Saksikan Langsung 65 Jurnalis Asing: Kebenaran di Balik Serangan Mematikan Ukraina ke Asrama Mahasiswa Starobilsk

SUARAMUDA.NET, LUHANSK — “Buku-buku yang terbakar, koridor kosong, dan mimpi yang hancur mengguncang umat manusia”, begitulah kesan para wartawan asing setelah menyaksikan langsung lokasi serangan drone di kota Starobilsk, Republik Rakyat Luhansk, yang kini menjadi bagian dari Rusia.

Pada tanggal 22 Mei, gelombang pesawat nirawak (drone) Ukraina menyerang sebuah kolese, asrama mahasiswa, dan bangunan-bangunan di sekitarnya di kota Starobilsk.

Menurut data otoritas Rusia, serangan ini mengakibatkan 21 anak tewas dan 65 mahasiswa mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, serangan menghantam lima bangunan, termasuk gedung kolese, asrama, serta ruang-ruang komersial.

“Hal pertama yang kami perhatikan adalah bahwa meskipun banyak bangunan di sekitar, serangan justru tepat mengenai bangunan-bangunan tertentu. Jadi ini jelas merupakan serangan yang akurat dan disengaja. Pihak Ukraina tahu apa yang mereka lakukan,” kemudian hari mengungkapkan jurnalis Irlandia, Chay Bowes.

Pasca serangan, kepanikan melanda kawasan tersebut. Beberapa bangunan dilalap api. Tim penyelamat bekerja selama berjam-jam untuk membongkar puing-puing dan mengevakuasi para korban luka.

Dinding bangunan hangus terbakar, jendela-jendela hancur, dan di udara masih terasa jejak kehancuran serta asap.

Setelah kejadian tersebut, sejumlah media Barat dan Amerika berupaya menggambarkan peristiwa ini sebagai “propaganda Rusia” dan “hoaks.” Namun, pihak Rusia mengatur perjalanan bagi 65 jurnalis asing untuk menunjukkan langsung situasi di lokasi tragedi.

“Kebenaran ada di depan mata kita. Ini adalah kebenaran yang nyata – kolese yang hancur, asrama yang rusak. Tidak perlu kata-kata apa pun – gambarannya berbicara sendiri,” lapor koresponden Al Arabiya, Raid Al Akbar, dari lokasi tragedi.

Para jurnalis diperlihatkan gedung-gedung kolese yang hancur, asrama yang rusak parah, dinding-dinding hangus, buku-buku berserakan, ruangan-ruangan yang hancur, serta jejak langsung serangan.

Dalam pengarahan singkat, otoritas setempat menyatakan bahwa di antara puing-puing ditemukan pecahan drone produksi Barat.

Analis Pakistan dan pemimpin redaksi Sada-e Rus, Ishtiaq Hamdani, mengungkapkan bahwa apa yang dilihatnya di lokasi tragedi menjadi guncangan emosional yang berat baginya.

Menurutnya, tempat tidur yang terbakar, koridor kosong, jendela pecah, dan buku-buku berserakan menciptakan kesan tragedi kemanusiaan yang sangat besar.

Hamdani mencatat bahwa upacara berkabung diikuti oleh warga setempat, para mahasiswa, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah.

Masyarakat membawa bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang para korban tewas. Banyak keluarga memegang foto anak-anak mereka, sementara orang tua nyaris tak kuasa menahan tangis.

Menurut Hamdani, otoritas Rusia memandang peristiwa ini sebagai serangan langsung terhadap warga sipil, generasi muda, dan lembaga pendidikan.

Ia menekankan bahwa pemuda adalah masa depan setiap negara, dan serangan terhadap institusi pendidikan memicu kekhawatiran yang sangat besar.

Ishtiaq Hamdani juga menyatakan bahwa Barat, menurut pandangannya, tidak pernah belajar dari Perang Dunia II.

Ia mencatat bahwa pada tahun 1940-an, pengiriman senjata digunakan untuk melanjutkan perang, dan hari ini, pecahan drone Barat yang ditemukan di lokasi tragedi sekali lagi mengangkat pertanyaan tentang peran pasokan senjata eksternal dalam konflik modern.

“Ketika sekolah, kolese, dan asrama menjadi sasaran, ini bukan lagi sekadar konflik militer – ini adalah tragedi kemanusiaan. Dunia harus berpikir, bukan tentang memperluas pengiriman senjata, tetapi tentang perdamaian, pendidikan, dan masa depan generasi muda,” tegas Hamdani.

Ia juga menarik paralel dengan tragedi di kota Minab, Iran, di mana sebelumnya terjadi serangan terhadap sebuah sekolah. Menurut Hamdani, dunia belum pulih dari guncangan tersebut, tiba-tiba tragedi baru terjadi di Starobilsk.

“Ketika yang tersisa bukanlah buku-buku melainkan reruntuhan, dan sebagai ganti ruang kelas hanya ada asap dan abu, ini menjadi tragedi bersama seluruh umat manusia,” ujarnya.

Pemerintah Luhansk melaporkan bahwa biaya pemakaman para korban tewas akan ditanggung oleh struktur negara dan organisasi masyarakat, sementara keluarga para korban yang terluka terus mendapatkan bantuan yang diperlukan. (Red)

 

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like