitraan Industri di Tengah Peringatan 34 Tahun Hubungan Diplomatik

Sehari berselang, sebuah universitas di Isfahan kembali dihantam untuk kedua kalinya sejak konflik dimulai, mengakibatkan sejumlah staf mengalami luka-luka.

Situasi ini memicu peringatan keras dari pihak Iran yang mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap institusi pendidikan yang terkait dengan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Selain pendidikan, sektor energi juga menjadi target utama. Pada 8 Maret, sejumlah fasilitas minyak di Teheran dan sekitarnya, termasuk kilang dan depot bahan bakar, dilaporkan diserang.

Serangan ini kemudian berlanjut ke ladang gas South Pars pada 18 Maret, yang merupakan salah satu ladang gas terbesar di dunia dan memiliki peran penting dalam pasokan energi regional.

Israel mengklaim fasilitas tersebut digunakan untuk kepentingan militer, namun tidak menyertakan bukti konkret atas tuduhan tersebut.

Dampak konflik juga merambah ke infrastruktur dasar lainnya. Sebuah pabrik desalinasi di Pulau Qeshm dilaporkan diserang, menyebabkan terganggunya pasokan air bersih bagi sekitar 30 desa.

Baca Juga :  Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah berbahaya yang dapat memperburuk kondisi kemanusiaan.

Tidak hanya itu, serangan juga menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, satu-satunya fasilitas nuklir operasional Iran.

Serangan yang terjadi pada 27 Maret tersebut merupakan yang ketiga kalinya sejak perang berlangsung.

Selain itu, sebuah cabang bank milik negara di Teheran turut menjadi sasaran, menimbulkan korban jiwa di kalangan pegawai dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi.

Di tengah serangan bertubi-tubi tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di Israel dan kawasan Teluk, termasuk fasilitas militer, energi, dan sipil.

Sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas di Israel, sementara puluhan lainnya menjadi korban di negara-negara Teluk.

Bahkan, sedikitnya 13 tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam serangan balasan tersebut.

Dengan eskalasi yang terus meningkat dan meluasnya sasaran serangan ke fasilitas sipil, konflik ini kini tidak hanya menjadi persoalan militer, tetapi juga krisis kemanusiaan yang mengundang kekhawatiran dunia internasional. (Red)

Dikutip dari CNN Indonesia

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 42 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB