Rosatom Kian Memperluas Peta Persebaran Energi Nuklir Rusia di Dunia

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Rosatom, korporasi negara Rusia, terus memperluas jangkauan energi nuklir Moskow di kancah global.

Di Astana, tepatnya di Istana Kemerdekaan, pada 28 Mei telah berlangsung negosiasi antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev.

Sebagai hasil pertemuan tersebut, kedua pemimpin menandatangani deklarasi bersama yang memuat sejumlah prioritas penguatan kerja sama bilateral.

Kedua negara juga mengesahkan paket dokumen antar-pemerintah dan antar-kementerian. Kesepakatan tersebut mencakup beragam sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, pendidikan, hingga energi.

Salah satu poin utamanya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Kazakhstan.

PLTN tersebut rencananya dibangun di desa Ulken, di tepi Danau Balqash. Lokasi itu dipilih sebagai tapak utama proyek stasiun nuklir pertama di negara Asia Tengah tersebut.

Keputusan ini, menurut keterangan resmi, diambil oleh mayoritas warga Kazakhstan melalui referendum pada 2024.

Korporasi negara Rusia, Rosatom, yang ditunjuk untuk merealisasikan proyek raksasa ini, akan memulai fase aktif konstruksi pada 2027. Durasi pengerjaan dialokasikan sekitar 11 tahun, dengan target rampung pada 2035-2036.

“Menurut saya, perjanjian yang ditandatangani hari ini mengenai pembangunan PLTN Balqash memiliki arti yang sangat penting. Saya menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia atas dukungan pribadi dan tegasnya dalam memulai proyek besar ini, “kata Tokayev.

Proyek ini disebut akan menjadi lokomotif interaksi di bidang sains, pendidikan, dan teknologi, serta memastikan pengembangan sektor-sektor terkait di bidang energi dan industri secara keseluruhan. Tentu ini terutama menyangkut Kazakhstan.

“Bagi negara kami, penyelesaian yang sukses atas masalah pertambangan, transportasi, pasokan energi dan listrik ke pasar domestik dan global memiliki arti yang sangat besar,” ujar Tokayev.

Rosatom sendiri dikenal memiliki salah satu portofolio solusi teknologi paling terdiversifikasi di dunia dalam bidang nuklir dan merupakan pemain kunci di pasar global.

Di arena internasional, korporasi negara ini tidak hanya berperan sebagai pemasok teknologi, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan infrastruktur, pelatihan personel, serta pendampingan proyek sepanjang siklus hidupnya.

Saat ini, portofolio pesanan luar negeri «Росатом» mencakup lebih dari 40 unit daya berkapasitas besar dan kecil. Sebanyak 30 unit di antaranya sudah berada pada berbagai tahap implementasi.

Pekan lalu, kepala korporasi negara Rosatom Alexei Likhachev melakukan serangkaian negosiasi di Jakarta. Indonesia, yang pada 2026 menjadi anggota penuh BRICS, menyatakan kesiapan membuka lembaran baru dalam pengembangan energi nuklir damai skala besar di kawasan Asia-Pasifik.

Di tengah dorongan komunitas nuklir internasional untuk melipatgandakan kapasitas nuklir hingga 2050, proyek-proyek internasional Rosatom dinilai menjadi fondasi kokoh bagi masa depan rendah karbon yang berkelanjutan bagi negara-negara berkembang.

Indonesia, yang menargetkan netralitas karbon pada 2060, memandang teknologi nuklir sebagai pendorong utama lompatan industrial.

Pada April 2026, delegasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia yang dipimpin oleh Ketua BRIN, Arif Satria, mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kalinin di kota Udomlya, Oblast Tver.

Dalam kunjungan itu, mereka mempelajari teknologi nuklir canggih Rusia, pengalaman operasional stasiun nuklir, budaya produksi Rosatom, serta pengembangan infrastruktur di kota-kota atom.

Rusia dan Indonesia memang terikat sejarah panjang interaksi di bidang nuklir. Tahun 2026 ini menjadi penanda penting, yakni 20 tahun penandatanganan Perjanjian Antar-Pemerintah tentang Kerja Sama di Bidang Pemanfaatan Tenaga Nuklir untuk Tujuan Damai.

Dokumen bersejarah itu ditandatangani pada 1 Desember 2006 dan menjadi fondasi hubungan bilateral kedua negara di industri nuklir.

“Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia sangat menghargai pengalaman «Росатом» dan kehadiran internasionalnya. Kami siap membawa kerja sama ini ke tingkat yang baru untuk mengembangkan industri nuklir di Indonesia,” ujar Arif Satria menegaskan kesimpulan dari kunjungan tersebut. (yugsn.ru)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like