Siapa Paling Untung dari Peperangan AS-Iran?

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 23:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki bulan ketiga mulai dipandang bukan sekadar perang regional di Timur Tengah.

Di balik dentuman rudal, serangan drone, dan manuver kapal perang di Teluk Persia, ada negara lain yang diam-diam mengamati setiap detail peperangan itu: China.

Bagi Beijing, perang ini menjadi semacam “laboratorium militer hidup” untuk membaca bagaimana kekuatan Amerika bekerja dalam perang modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari efektivitas jet tempur siluman hingga kelemahan sistem pertahanan udara AS menghadapi drone murah Iran, semuanya menjadi bahan evaluasi strategis.

Pertanyaannya kemudian, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari perang AS-Iran? Jawabannya mungkin bukan Iran maupun Amerika Serikat, melainkan China.

China Belajar dari Perang Orang Lain

Para analis menilai konflik di Teluk Persia memberi China kesempatan langka untuk mempelajari pola perang modern tanpa harus terlibat langsung.

Beijing dapat melihat bagaimana Washington menggunakan kombinasi F-35, B-2, drone, rudal presisi, hingga sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD dalam kondisi perang nyata.

Di sisi lain, Iran justru menunjukkan bahwa teknologi murah tidak selalu kalah efektif. Drone Shahed dan rudal balistik berbiaya rendah mampu menembus pertahanan mahal milik AS dan sekutunya.

Pelajaran ini penting bagi China yang selama beberapa tahun terakhir memang agresif memperkuat militernya.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) kini memiliki rudal hipersonik, memperbanyak jet tempur siluman J-20, hingga mengembangkan pembom strategis yang disebut mirip B-2 dan B-21 milik Amerika.

Baca Juga :  Delegasi Parlemen Rusia Kunjungi Indonesia, Perkuat Kerja Sama Bilateral dan Bahas Isu Strategis

Namun perang Iran memberi pesan penting: perang modern tidak hanya soal senjata canggih, tetapi juga soal daya tahan, logistik, adaptasi, dan kemampuan bertahan dalam konflik panjang.

Taiwan Jadi Bayang-Bayang Besar

Perang AS-Iran juga langsung dikaitkan dengan potensi konflik China-Taiwan. Banyak analis percaya Beijing sedang mempelajari bagaimana strategi drone murah dan serangan presisi dapat diterapkan jika suatu saat terjadi perang di Selat Taiwan.

China bahkan disebut memiliki kombinasi dua kekuatan sekaligus: teknologi perang presisi ala AS dan produksi drone massal murah seperti Iran.

China saat ini merupakan produsen drone terbesar dunia. Bahkan sejumlah laporan menyebut industri sipil China bisa dialihkan untuk memproduksi drone bersenjata dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat.

Situasi itu membuat Taiwan mulai khawatir. Sistem anti-drone Taiwan dinilai masih lemah dan berpotensi menjadi celah serius jika terjadi perang besar.

Namun Amerika Serikat juga tidak tinggal diam. Washington diyakini sedang menyiapkan strategi perang asimetris di Pasifik, termasuk penggunaan ribuan drone udara, laut, dan bawah laut untuk menghambat pergerakan armada China di Selat Taiwan.

Dalam konteks ini, perang Iran menjadi simulasi tidak langsung bagi dua kekuatan besar dunia.

Pengalaman Tempur Jadi Pembeda

Meski China terus memperkuat teknologi militernya, ada satu kelemahan yang terus disorot para analis: minim pengalaman perang nyata.

PLA terakhir kali terlibat perang besar pada konflik melawan Vietnam tahun 1979. Sebaliknya, militer AS memiliki pengalaman panjang dari Irak, Afghanistan, Kosovo, hingga operasi-operasi di Timur Tengah.

Baca Juga :  Media Global Diundang ke Festival Pemuda Internasional 2026 di Yekaterinburg – Pendaftaran Akreditasi Ditutup 17 Juli

Perang Iran kembali memperlihatkan pentingnya pengalaman tempur. Amerika mampu mengubah strategi secara cepat, mulai dari serangan udara besar hingga blokade pelabuhan dan perlindungan aset vital setelah mengalami kerugian di lapangan

Banyak analis meragukan apakah China mampu beradaptasi secepat itu jika benar-benar menghadapi perang besar.

Pelajaran lama dari Perang Korea kembali relevan: pilot berpengalaman dengan pesawat biasa sering kali lebih efektif dibanding pilot biasa dengan teknologi paling mutakhir.

Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Iran mungkin berhasil menunjukkan daya tahan dan kemampuan perang asimetrisnya. Amerika Serikat tetap memperlihatkan dominasi teknologi dan kekuatan militernya. Namun pihak yang paling banyak menyerap pelajaran strategis justru China.

Beijing bisa mempelajari kelemahan pertahanan AS, efektivitas drone murah, pola perang modern, hingga dampak ekonomi global akibat konflik di jalur energi dunia seperti Selat Hormuz.

Di sisi lain, perang ini juga menjadi peringatan bagi China sendiri. Kemenangan militer tidak selalu berarti kemenangan politik.

Iran membuktikan bahwa tekanan militer besar belum tentu mampu menjatuhkan rezim atau menghasilkan stabilitas jangka panjang.

Karena itu, perang AS-Iran bukan hanya soal Timur Tengah. Konflik ini perlahan berubah menjadi panggung pembelajaran global tentang masa depan peperangan dunia.

Dan di balik asap perang tersebut, China tampaknya sedang mencatat semuanya dengan sangat serius. (Red)

Data: CNBC Indonesia
Foto: Kolase Trump, X Jinping dan Mojtaba Khamenei. (Istimewa)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB